Tips

Sistem Ujian di Univ di Belgia

Ini untuk yang lagi mau kuliah di Eropa dan lagi cari info soal sistem ujian di bangku kuliah di sana, silakan disimak… Oh ya, berhubung saya sekolahnya di KU Leuven, jadi yang saya ceritakan berdasar pengalaman saya saja. Kemungkinan sih tidak akan terlalu beda jauh dengan tipe ujian di universitas2 di negara2 di Eropa lainnya.

Saya, yang sejak lahir hingga S1 mengenyam pendidikan di Indo, salah satu hal yang bikin sedikit panik adalah ketika diberitahu tentang standar sistem ujian di KU Leuven. Iya soalnya standar yang dipakai adalah sistem oral, a.k.a. lisan, alias satu per satu mahasiswa/i face to face tanya jawab empat mata dengan sang professor. Hal yang tidak pernah saya alami di Indo. Yang selalu dan selalu dengan sistem tertulis, baik pilihan ganda maupun essai (eh kecuali ujian yang berhubungan dengan program komputer yak).

Yang terpikir pertama kali ketika mendapat informasi tersebut adalah: gi-gi-gi-ma-na kalau saya gak ngerti beliau nanya apaan… atau saya gak bisa jelasinnya pakai bahasa Inggris dengan baik sehingga si professor tidak dapat menangkap yang saya maksud… atau saking nervous-nya tiba2 otak saya blank, terus gak tau mau jawab apa… Bilang ‘pass‘ aja, gitu??

*panik*

(ini nih akibat berangkat kuliah ke luar negeri tanpa persiapan bahasa sama sekali…)

Kadang kalau terlalu dipikirkan, malah bikin tambah panik. Jadi saya cari2 info sebanyak2nya dari senior dan teman2… Banyak belajar untuk mengerti (bukan menghapal!) materi kuliah, dan … jalani saja sambil banyak berdoa.

Setelah dijalani, ternyata…?

Tidak semengerikan yang dikira kok… Malah saya menemukan bahwa oral exam ini kadang lebih menguntungkan daripada ujian murni tertulis lho. 

Oh ya, variasi sistem ujian ini memang bisa berbeda2. Ada yang murni oral, ada yang kombinasi tertulis dan oral, ada yang kombinasi pakai program komputer dan oral, ada juga yang pakai paket komplit: program komputer, tertulis dan oral.

Terus oral ini bisa jadi tanya jawab empat mata dengan si professor atau presentasi plus tanya jawab di depan Professor saja, atau di depan forum teman2 sekelas. Para Professor pun bisa punya aturan yang berbeda2 soal ujian oral ini.

Misalnya..? Ini beberapa contohnya.

Ujian Hydraulics.

Pagi harinya ujian tertulis bersama2 di kelas. Soalnya hitung2an. Seingat saya sih ada dua nomor. Satu soal hitung2an besar, dan yang ditanyakan banyak. Soalnya satu nomor terdiri dari sub2-pertanyaan a- sampai -j. Kalau tidak berhasil atau salah menjawab bagian a, niscaya kesulitan berat menjawab soal berikutnya, karena hitung2annya saling berkaitan. Yang kedua soal teori yang terdiri dari sub2 pertanyaan juga. Durasinya lumayan lama, 3 jam. Tapi, ternyata hingga waktu berakhir, saya hanya sempat menjawab soal nomor 1a, 1b (tapi tidak tuntas), dan soal nomor 2. Selesai ujian tertulis, banyak teman yang pesimis dan hopeless, bilang kalau tidak akan mungkin lulus. Bahkan ada yang cuma jawab nomor 1a.

Siang dan sorenya (hingga malam, soalnya ada 2 kloter), kami ujian komputer program hydraulics. Nah, sambil ujian komputer itulah kami satu per satu dipanggil ke depan, dan duduk bersama Professor sebelah2an sambil dia memeriksa kertas ujian tertulis saya yang tadi pagi. Pertama dia minta saya menjelaskan panjang lebar jawaban saya di kertas itu, sambil dia bertanya ini itu. Misalnya kenapa saya menghitung seperti itu, pakai teori anu, kenapa mengambil asumsi beginu, dll.

