Tips menghadapi anak susah diatur

Ya akhirnya walau aku tidak bisa mendapatkan buku Nanny 911, ada Google preview-nya kan walau tidak komplit, tapi lumayan lah.. aku bisa mendapatkan beberapa hal2 penting dan tips yang langsung bisa kuterapkan.

Jadi, kalau di rumah ada lebih dari 1 anak, dalam hal ini kan ada Saskia dan Areta, taklukkan dulu jendralnya. Percuma saja menerapkan pada Saskia kalau Areta belum ditaklukkan. Karena anak yang lebih kecil cenderung menurut dan mengikuti kelakuan anak yang lebih besar daripada sama orang tuanya. So, tantangan pertama adalah menaklukkan Areta. Bukan perkara mudah karena dia anak broken home, dan sudah 4 tahun banyak dididik sama pembantu.

Niatku ingin lebih mengajarkan kedisiplinan, kepatuhan, tanggung jawab, mengenalkan aturan dan konsekuensi dari perbuatan nakal. Targetku, setidaknya untuk langkah awal mereka bisa dan mau: membereskan mainannya sendiri, makan sendiri sambil duduk di kursi makan sampai selesai, tidak berteriak dan menangis jika keinginannya tidak terpenuhi, dan lebih menurut jika dikasih tahu orang tua.

Maka mengenalkan aturan harus dari awal. Ada beberapa aturan yang aku berlakukan untuk mereka. Misalnya waktu itu dalam suasana santai aku bilang, ‘sekarang kita punya aturan ya, kalau habis main dibereskan kembali seperti semula… jika tidak, maka Mamma akan taruh mainan yang tidak dibereskan ke dalam kardus, dan akan Mamma simpan selama 1 minggu.. jadi selama 1 minggu kalian tidak bisa main mainan itu.’

Tadinya mereka membangkang dan mungkin meremehkan serta meragukan bahwa itu benar2 akan diterapkan. Ketika aku suruh membereskan, mereka langsung bilang tidak mau. Lalu aku ambil kardus di gudang, dan aku bilang, ‘Mamma akan hitung sampai 10, jika belum dibereskan juga maka Mamma yang akan bereskan, tapi Mamma taruh di kardus ini dan kalian tidak akan bisa main mainan ini selama 1 minggu.’ Waktu itu mereka lagi suka main puzzle dan masak2an. Areta masih senyum2 dengan tenang dan bilang tidak mau. Sementara Saskia seperti menunggu apakah aku benar2 akan melakukan apa yang kukatakan.

Begitu hitungan sampai 10 selesai, tanpa banyak bicara, aku pun langsung memasukkan mainan2 yang berserakan itu ke dalam kardus. Saskia pun sadar bahwa aku serius. Dia mulai rewel. Dia tidak ingin kehilangan mainan2nya selama seminggu. Jadi Saskia sebenarnya ingin membereskan tapi Areta tidak mau bantu, padahal mainnya berdua. Tapi aturan harus diterapkan dengan adil. Maka aku bilang, ‘kalau Saskia mau beresin, Saskia tetap boleh main, tapi Mamma akan catat, selama seminggu Areta tidak boleh main masak2an dan puzzle.’ Penerapan aturan ini berjalan relatif mulus. Walau sempat ada drama2 juga di awal2, misalnya kalau malam mereka sudah mengantuk dan inginnya cepat2 gosok gigi , cuci kaki tangan, ganti baju lalu tidur…. Sedangkan mainan masih berantakan. Alhasil kalau disuruh beresin suka tidak mau, dan kalau aku mulai mengambil kardus, Saskia menangis dan marah2… dia mau beresin tapi sudah mengantuk. Jadinya beresin tapi sambil nangis dan mengambek. Maka triknya adalah, ingatkan mereka untuk selesai main dan segera membereskan sebelum mengantuk.

Aku kaget juga, walau awalnya agak susah dan butuh waktu agak lama untuk menyuruh mereka mau membereskan, aturan ini ternyata berjalan sangat efektif di kemudian hari. Cuma ya mesti sabar ya, dan konsekuen sama aturan. Kalau anak2 melihat keseriusan kita dalam menerapkan aturan mereka juga akan ikut aturan. Alhamdulillah sekarang tanpa disuruh pun mereka mau membereskan mainan setelah main.

Untuk soal makan, tadinya mereka berdua biasa makan sambil berjalan2 di luar rumah, atau sambil main sepeda, atau sambil main apa saja di dalam rumah. Salut sama baby sitternya dulu yang sabar banget menyuapi Saskia sampai 2 jam sekali makan, sampai Saskia gendut gitu. Jujur saja kalau aku kurang sabar. Tentunya karena banyak hal lain juga yang harus aku lakukan. Areta juga terbiasa disuapin bahkan sampai umur 5.5 tahun. Maka begitu pembantunya tidak kembali setelah lebaran kemarin, ibuku sedikit ngomel karena pembantunya jadi punya tugas ekstra untuk meladeni Areta makan, yang mengakibatkan pelaksanaan pekerjaan rumah tangga lainnya jadi terganggu. Maka aturan untuk soal makan adalah Areta harus makan sendiri dan sedangkan Saskia belajar untuk makan sendiri tapi masih dibantu tidak apa2 karena kan masih 2.5 tahun. Dan itu harus dilakukan sambil duduk di kursi makan sampai selesai, tidak boleh jalan2 dan lari2.

