Kuliah · Tips

Tips manajemen waktu untuk pelajar di luar negeri

Jadi pelajar perantau, apalagi di luar negeri merupakan tantangan tersendiri dalam membagi waktu antara kuliah, mengerjakan tugas dan mengurus keperluan diri sendiri seperti: belanja, masak, dan tanggung jawab sebagai penghuni kamar di suatu lingkungan. Makanya harus pandai2 mengatur waktu kalau mau semua tugas2 beres, lulus ujian dan badan tetap sehat.

Kuliah di Belgia membuatku belajar hal dasar yang sangat penting untuk menjalani semua itu: punya jadwal dan disiplin menerapkannya. Punya buku agenda itu wajib. Catat semua hal2 yang harus kita lakukan, tugas2, deadline pengumpulan tugas, apa2 yang harus kita lakukan.

Aku sendiri, selain punya agenda selalu tulis jadwal bulanan dan mingguan di kertas A4 yang kutempel di dinding atas meja belajar. Tujuannya tentu supaya sering terlihat.ย Well, jadwal bulanan tidak kupajang sih, ditaruh di map saja, atau di laci. Jadwal bulanan misalnya kapan bayar sewa kamar, kapan ketemu profesor/supervisor, kapan nyuci baju yang biasanya kulakukan 1 bulan 1x, kapan beli koin laundry, jadwal giliran buang sampah, kapan deadline tugas kuliah ini itu, jadwal presentasi, dll, semua ditulis. Atau kupajang kalau mendekati jadwal ujian dan pengumpulan tugas misalnya, biar aku bisa lihat, seberapa jauh lagi aku masih punya waktu.

Belajar disiplin

Selanjutnya jadwal ‘kasar’ bulanan aku break down lagi jadi jadwal mingguan dan harian, dan kubagi lagi jadi morning, afternoon dan evening. Jadwal ini lebih detail. Aku tulis semua rencana kegiatanku seminggu sampai sedetil2nya. Kapan belanja, masak, beli koin laundry, nyuci baju, refreshing (jadwal bebas bisa aku pakai buat nonton film, ceramah agama atau tontonan motivasi di youtube, misalnya), skypean sama keluarga, nyapu ngepel kamar, nyuci pakaian dalam, dll.

Kalau di jadwal bulanan cuma ada deadline pengumpulan tugas, di jadwal mingguan aku tulis lebih spesifik, misalnya, hari senin jam 8 malam jadwalku mengerjakan hitung2an tugas X, selasa jam 1 siang diketik, selasa jam 12 malam sudah harus diprint, untuk dikumpulkan hari kamis pagi. Semua terjadwal. Tentunya tidak jarang juga melesat ya, tapi aku selalu sedia waktu lebih untuk jaga2 kalau2 ada hambatan gitu. Tidak seperti masak yang bisa dikira2 lamanya, misal 1-2 jam, mengerjakan tugas kan banyak ketidakpastiannya. Bisa saja kita mengira2 menghitung sesuatu akan selesai dalam 3 jam. Tapi kenyataannya, hasilnya kok tidak ketemu2, bingung cara mengerjakannya, akhirnya perlu tanya teman, buntutnya bisa jadi selesainya lebih dari 1 hari. Ya akhirnya harus ada jadwal lain yang dikorbankan. Sebagai pelajar, tentunya mengumpulkan tugas tepat waktu adalah hal utama. Jadi ya bisa jadi kalau molor gitu jadwal yang tidak terlalu mendesak bisa direschedule.

Jadi di akhir minggu, aku tulis rencanaku seminggu depan.

Yang paling penting tentunya adalah disiplin. Percuma saja bikin jadwal kalau tidak ditepati. Punya tekad yang kuat untuk mematuhi, bisa dengan membayangkan betapa stressnya kalau kita jadwalkan menyelesaikan tugas mepet sehari sebelum deadline. Kalau tidak selesai bisa terancam tidak lulus. Belum lagi kendala2 di luar dugaan misalnya rencana mau ngeprint tengah malam untuk dikumpul besok ternyata tinta printernya habis. Padahal deadline pengumpulan jam 9 pagi esoknya. Memangnya di Indo yang ada tempat ngeprint buka 24 jam. Lha wong hari sabtu saja bisa jadi cuma 1-2 tempat ngeprint di suatu kota yang buka dan jam bukanya pun terbatas dari jam 11 siang sampai jam 5 sore.