Setelah itu dia bertanya, kenapa jawabannya tidak selesai? Ya jelas ya karena waktunya kurang. Tapi sebenarnya saya bisa menjawabnya tidak? Saya jawab saja iya. Ya sudah deh, terus saya lanjutkan menjawab seluruh sub pertanyaan. Itu kan soal2 hitungan ya. Tapi saya hanya perlu menjelaskan cara menghitungnya dan teorinya, tanpa menghitung beneran pakai kalkulator hingga ketemu angka hasilnya. Sambil sesekali si Professor menyela dengan pertanyaan2 teoritis lainnya.

Hasilnya? Saya dan teman2 banyak yang dapat nilai lumayan bagus.

Rahasianya?

Kan setelah ujian tertulis ada jeda waktu istirahat makan siang hingga menunggu giliran ujian. Saya manfaatkan deh buat tanya dan diskusi dengan teman2 tentang jawaban ujian tertulis tadi pagi. Asyiknya, si Professor memang mengijinkan kami untuk membahas jawaban soal ujian dengan teman2. Dan bukan itu saja, kalau ternyata kami menyadari yang kami jawab tadi pagi itu salah setelah berdiskusi dengan teman2, ketika oral exam, kami dibolehkan untuk mengganti jawaban, dengan menjelaskan kenapa yang kami jawab tadi pagi itu salah. Kemudian, menjelaskan pula yang benar seharusnya bagaimana. Kalau bisa menjelaskan dengan baik, jawaban yang salah total di atas kertas, bisa jadi dinilai benar, dan dapat nilai bagus.

🙂

Ujian Statistics for Water Engineering.

Paginya, saya bersama2 teman2 sekelas ujian pakai komputer di ruang kelas. Waktunya sekitar 3 jam. Sorenya kami dapat giliran maju satu persatu duduk bersebelahan dengan si Professor di depan komputer yang kami pakai masing2. Jadi, sambil si professor melihat hasil pekerjaan saya, dia minta saya menjelaskan bagaimana cara mengerjakannya, sambil sesekali bertanya ini itu, baik yang berkaitan dengan yang saya kerjakan, maupun teori dasarnya. Ada 3 soal waktu itu. Saya bisa mengerjakan 2 soal dengan benar. Sayangnya, satu soal terakhir saya salah cara mengerjakannya. Saya bilang saja, saya salah mengerjakannya karena kurang teliti menangkap maksud soal. Tapi kemudian saya sadar saya salah. Lalu saya jelaskan yang benar seharusnya begini begitu.

Tapi saya tetap sedikit khawatir tidak lulus. Soalnya Professor ini susah ditebak cara ngasih nilainya. Maka saya memberanikan diri menanyakan padanya, ‘apakah saya lulus?’ Yak, bagi saya, bisa lulus saja sudah bagus lah. Senangnya ketika dia bilang, ‘ya, tentu saja’.

Hasilnya?

Lumayan juga dapat nilai bagus.

Ujian Irrigation Agronomy.

Ujian terdiri dari tertulis dan oral. Seperti biasa, ujian tertulis hitung2an dilakukan bersama2 di ruang kelas. Durasinya kalau tidak salah 4 jam. Sambil mengerjakan soal hitung2an di atas kertas, satu persatu mahasiswa/i dipanggil. Pertama, professor meminta satu mahasiswa/i untuk memilih 1 di antara beberapa kertas tertutup yang berisi soal2 teori, kemudian mempersilakan mahasiswa/i tersebut untuk membuka kertas tersebut setelah duduk di kursi depan dekat papan tulis. Lalu mahasiswa/i tersebut diminta untuk menulis jawaban2 singkat dari beberapa pertanyaan teori di kertas kosong terpisah. Waktunya sekitar 5 menit.

Oh ya, pertanyaan2 teori yang ditulis oret2 jawabannya adalah pertanyaan yang akan ditanyakan pada oral exam. Gunanya bikin oret2 jawaban singkat 5 menit ini adalah supaya ketika berhadapan dengan Professor bisa langsung jawab. Namanya juga ujian, sangat mungkin kalau langsung  ditanyakan lisan tanpa persiapan, otak bisa blank untuk beberapa saat. Jadi tidak efektif kan.

