Tips

Tips berkomunikasi bahasa Inggris di negeri orang

Mungkin, bagi orang yang mau berangkat sekolah di luar negeri, salah satu yang membuat khawatir adalah soal komunikasi. Apalagi yang skor TOEFL-nya paaas banget ya, di ambang batas syarat pendaftaran, itu juga dicapai setelah ribuan kali mencoba, tentulah cemas bagaimana bisa survive di sana nanti.

Itu juga yang aku rasakan dulu.

Bagaimana kalau aku tidak mengerti apa yang dijelaskan profesor di kelas? Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa bergaul dengan teman2 gara2 kesulitan bahasa? Bagaimana kalau aku salah mengerti informasi penting soal tugas, apa yang harus dilakukan saat praktikum, atau yang paling parah, soal ujian? Apalagi setelah cari info dari yang kuliah di Belgia, sistem ujian di sini adalah oral. Yak, maju 1-1 face to face sama profesor. Oh oh, semakin panik lah waktu itu. Belum lagi memikirkan kalau harus presentasi dan mendapat banyak tanggapan atau pertanyaan. Bagaimana kalau aku tidak menangkap apa yang mereka tanyakan? Kalau daily conversation saja belum fasih, lalu bagaimana kalau harus bicara dengan bahasa yang formal?

Tidak seperti USAID yang memberi kursus intensif bahasa Inggris, beasiswa dari VLIR tidak memberi persiapan apapun soal bahasa. VLIR tidak punya perwakilan di Indo. Jadi tidak ada briefing2an mengenai kondisi di sana. Tidak ada pemberitahuan bakal berangkat sama siapa barengannya. Tidak tahu apakah bakal punya teman sekelas orang Indo.  Tambah khawatir? Tentunya. Berasa sendiri.

Alhamdulillah. Ternyata aku punya 2 teman sekelas yang orang Indo. Yang setahu aku, sepanjang sejarah, ini sepertinya merupakan kejadian luar biasa ada 3 orang Indo dalam 1 kelas. Di Belgia, pelajar Indo tidak sebanyak di Belanda, yang bisa jadi dalam 1 kelas ada 16 orang Indo. Di sini bisa ada 2 orang Indo sekelas saja jarang. Allah maha baik. Allah maha tahu, bahwa bahasa Inggrisku pas2an :). Dengan adanya orang Indo lain di kelas, tentunya membantu sekali ya, terutama di awal2, waktu belum terbiasa dengan aksen bahasa Inggris bangsa lain, untuk mengkonfirmasi, kalau ada pengumuman misalnya, apakah yang aku pahami benar atau tidak.

Fakta2 yang kutemui di sini (subjektif sekali jadinya ya, menurutku sih, kebanyakan):

  1. Orang Flemish (orang Belgia yang berbahasa Belanda) dan orang Belanda, ngomongnya cenderung jelas. Mungkin karena pelafalan alfabet kita hampir sama. A dibaca ‘a’, bukan ‘ei’. E dibaca ‘e’, bukan ‘i’, dst.
  2. Orang Walloon (orang Belgia yang berbahasa Perancis) dan orang Perancis, ngomongnya ya aku dengernya sih logat Perancisnya kental sekali. Sengau2 gitu. Dan, tidak seperti orang Flemish, ternyata kebanyakan orang Walloon tidak lancar berbahasa Inggris.
  3. Orang Amerika Latin, bahasa Inggrisnya bagus, lancar. Cenderung jelas. Mungkin karena pelafalan alfabet kita juga hampir sama.
  4. Orang Afrika, ini nih yang paling susah dimengerti. Walau bahasa Inggris mereka bagus, banyak dipuji2 sana sini (ya iyalah, wong itu bahasa nasional untuk kebanyakan negara2 Afrika), tapi menurutku aksennya itu, dan ngomongnya cepat banget. Misalnya, bilang ‘water’ di telingaku dengarnya ‘wata’, bilang ‘they’ aku dengarnya ‘zei’.
  5. Orang Vietnam, parah juga. Kalau ini yang bilang bukan cuma aku, aku dengar dari beberapa orang berbagai bangsa, bahasa Inggris orang Vietnam susah dimengerti. Sudah gitu, alfabet mereka aneh menurutku. Misalnya nih, temanku namanya tertulis Duong. Tapi aku dengarnya dia sebut namanya sendiri  ‘Zeung’. Ada juga, tulisannya Trung. Tapi yang terdengar adalah ‘Chung’. Thuy terdengar ‘Cwi’. Mumet, mumet dah.
  6. Orang China, ngomongnya lambat, mungkin sambil mikir bahasa Inggrisnya apa ya. Orang2 bilang susah dimengerti, tapi karena dia ngomongnya pelan, walau agak susah , aku bisa mengerti.
  7. Orang Canada, lumayan jelas. Aksennya cenderung bergaya Amerika. Yang sudah terbiasa nonton film2 Holywood mestinya gampang mencerna.
  8. Orang Yunani, lumayan jelas juga. Kecepatan ngomongnya juga sedengan.
  9. Orang Jerman, lumayan jelas, tapi mungkin pemilihan kata2nya dan gaya berbahasanya dalam mengungkapkan sesuatu kadang susah dimengerti.
  10. Orang Timur Tengah, lumayan jelas juga.
  11. Orang Cheko, yang aksen Cheko-nya medok cenderung agak susah ditangkap, tapi yang jago bahasa Inggris ya lumayan mudah dimengerti.
  12. Orang India dan Bangladesh, ngomongnya cepat. Agak susah ditangkap.
  13. Orang Inggris, lebih sengau, aksennya entah kenapa terkesan ningrat. Kalau dibanding orang Belanda ya jelasan orang Belanda.
  14. Orang Indo, katanya niiih, walau kecepatan ngomongnya cenderung lambat :D, tapi jelas pengucapannya :). Dan bahasanya sederhana, karena keterbatasan pengetahuan kosakata kalii :P.. tapi untuk komunikasi lisan mudah dimengerti. Cuma kalau tulisan… eerrrr.. berdasarkan pengalaman pribadi, thesisku mendapat banyaaaaakkkk sekali comments soal kesalahan grammar, dan penyusunan kalimat yang tidak lazim.. Bahkan si supervisor jujur sekali bilangnya, ‘bahasa Inggris kamu tidak bagus’ *glekk*, pakai acara nanya, ‘memang grammarnya bahasa Indonesia beda banget ya sama bahasa Inggris?’. *capek deh*

