Adaptasi (lagi) menjadi ibu

Bagaimana rasanya 2 tahun melepaskan diri dari tanggung jawab menjadi ibu, dan kemudian kembali lagi? Menurutku seperti ibu yang baru melahirkan. Sebelum lahir dinanti2… begitu lahir, senang. Tapi juga diikuti kelelahan fisik dan emosi yang mengakibatkan stress. Makanya sampai ada sindrom baby blues.

Begitu pula dengan aku. Waktu mau pulang dari Belgia, rasanya tidak sabar ingin segera bertemu Saskia. Setelah bertemu apakah kemudian senang? Ya, tentu saja! Tapi tidak lama setelah itu, setelah berminggu2 merasakan sendiri merawat anak tanpa bantuan pengasuh, ternyata lebih melelahkan daripada bekerja di kantor. Bangun pagi harus mikir nanti anak2 makan apa pagi-siang sorenya. Terus belanja, mencuci botol susu dilanjut merebusnya, merebus air buat mandi Saskia, memandikan (pagi), memakaikan baju, mendandani, menyuapi sarapan, mencuci baju, masak, menyuapi makan siang, menyetrika, menemani main, ngeloni tidur siang, memandikan (sore), menyuapi makan sore, membacakan cerita sebelum tidur, dll. Di sela2 itu, jangan lupa bahwa dalam sehari semalam Saskia bisa minta dibuatkan minum susu sampai 10 kali, minta pipis bolak balik, BAB (yang mana kalau lagi BAB selalu minta ditemani), dan melayani permintaan2nya. Itu baru untuk urusan Saskia saja ya.

Tantangan selanjutnya yang menguras tenaga dan emosi adalah menghadapi kelakuannya. Waktu aku di Belgia, seorang teman bilang, bahwa anak dari bayi sampai 2 tahun itu lagi lucu2nya. Setelah itu? Dia akan menjadi anak yang sangat menyebalkan. Waktu itu aku cuma tertawa. Baru sekarang deh aku mengerti. Entah sifat asli ataukah memang karakter anak usia segini memang begitu, yang pasti hal itu bikin aku kewalahan. Rewel, sedikit2 menangis, teriak2, keras kepala, susah diatur, jempalitan, ceriwis, semaunya sendiri, susah makan, tidurnya larut malam. Dan ini bukan hanya mengurusi 1 anak 2.5 tahun, Alhamdulillah, sama Allah ditambah amanah untuk mengurusi Areta, si 5.5 tahun.

Hal lain, lupakan target dalam bekerja di rumah. Baru mau melakukan sesuatu, Saskia dan Areta minta inilah itulah. Macam2. Ya minta susu, minta kue, mau pipis, mau BAB, minta jambu, minta vitamin C, minta coklat, minta kacang, minta kerupuk, minta nonton TV, minta ambil ini itu, minta ditemani main, minta dibedakin karena gatal2, minta dikasih Vicks karena bentol digigit nyamuk, dll.

Lupakan juga kesempurnaan dalam kerapihan. Lagi beberes barang, mereka nimbrung. Katanya mau bantuin supaya aku tidak capek. Yang ada malah tambah berantakan dan kerjaanku tidak selesai2. Lalu baju2 Saskia sudah ditata rapih2 di lemari, eh sekarang kan Saskia maunya pilih dan ambil baju sendiri. Jadi yaa bagaimana ya maklum saja kalau tangan2 mungil itu belum bisa mengambil baju tanpa memberantakan susunannya. Bersama Areta juga Saskia suka main coba2 baju bagus, main masak2an, main rumah2an, main jual2an, main mbok jamu-mbok jamuan, salon2an, puzzle, dll, di ruang keluarga… Ruangan sudah seperti kapal pecah deh… selesai main disuruh beresin tidak mau. Ya kalau ini mah aku pikir karena selama 2 tahunan ini selalu ada baby sitter yang siap membereskan semuanya. Tapi sekarang, tidak.

Siapkan kesabaran ekstra juga untuk urusan makan. Saskia ini sekali makan bisa 1-2 jam. Kalau sarapan jam 7 pagi bisa selesai jam 9. Makan siang dari jam 12 bisa baru selesai jam 13.30. Makan sore jam 16.30 bisa jadi baru selesai jam 18.30. Dan karena kebiasaannya dulu makan sambil jalan2 atau naik sepeda kalau pagi dan sore, dan sambil main di rumah saja kalau siang, alhasil aturan baruku untuk makan di meja makan susah sekali diterapkan. Yang ada mereka tetap jempalitan sambil main, lari2 di dalam rumah, ngomong tanpa henti, dan teriak2. Aku jadi ikut teriak2 juga. Makannya juga mulai pilih2. Mending kalau minta ini dikasih ini terus dimakan. Sekarang, kadang dikasih sop, minta tempe pakai kecap, terus langsung deh digorengin tempe, eeeh tidak mau, pada akhirnya minta makan nasi pakai garam saja.

Belum lagi kalau mereka berantem, ribut dan akhirnya nangis semua.. dan kenakalan anak2 lainnya.. Oalaah, pantas saja surga ada di bawah telapak kaki ibu ya.

Langsung deh cari2 info di internet soal menghadapi anak2 begitu… Tapi kebanyakan tips2nya teoritis, jadi bingung penerapannya bagaimana ya… aku kan butuh tindakan real-nya. Teringat Nanny 911, tayangan di Metro tv dulu tentang menghadapi kenakalan anak2 begini. Dulu jaman masih belum punya anak pernah lihat bukunya di Gramedia, sekarang kucari2 di tokonya tidak ada stok… kutanya petugasnya ternyata di seluruh Indo hanya ada 1 stok dan itu pun di Jakarta.. kucari di online shopnya juga tidak ada. Ternyata buku itu laris manis ya.

Btw, beberapa tips dari Nanny 911 yang berhasil kuterapkan untuk Saskia dan Areta kutulis di tulisan terpisah ya.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Erin and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Adaptasi (lagi) menjadi ibu

  1. christanto says:

    salute mamma sas, sudah mampu melalui saat2 yang sulit, semoga usahanya berhasil, 🙂 , tapi keefektifan cara 911 itu bagaimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s