Selanjutnya, Professor menjemput mahasiswa/i tersebut dan bersama2 menuju ruang kerjanya untuk melakukan oral exam, setelah sebelumnya memanggil mahasiswa/i berikutnya untuk mengambil pertanyaan teori persiapan untuk oral exam.

Jadi dalam 1 waktu sementara para mahasiswa/i ujian tertulis soal hitung2an, ada 1 mahasiswa/i yang bikin oret2 jawaban pertanyaan teori untuk oral exam dan ada 1 mahasiswa/i yang sedang oral exam bersama Professor

Kebetulan Professornya baik, jadi kalau jawabannya kurang tepat, dia kasih clue, memancing kita supaya bisa jawab dengan sempurna.

Ujian Aquatic Ecology.

Tadinya, mata kuliah ini yang paling saya khawatirkan ujiannya. Pertama, saya civil engineer yang tidak familiar dengan berbagai macam ilmu baru di bidang Aquatic Ecology yang sarat dengan teori2 dan istilah2 biologi dan lingkungan yang banyak dan susah diingat, bagi saya. Misalnya, bayangin saja ya, saya harus menghapal karakter dan sifat2 makhluk kecil bernama Daphnia, dan teman2nya. Ampun dah. Dalam bahasa asing pula. Dan si Professor sudah bilang bahwa mata kuliah ini akan sulit untuk orang yang background nya bukan dari biologi atau teknik lingkungan.

Kedua, si Professor sudah kasih pengumuman dari awal, bahwa untuk persiapan ujian dia akan memberikan sekitar 250 pertanyaan yang wajib kita cari tahu jawabannya, karena akan muncul 5 pertanyaan untuk ujian dari 250 pertanyaan tersebut.

Ketiga, ujiannya oral. Si Professor juga bilang, biasanya ujian oral untuk mata kuliah ini jadi masalah buat yang bahasa Inggrisnya non-native speaker. Maka, sebelum maju satu persatu, ada persiapan untuk baca pertanyaan dan mencoret2 jawaban dulu. Si Professor meminta untuk menulis oret2 jawaban selengkap2nya, pokoknya tulis aja semuanya yang kamu tau di situ, in case that we will be very nervous in front of him, sampai2 tenggorokan tercekat tidak bisa keluar suaranya. Kalau begitu kejadiannya, maka si professor akan mengambil kertas oret2 jawabannya, dan memberi nilai hanya dari situ.

O-o. Horor gak sih kedengarannya. Ini mata kuliah semester 1. Masa2 di mana kemampuan bahasa Inggris saya masih dalam proses adaptasi.

Semalam sebelum ujian, saya tertidur dengan memegang kertas2 berisi ratusan pertanyaan dan jawaban yang sudah saya salin dengan rapi. Beneran, ini ujian yang paling bikin saya deg2an.

Sampai di lokasi, tiap mahasiswa/i mendapat kertas dengan pertanyaan yang berbeda2. Kami juga diberi kertas kosong untuk menuliskan jawaban. Lalu si penjaga ujian menulis nomor2 di papan tulis, dan meminta kami untuk menuliskan nama kami masing2 di nomor yang tersedia sebagai urutan maju satu2 ke Professor. Begitu melihat pertanyaan, saya pun menulis nama saya di nomor belas2an. Ya, supaya saya punya banyak waktu untuk menuliskan jawaban sekomplit2nya, supaya ketika menjelaskan tidak ada yang terlewat. Satu orang majunya sekitar 5-10 menit. Saya jadi punya waktu kurang lebih 2 jam untuk persiapan.

Tiba saatnya, giliran saya maju menuju ruang Professor di lantai atas. Dia langsung meminta kertas jawaban saya. Kemudian menanyakan satu persatu, dan saya jelaskan pula dengan lancar. Sesekali dia tanya hal2 lain yang masih berhubungan dengan pertanyaan. Kalau saya tidak benar jawabnya, dia kasih hints, supaya saya bisa jawab dengan benar sesuai yang dimaksud. Senangnya ketika dia bilang bahwa over all, saya bisa menjawab dengan baik dan benar.

