Erin · Kuliah

Sistem peringatan dini banjir di Indonesia

Banjir di Indonesia merupakan hal yang biasa. Khususnya di area yang curah hujannya cukup tinggi seperti di pulau Jawa. Bahkan berita banjir pun kita dengar sambil lalu saja saking sudah terbiasanya, apalagi jika banjirnya merupakan banjir rutin tahunan, misalnya seperti banjir di Jakarta, Kabupaten Bandung dan rob di Semarang. Walau penyebabnya beda-beda ya. Berita banjir baru benar2 kita simak barangkali ketika banjirnya benar2 luar biasa, seperti banjir di ibukota yang baru2 ini terjadi.

Mengingat bahwa mengatasi banjir itu bukan hal yang gampang, maka sistem peringatan dini ini menjadi penting, setidaknya agar kita dapat bersiap2 jika ia akan datang, sehingga dapat meminimalkan kerugian yang potensial akan terjadi.

Sebenarnya bagaimana sih sistem peringatan dini banjir di Indonesia? Apakah di Indonesia sudah ada?

Sepengetahuan saya dulu, sistemnya masih manual, menggunakan tenaga manusia i.e petugas pemantau tinggi muka air sungai di lapangan, yang melaporkan ke pusat, misalnya, saat ini tinggi muka air di hulu berapa. Kalau melebihi batas kritis tertentu, mereka akan melaporkan ke hilir, sehingga yang di hilir bisa bersiap-siap jika ada potensi banjir yang akan terjadi. Kalau untuk banjir di Jakarta, patokannya tinggi muka air di bendung Katulampa, Bogor. Jadi kalau tinggi muka airnya di Katulampa melebihi suatu batas kritis, maka diperkirakan dalam waktu kurang lebih 12 jam, kali Ciliwung di area Jakarta akan meluap alias banjir. Tingkatannya sesuai setinggi apa batas kritisnya. Petugas di bendung Katulampa lah yang akan mengeluarkan status siaganya.

Catat: itu sepengetahuan saya ya.

Makanya ada istilah piket banjir, alias berjaga2 memantau kondisi tingggi muka air di suatu titik di sungai sebagai indikasi bahwa banjir berpotensi terjadi, terutama jika curah hujan sedang tinggi. Dan itu masih dilakukan hingga di awal saya masuk di area perbanjiran ini sekitar hampir 7 tahun yang lalu (2006).

Bagaimana dengan sekarang (Februari 2013)? Apakah sudah ada perkembangan berarti soal teknologi system peringatan banjir dini di Indonesia?

Berikut ini adalah hasil searching berita2 di dunia maya:

Di Tempo (2 Mei 2012), kabar yang disampaikan Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak, Pemerintah sedang mengembangkan sistem peringatan dini untuk banjir dan kemarau nasional. Sistem akan dikembangkan di sungai2 yang rawan banjir. Prototipe-nya sudah dipasang di wilayah Jakarta, dan akan memantau genangan air lewat pemodelan dan kondisi nyata (real time). Sistem mengkombinasikan pemakaian radar pemantau awan milik BPPT untuk memprediksi hujan. Data tersebut dikalibrasi dengan system telemetri pemantauan muka air sungai di bendung Katulampa, Bogor. Data-data tersebut digunakan sebagai input pada pemodelan sungai untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya banjir.

Sistem itu dikembangkan oleh Pusair Kementerian PU bersama Deltares, lembaga penelitian serupa di Belanda, bersama BMKG. Kepala BBWS Citarum Hasanuddin, mengatakan, pihaknya sudah memasang 30 stasiun pengamatan tinggi muka air untuk pengembangan peringatan dini dengan memanfaatkan sistem radio dan telemetri.

