Day Dreaming on My River

Saya pernah punya mimpi tentang sungai yang bersih. Saat memancing banyak ikan dan bisa dimakan ketika dirumah. Air sungai yang bersih menjadi dambaan bukan hanya bagi saya tapi menjadi impian bagi masyarakat.

Kehidupan berawal dari air, masyarakat purba selalu tinggal dekat dengan sumber air. Disanalah masyarakat memulai peradaban dan perkembangan peradaban membuat orang semakin maju dan modern,

Harapan itu saat ini sangatlah sulit diwujudkan, setelah melihat sungai menjadi coklat, menjadi biru menjadi kuning menjadi hitam. Pabrik2 tekstil yang menjadi tempat masyarakat bekerja tidak mengikuti aturan buangan karena alasan biaya yang tinggi.

Sistem buangan air perumahan pun masuk kesungai, menambah kotornya sungai, dan lebih parahnya, masyarakatpun seperti biasa menggunakan air ini untuk MCK.

Kenyataan ini masih terjadi di negeri saya, hingga saat ini. Saya tidak pernah malu mengakuinya. Kenyataan bahwa kami yang diberi pengetahuan dan kesadaran harus bekerja ekstra keras mengubah hal-hal demikian.

Mengubah lingkungan saya kira tidak sulit, apalagi pengetahuan dan teknologi sudah tersedia. Rencana dan detil perencanaan sangat mungkin dibuat walaupun dalam skala yang besar memerlukan perhatian yang dalam.

Ada satu yang menjadi ganjalan nya,mengubah cara berpikir dan menjadikannya sebagai sesuatu yang berkelanjutan. Seperti menanam bibit dan secara berkelanjutan dirawat dan diberi pupuk dan air sehingga tumbuh dan besar menjadi tanaman yang bermanfaat. Setelah  Menjadi besar sebagian is buahnya diambil sebagian kecil untuk ditanam menjadi penerusnya.

Mengubah karakter dan kebiasaan saya lihat menjadi tantangan paling berat bagi para perencana. Setiap program sungai bersih menjadi seperti kalil kecil untuk menarik ikan besar. Seperti buih di lautan. Nyaris kecil pengaruhnya.

Program sungai bersih menjadi mentah tatkala lingkup yang diubah terlalu kecil skalanya. Sungai melintasi banyak wilayah administratif sehingga tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara biasa dalam jalur birokrasi administratif. Perlu “Breakthrough” berupa program powerful yang ditangani oleh pusat dengan mengerahkan partisipasi yang besar dari masyarakat. Pertanyaan kemudian menjadi 2 hal yaitu apakah apakah masyarakat bisa diubah dengan mudah dalam waktu instan?

Dalam buku sustainable engineering, selalu kita mencari hal mendasar kesimbangan antara efek2 usaha dalam industri dengan usaha untuk mengurangi efek-efek negatifnya.

Saya ingat dengan teori Zero Waste, artinya dalam lingkup kecil sekalipun kita bisa mengurangi  sampah dan kotoran. Sampah dan buangan dapat diolah sehingga menjadi aman terhadap lingkungan.  Buangan air sabun dapat disebut dengan gray water dapat diolah menjadi air yang bersih untuk flushing dan dapat memanfaatkan tanaman air sebagai media.

Sampah dan buangan padat dapat diubah menjadi penyubur tanaman. semuanya tergantung dari kemauan dan pengetahuan. Semua harus mandiri mengelola buangannya, dalam ingkup terkecil sekalipun agar tidak mencemari sungai lagi.

Menghargai air menjadi bagian dari bagian dari upaya kita membangun citra diri sebagai masyarakat yang modern, berbudaya dan melestarikan lingkungan.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Yudha and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s