Tapiii… eh ada tapinya. Dia bilang walau saya bisa menjawab dengan benar dari pertanyaan ini, nilainya baru 14 (out of 20). Kalau saya bisa jawab pertanyaan ekstra di luar 5 pertanyaan itu, nilai saya bisa naik 1 jadi 15. Kalau dia kasih pertanyaan lagi dan saya jawab dengan benar, nilai saya naik lagi. Sayangnya, barangkali karena nervous dapat pertanyaan dadakan, saya jawabnya salah, atau kurang nyambung atau apa ya, agak lupa. Pokoknya nilai saya tidak jadi naik. ya sudah deh. Alhamdulillah. Itu pun sudah di atas target saya.

Belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata kita pun bisa nawar nilai kepada beliau. Misalnya, kalau kejadiannya kayak saya tadi, seharusnya boleh saja saya minta dikasih pertanyaan lainnya, sampai saya bisa jawab, supaya nilai saya naik.

Ujian Advanced Mathematics.

Waktu dikasih tahu kalau ujian ini juga oral, wah, saya langsung protes, dalam hati tapinya… Apa2an nih, masa’ matematika ujiannya oral juga. Bagaimana coba cara menjelaskannya? Padahal isinya matematika ini seputar integral differensial. Mana Professornya mukanya dingin banget. Kalau ngomong, datar. Tidak pernah senyum sedikit pun. Horor pokoknya.

Ujian yang berlangsung 4 jam ini dilakukan bersama dalam 1 ruang. Kemudian si professor mendatangi tempat duduk kami satu per satu. Melihat jawaban kami, kemudian dia bertanya beberapa pertanyaan, daaan… yang di luar dugaan, pas ujian kok dia jadi baik ya. Kalau ada jawaban yang salah atau bahkan saya tidak tahu cara mengerjakannya, dia meluruskan dan memberitahukan bagaimana seharusnya cara mengerjakannya.

Sayangnya, karena sudah anti duluan sama Professornya, saya duduk di tempat yang dapat giliran didatangi Professor di jam2 terakhir. Jadinya ya ketika diberitahu bahwa yang saya kerjakan ada yang salah, saya tidak punya banyak waktu untuk memperbaiki. (Tadinya saya pikir, mending si Professor datang ketika hasil kerjaan saya sudah banyak, jadinya saya bisa jawab pertanyaan2nya).

Alhasil? Lulus sih, walau nilainya ngepas banget. Tau gitu kan ya, saya duduk posisi di mana bakal didatangi Professor lebih awal.

Ujian Surface Water Hydrology.

Ini dia nih ujian paling berkesan. Berkesan karena saya sampai harus mengulang 2x sampai bisa lulus :)) (sekarang bisa tertawa… dudlu sih nangis2 :P) Total 3x saya ikut ujian ini. Benar2 kesempatan terakhir tuh. Tidak terbayang kalau yang ke-3x nya itu saya belum lulus juga, bisa2 saya extend kuliah dengan biaya sendiri…

Ujiannya sebenernya simple. Setelah menerima soal ujian tertulis, hanya diberikan kesempatan 5 atau 10 menit ya, untuk buka buku. Tapi tidak boleh bikin coretan apapun selama buka buku. Hanya boleh baca2. Selanjutnya, hingga waktu berakhir (3 jam), ujian tertulis closed book. Soalnya pun teori dan hanya 2 nomor yang masing2 terdiri dari 2 atau 3 sub-pertanyaan. Selama ujian tertulis, boleh saja maju ke Professor di depan kelas untuk bertanya2, misalnya, apakah jawaban saya sudah cukup baik dan benar. Si Professor paling hanya akan bilang ‘ya, ini sudah cukup, , bisa dikumpulkan’, atau, ‘jawaban ini terlalu simple, kamu harus elaborate lagi’. Gitu doang tanpa kasih petunjuk2 apanya yang mesti ditambahkan. Oh ya, catat ya, maju ke depannya itu tidak wajib. Jadi hanya mungkin sekitar 50% yang maju ke depan.