Sementara itu, kabar yang di sampaikan Republika (07 Des 2012), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menyempurnakan sistem peringatan dini. Menurut Wakil Kepala Dinas PU DKI Jakarta, Tarjuki, Jakarta sudah lama memiliki flood early warning system. Beliau mengatakan pula, setidaknya ada empat sumber informasi tentang ancaman banjir. Pertama, prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kedua, prediksi pasang surut di Tanjung Priok. Ketiga adalah informasi dari pakar Meteorologi. Keempat, informasi dari petugas pemantau ketinggian air di hulu.

“Misalnya kalau tinggi permukaan air di Katulampa sudah mencapai siaga III saja, maka kita akan beritahu warga kalau 12 jam lagi akan ada air kiriman dari Bogor di sepanjang Ciliwung. Saat ini sudah ada tujuh wilayah yang sudah mempunyai alat ketinggian banjir atau Peil Schaal. Ketujuh wilayah itu adalah Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Krukut, di Kali Ciliwung (2 alat), Kali Cipinang, dan Kali Sunter’, lanjutnya.

Sedangkan kabar terbaru yang disampaikan Kompas (15 Jan 2013), Pengembangan sistem prakiraan dan peringatan dini banjir yang lebih akurat sedang dipersiapkan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memulai dengan mengadakan pelatihan pembuatan pemodelan dampak banjir dan cara penggunaan Integrated Flood Analysis System (IFAS) dengan melibatkan pemangku kepentingan di setiap daerah dan diselenggarakan atas kerja sama International Hydrological Programme UNESCO, Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE), dan International Centre for Water Hazard Risk Management (ICHARM) yang mengembangkan IFAS, yang merupakan aplikasi yang bisa diperoleh secara gratis.

IFAS menjadi perangkat yang membantu memodelkan kejadian banjir dengan lebih mudah dan murah. IFAS mampu memodelkan banjir dan dampaknya berdasarkan 23 parameter. Beberapa parameter di antaranya curah hujan, penggunaan lahan, kepadatan di sekitar sungai, dan lainnya. Yang dihitung adalah water discharge di sungainya, maka dengan water discharge tertentu, dampak banjir bisa diprediksi, demikian pula dengan luas wilayah yang terdampak banjir berdasarkan sejarah banjir yang pernah terjadi sebelumnya.

Jadi bisa dikonklusikan bahwa:

  1. Pusair Kementerian PU bersama Deltares Belanda sedang mengembangkan sistem peringatan dini untuk banjir dan kemarau. Prototipe-nya sudah dipasang di wilayah Jakarta, dan akan memantau genangan air lewat pemodelan dan kondisi nyata (real time). Stasiun pengamatan tinggi muka air untuk pengembangan peringatan dini memanfaatkan sistem radio dan telemetri.
  2. Jakarta sudah lama memiliki flood early warning system. Saat ini sudah ada tujuh wilayah yang sudah mempunyai alat ketinggian banjir atau Peil Schaal. 
  3. LIPI memulai dengan mengadakan pelatihan pembuatan pemodelan dampak banjir dan cara penggunaan Integrated Flood Analysis System (IFAS) yang diselenggarakan atas kerja sama International Hydrological Programme UNESCO, Asia Pacific Centre for Ecohydrology (APCE), dan International Centre for Water Hazard Risk Management (ICHARM) yang mengembangkan IFAS.

Yang agak membingungkan, apakah antara system yang dikembangkan oleh Pusair Kementerian PU dengan system yang sudah dimiliki Jakarta (menurut Dinas PU DKI) dan dengan system IFAS yang dikembangkan oleh LIPI merupakan system yang sama atau terintegrasi dengan system peringatan dini banjir yang akan diterapkan secara nyata di Jakarta atau bagaimana. Kurang jelas juga. Tapi bisa ditarik kesimpulan, barangkali, bahwa system yang melalui pemodelan kondisi nyata ini (real-time flood forecasting) masih merupakan barang baru yang sedang dikembangkan, dan sedang diuji coba di wilayah Jakarta.

Bagaimana dengan di negara maju?

Dilanjut di tulisan berikutnya ya.

Advertisements

2 thoughts on “Sistem peringatan dini banjir di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s