Belanja dan masak menempati urutan kedua dalam pentingnya untuk diatur jadwalnya. Belanja tidak bisa banyak2 karena kita kan naiknya sepeda atau bis. Jadi kemampuan bawa belanjaan banyak juga terbatas. Kadang rasanya sudah beli banyak, tapi bahan2 sudah habis dalam 2-3 hari. Kalau di Indo mungkin kita biasa belanja langsung untuk sebulan karena bisa diangkut di mobil atau bisa naik taksi. Lalu, tidak seperti di Indo yang banyak warung jajan murah meriah sehingga 7 hari seminggu 24 jam sehari tidak usah takut kelaparan. Di sini kalau mau makan ya harus masak. Kalau mau jajan ya siap2 boros. Lagipula variasi makanannya tidak banyak. Dan masak sendiri bagi yang tidak terbiasa tentunya tidak gampang. Ternyata untuk dimakan selama 15 menit, persiapannya bisa jadi 2 jam. Maka penting juga punya berbagai alternatif masakan simpel, agar jangan sampai kita boros waktu untuk masak. Bisa dilihat di menu ide masakan.

Maka itu pintar2 curi waktu buat belanja. Misalnya sekalian pas pulang dari kampus. Sambil di bis perjalanan ke supermarket, sambil nyatet mau belanja apa saja, jadi pas sampai supermarket gak kelamaan mikir. Sambil di kereta, sambil mikir sampai rumah mau masak apa. Masak juga gitu, mesti pintar2 cari celah dan gerak cepat. Misal, sambil ngerebus air buat masak sup, sambil siapin bumbu2 dan potong2 sayurannya. Sambil nunggu sup matang, sambil goreng2 tahu, sambil nunggu nasi matang, sambil beberes dan cuci alat masak lainnya. Ini perlu latihan sih lama2 juga otak terbiasa mikir kalau mau bikin ini itu apa2 dulu yang mesti dilakukan biar hemat waktu dan efektif.

Sudah jauh2 ke luar negeri, banyak yang dikorbankan untuk ditinggal, misalnya keluarga. Maka penting punya niat dan tekad yang kuat untuk disiplin supaya semua jalan. Misalnya, mengorbankan sabtu minggu buat bikin tugas.

Dulu aku punya 30 kredit dalam 1 semester. Enam mata kuliah. Yang masing2 tugasnya seabrek. Kuliah setiap hari. Kadang (kuliahnya saja) 3 jam kadang 6 jam. Biasanya dari jam 9-12, dan jam 13-16. Belum lagi kalau ada kuliah yang perlu asistensi. Belum lagi kalau kuliahnya di luar kota, karena programku kan join 2 universitas. Bisa habis 3-4 jam di jalan pp. Semester 1 dan 2 seminggu cuma 1x ke luar kota. Semester 3, 3x dalam seminggu. Sampai kamar sudah lelah. Mesti masak. Malam setelah makan waktunya mengerjakan tugas. Sampai dini hari. Begitu setiap hari.

Lupakan weekend. Sabtu minggu adalah waktu extra untuk mengerjakan tugas. Dan mengerjakan pekerjaan rumah macam nyuci baju, nyapu, ngepel, bebersih kamar, buang sampah, masak agak banyak, skypean.

Yah sesekali bersosialisasi perlu juga. Apalagi kalau sudah sumpek berat. Supaya jiwa tetap sehat. Misalnya kalau ada acara2 kumpul orang Indo. Pengajian. Acara di KBRI. Ketemu orang, ngobrol. Perbaikan gizi.

Untuk orang yang belum menikah, mungkin lebih sering kumpul sama teman. Tapi kalau kayak aku kan mesti bagi waktu juga skypean sama suami, sama anak, yang terpisah. Capek jelas. Keteteran tentu pada awal2nya, bikin stress. Tapi insya Allah dengan bikin jadwal teratur begini, tidak ada hal2 penting yang sampai terlewat.

Pintar2 juga curi2 waktu. Misalnya, dari rumah bawa sarapan roti, makan di kereta atau di kelas. Atau sambil makan sambil cek dan balas2 email. Sambil ngobrol di skype sambil potong kuku, bersihin kuping atau sambil bayar kamar lewat internet banking, atau sambil beberes meja atau sambil makan. Sambil nungguin baju di laundry sambil baca2 paper.

Sekali merengkuh dayung 2-3 pulau terlampaui gitu kira2, Mas.

Memang aku tahu laki2 tidak jago mengerjakan sesuatu bercabang2 seperti perempuan. Tapi latihan mestinya bisa membentuk kebiasaan. Well, at least, cobalah tipsku soal jadwal itu, sehingga tidak ada hal penting terlewat.

Good luck!

Advertisements

5 thoughts on “Tips manajemen waktu untuk pelajar di luar negeri

  1. kecerdasan biasanya sudah bawaan.. kalau dasarnya kurang cerdas memang agak susah ๐Ÿ˜› .. siasatnya ya mesti tekun, kerja keras dan kerja cerdas.. rela belajar berkali2 lipat lebih keras dan lebih lama untuk mendapat nilai yang tidak lebih tinggi dari orang2 pintar yang belajarnya sebentar dan santai.. sing penting lulus ๐Ÿ˜€ nantikan di tips2 berikutnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s