Ini yang agak susah. Tadinya mereka jadi ngambek dan tidak mau makan bukan karena tidak lapar tapi karena tidak suka makan dengan cara makan seperti itu. Bingung juga aku karena kami yang orang dewasa memberi contoh untuk selalu makan di meja makan sampai selesai, tapi mereka tidak mau mengikuti. Aku pikir ini soal kebiasaan yang sudah biasa mereka lakukan sejak dulu. Maka mereka tidak bisa disalahkan. Jadi aku bilang ke Areta kalau dia itu sudah besar dan anak sebesar Areta seharusnya sudah bisa makan sendiri. Kalau di tv atau majalah ada anak seusia dia sedang makan sendiri maka aku bilang, ‘itu sudah sebesar kamu juga makan sendiri kan…’ Aku bilang juga kalau makannya sambil jalan2 atau sambil main, makanannya suka tumpah2 di lantai atau kena mainan dan bukunya. Lantainya jadi kotor, mainannya juga jadi lengket2 kena nasi. Kalau makan sambil ngomong juga bisa tersedak.

Sekarang Areta sudah terbiasa makan sendiri (cuma kalau ada papanya saja suka manja minta disuapin). Saskia sesekali, tapi masih lebih banyak disuapin karena kalau makan sendiri berantakan banget, belum lagi kalau piring jatuh, aku pikir jadinya malah mubazir banyak nasi yang tumpah dan terbuang. Dan mereka sudah mau duduk di kursi makan. Walau masih suka banyak ngomong pas makan dan kadang jalan2. Waktu itu, caraku untuk membujuk mereka supaya mau makan sambil duduk diam adalah dengan menyetel Baby tv. Mungkin itu salahku, karena sekarang muncul masalah baru yang masih jadi pe-er buat aku yaitu sekarang mereka jadi terlalu banyak menonton tv.

Hal penting lain yang kupelajari jadi Nanny 911 adalah soal ‘time-out’, yang merupakan bentuk hukuman jika anak melakukan kesalahan, misalnya melanggar aturan rumah. Ketika anak melakukan kesalahan, kita terlebih dahulu memberi peringatan pendahuluan dengan lisan bahwa itu tidak boleh dilakukan, dan jika mengulanginya sekali lagi, maka akan kena time-out. Kalau aku sih membahasakannya dengan istilah disetrap.

Time-out ini dilakukan dengan cara mendudukkan anak di kursi khusus (jadi tempatnya kalau kena time-out selalu di situ) di tempat yang mudah terlihat dan membiarkannya diam supaya dapat merenungi kesalahannya. Misalnya kalau aku sih di kursi yang terletak di antara ruang keluarga dan ruang tamu. Jangan meletakkan kursi time-out di tempat yang terlalu jauh dari pandangan kita atau gelap atau terpencil seperti di gudang, apalagi sampai menguncinya di suatu kamar. Hal itu sangat menakutkan bagi anak kecil dan bisa membuatnya merasa tidak aman dan menjadi trauma. Tapi pastikan juga bahwa letak kursinya tidak memungkinkan dia bisa melakukan hal2 yang dia sukai, misalnya meletakkan kursinya di tempat yang memungkinkannya dapat menonton tv.

Lamanya time-out disesuaikan dengan umur anak. Satu menit untuk setiap tahun usianya. Misalnya, Saskia usianya 2.5 tahun, maka lama time-outnya 2.5 menit. Sedangkan Areta yang sudah berusia 5.5 tahun lama time-outnya 5.5 menit. Mungkin bagi kita hukuman 5 menit sangatlah ringan. Tapi bagi anak berusia 5 tahun waktu 5 menit untuk duduk diam tanpa boleh melakukan apa2 adalah cukup panjang. Katakan juga kepadanya bahwa time-out selesai ketika dia berhasil diam penuh selama waktu hukuman tersebut. Namun jika dia memberontak dan kabur, maka kita harus mendudukannya lagi dan waktu hitungan dimulai dari nol lagi.

Reaksi Areta ketika kena time-out untuk pertama kalinya adalah menangis sambil menjerit2. Sampai akhirnya aku memberinya pilihan, mau disetrap duduk diam selama 5 menit atau dihukum tidak boleh menonton Baby tv selama 24 jam. Di luar dugaan dia memilih yang kedua. Sedangkan, reaksi Saskia ketika kena time-out untuk pertama kalinya adalah langsung mau duduk diam. Lucunya, ketika mereka tau bahwa time-out hanya begitu saja, ada masanya ketika misalnya Saskia melakukan kesalahan, dan kuberi peringatan pertama, dia malah bilang, ‘Ma, aku disetrap aja, Ma, sekarang’ 😀

Hal apa saja yang mengakibatkan mereka kena time-out?