Tips2 dari aku:

  1. Sebisa mungkin, kalau rencana mau berangkat, dari Indo bekali dengan persiapan sematang2nya soal bahasa ini. Beberapa bulan sebelumnya, biasakan membaca jurnal, menulis tulisan formal, nonton tayangan berbahasa Inggris tanpa teks, dan ngobrol bahasa Inggris sama orang non-Indo. Jadi, kalau bikin tugas tidak perlu makan waktu lama untuk mikir penyusunan kalimat dalam bahasa Inggrisnya.
  2. Banyak bergaul sama orang non-Indo. Cari tempat tinggal bareng orang non-Indo. Kalau di kelas ada teman Indo, jangan duduk sebelahan terus. Aku sendiri kalau mesti kelompokan tugas, cari orang non-Indo. Kalau enggak bahasa Inggrisku tidak maju2.
  3. Paksakan ngomong walau awalnya susah. Tidak usah pikirkan grammar. Tidak usah mikir ini past tense atau present atau future perfect continuous. Selama orang yang kita ajak ngobrol nyambung, berarti dia bisa mengerti maksud kita kan. Kalau mereka bolak balik bilang ‘pardon?’ or ‘would you please repeat?’, biar sampai >3x juga, jangan desperado dan merasa bahasa Inggris kita jelek banget, walau kenyataannya memang demikian. Berusaha terus, jelaskan lagi, sampai orangnya mengerti.
  4. Sebaliknya kalau kitanya yang bolak balik dijelasin tidak mengerti2, tanya saja terus sampai mengerti. Jangan pura2 mengerti. Yang ada rugi sendiri, apalagi kalau informasi yang kita perlukan itu penting. Misalnya pas nanya arah jalan. Orang2 di sini aku perhatikan juga begitu. Tidak gengsian untuk minta ulangi jelaskan lagi dan lagi kalau belum menangkap maksud yang disampaikan. Apalagi kalau urusannya ujian. Kalau lagi oral exam dan profesornya nanya, dan kita tidak mengerti pertanyaannya, minta diulangi saja. Jangan berasumsi lalu jawab ngalor ngidul. Aku sendiri, kalau sama profesor (yang promotor thesis) kadang malu juga sih, apalagi kalau sudah 2x dijelasin belum ngerti juga. Tapi aku konfirmasi ke supervisor. Kalau sama dia mah, biar sampai 3x suruh ulangi juga, paling dia narik napas dalam2 sambil cengar-cengir (istighfar kali, atau mikir ini orang dudul banget :P). Cuek saja lah, pikirkan, akan lebih rugi lagi kalau aku pura2 ngerti apa yang dia minta aku untuk mengerjakannya. Selama dia masih mau jelasin ya gak apa2 kan. Kecuali kalau dia sudah kesal terus marahin kita. Hmmm. Belum pernah sih sampai begitu (dan jangan sampai ya..). Tapi kalau masalahnya soal kita susah nangkap kata2 yang dia ucapkan, mending direkam saja, jadi di rumah bisa didengar berulang2.
  5. Perbanyak keluar rumah, dengar orang ngobrol di jalan, di bis, di supermarket, di kereta.. Lama2 kita bakal terbiasa dengar logat setempat. Juga cara mereka mengekspresikan sesuatu. Tanya2 atau ngobrol saja sama mereka, misalnya kalau lagi di halte nunggu bis, atau sama orang sebelah pas lagi naik kereta. Jangankan bahasa Inggris, tanpa perlu belajar bahasa Belanda saja misalnya, kalau tinggal di sini lama2 dan lihatin serta dengar orang2 berbicara, lama2 ngerti sendiri kok. Ingat kayak bayi saja, dia bisa ngomong karena banyak mendengar orang2 di sekelilingnya bicara.
  6. Sering2 ngobrol dengan orang berbagai bangsa. Lama2 juga kita terbiasa kok. Bahkan sekarang nih, misalnya, ketika simcard hpku bermasalah, dan aku menelfon call center, aku bisa menebak bahwa yang menerima telfon di ujung sana itu orang Afrika. Bukan cuma itu saja, dari aksennya, aku bisa mengira2 apakah dia dari Zambia atau Uganda atau Kenya.

Ini bukan berarti bahasa Inggrisku sekarang sudah fasih ya, tapi setidaknya ya ada peningkatan lah ya, dibandingin 2 tahun yang lalu :).

Ok, good luck! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s