Kalau Saskia dulu suka corat-coret pakai pensil warna atau crayon di tembok dan meja. Dia juga pernah beberapa kali meludah di lantai dalam rumah. Kalau Areta suka naik2 sofa dan loncat2an di situ (yang mana Saskia jadi ikut2an). Terus kalau malam2 juga suka teriak2, lari2an di dalam rumah, tidak bisa diam.

Aku rasa metode ini cukup efektif ya. Alhamdulillah sekarang Saskia sudah tidak pernah coret2 di tembok dan meja lagi, tidak pernah meludah di lantai lagi. Areta juga sudah tidak pernah loncat2an di sofa lagi. Kalau berisik dan lari2 di dalam rumah di malam hari sih masih sering. Cuma sekarang lebih bisa dikendalikan, kalau dikasih peringatan agak mereda. Kalau dulu aku teriak2 juga tidak digubris. Intinya sekarang mereka jauh makin jarang kena time-out.

Berikutnya, soal mengatasi rengekan dan tangisan. Jujur saja kalau yang ini aku belum terlalu berhasil. Masih dalam proses. Teorinya sih, ajarkan anak untuk mengungkapkan keinginannya dan perasaannya lewat kata2, bukan lewat tangisan. Jadi kalau tidak kenapa2 tiba2 mereka jadi galak, merengek2 dan menangis tanpa sebab atau hanya karena peristiwa sepele, aku katakan, ‘Mamma tidak mengerti kenapa kamu menangis. Menangis itu bahasanya bayi yang belum bisa ngomong. Kalau kamu kan sudah besar, sudah bisa ngomong, jadi bilang kenapa? Kamu ingin apa?’ Oh ya pastikan mereka tidak sedang lapar, atau mengantuk atau sakit. Karena dalam kondisi tersebut wajar saja kalau anak cenderung rewel dan emosi tinggi.

Misalnya waktu itu pernah Areta tadinya riang gembira main sama Saskia. Terus terima telefon dari papanya yang mengabarkan bahwa malam itu papanya lembur sampai larut malam dan tidak pulang. Setelah menerima telefon dari papanya tiba2 Areta merebut mainan yang sedang dipegang Saskia dan memukul, terus marah2. Kalau dimarahin, dia makin marah juga. Maka dilerai baik2. Setelah emosinya agak reda aku tanya, kenapa dia begitu. Ternyata dia kesal dan sedih papanya malam itu tidak pulang. Setelah dia bilang dan aku kasih pengertian bahwa papanya itu kerja supaya Areta bisa sekolah, bisa beli susu, bisa makan, dll, dia pun mereda.

Bagaimana kalau anak terbiasa dituruti keinginannya dan suatu saat kita tidak menuruti? Pasti kencang sekali rengekannya. Kalau soal ini, tega2in saja membiarkan anak menangis dan kita tetap melakukan aktivitas kita, supaya dia tidak menjadikan tangisan sebagai senjatanya untuk mendapatkan yang dia inginkan. Kalau aku suka juga bilang, ‘Silakan saja menangis, tidak akan mempan. Mamma tetap tidak akan menyalakan tv-nya’, misalnya kalau dia merengek2 minta menonton tv, padahal menurut aku hari ini dia sudah terlalu banyak menonton tv. Well, kadang berhasil sih, dia jadi diam, tapi kadang juga malah tambah kencang nangisnya. Kalau ini, memang harusnya orang tua kompak dalam bersikap. Supaya anak tidak memanfaatkan salah satu orang tua yang tidak tegas. Kalau kondisinya seperti aku yang saat ini tinggal sama orang tuaku agak sulit. Kalau aku sih ditega2in membiarkannya merengek2 begitu (mengingat ini demi kebaikan), tapi kalau kondisinya tidak memungkinkan (baca: mbahnya Saskia yang tidak tega atau terganggu dengar suara berisik gitu jadi sudah lah mending dikasih saja biar diam) yaa agak susah ya.

Ya, begitulah, aku juga masih belajar. Memang kalau tidak tahu ilmunya jadinya ikut emosi juga. Makin tinggi nada kita teriak, makin kencang juga rengekannya. Jangan lupa bahwa anak itu peniru yang baik. Maka itu aku juga sedang berusaha supaya selalu ngomong dengan suara rendah dan sabar sesabar2nya. Ingat2 saja, insya Allah balasannya surga J

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Erin, Saskia and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tips menghadapi anak susah diatur

  1. christanto says:

    Jadi sekarang, anak2 tambah manut dan disiplin mam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s