Ujian yang pertama, saya tidak maju ke depan. Karena saya berasa yakin, mungkin memang gak dapat nilai bagus… tapi lulus laah. Soalnya saya rada anti juga sama Professornya. Orangnya antik. Paling banyak mahasiswa/i tidak lulus itu ya di kuliahnya dia. Padahal pelajarannya tidak susah2 amat. Sudah langganan kalau setiap mengadakan ujian pasti ada saja sekitar 10 orang yang tidak lulus. Bahkan lebih. Kasih nilai pun jelek2, di ambang batas lulus.

Dan, ternyata, saya gagal dengan sukses.

Ujian yang kedua, saya maju ke depan. Beliau bilang, ya jawaban masih kurang, harus dikembangkan lagi. Hanya saja, mungkin karena mental lagi drop juga (saya harus merelakan sebagian liburan ke Indo saya terpotong untuk ikut ujian ini), saya susah mikir lebih panjang lagi.

Bisa ditebak, lagi2 saya gagal.

Ujian yang ketiga, saya mulai marah dan underpressure, tapi ini justru bikin saya semangat belajar saya berkobar, karena tidak mau gagal lagi. Saya pun mengingat2, bahwa biasanya saya kasih jawaban sepanjang 3 halaman kertas folio bergaris untuk 2 nomor pertanyaan tersebut. Tapi saya selalu gagal, padahal saya merasa jawaban saya gak ngaco. Hanya mungkin memang benar kurang detail dan lengkap sesuai ekspektasinya dia.

Kali ini saya harus jelasin lebih panjang lebar lagi. Maka saya pun tulis semua yang saya ketahui dan berhubungan dengan pertanyaan yang diberikan, lengkap dengan berbagai gambar dan bagan/skema sebagai ilustrasi. Kertas 6 halaman folio pun penuh dalam waktu 3 jam. Tidak pakai maju ke depan lagi.

Hasilnya?

Beberapa hari sebelum pengumuman nilai, saya sudah tidak sabar, sekaligus deg2an, terbayang kalau tidak lulus lagi, bisa gagal pulang bawa ijazah. Kalau mau perpanjang masa kuliah dengan biaya sendiri pun, duit dari mana, dan sudah lelah juga berjauhan dengan Saskia dan Papanya sekian lama. Akhirnya saya beranikan diri menulis email ke professor, untuk menanyakan nilai. Tadinya sempat terlintas kalau saya tidak lulus lagi, saya mau minta dikasih tugas bikin paper kek, atau apa, untuk menambah nilai supaya bisa lulus.

Ternyata?

Wah, bener2 di luar dugaan, saya lulus dengan nilai lumayan bagus. Oalaah pak, ternyata jawaban seperti itu toh yang diharapkan selama ini.

Ujian Social Political Institutional Economic Environmental Aspects of Water Resources

Panjang ya judul kuliahnya. Tapi simple banget ujiannya. Kami hanya diminta menuliskan permasalahan nonteknis SDA di negara kami masing2. Lalu dibikin paper, dan presentasi di depan kelas. Hanya saja karena ini kelas nonteknik, yang dinilai pun termasuk teknik presentasinya, yang meliputi tampilan slides, cara kita bicara, keefektifan dalam menyampaikan informasi dalam waktu singkat. Yak, hanya dalam 5 menit, kita harus bisa menguraikan permasalahan, dengan menampilkan fakta, apa yang sudah dilakukan dan solusi selanjutnya sebaiknya bagaimana.

Maka tidak ada lagi triknya selain bikin tampilan power point presentation yang maksimal hanya boleh 5 slides untuk isinya itu, dan berlatih untuk ngomong komplit dalam waktu 5 menit. Soalnya kalau kelebihan waktunya malah nilainya bakal dikurangi.

Untuk bikin slides, tidak ada masalah, karena sudah biasa. Latihan ngomongnya itu lho, saya sampai berlatih jarak jauh via skype sama mentor saya: Pappanya Saskia. Dari yang semula saya ngomong 8 menit, diulang terus sampai puluhan kali, sambil disortir terus kalimat yang saya akan sampaikan, sampai akhirnya bisa benar2 hanya 5 menit saja. Ya, di sini saya belajar efisiensi, dengan memilih kalimat2 yang benar2 penting untuk disampaikan. Sampai saya catat tuh dengan detail kalimat yang bakal saya omongin. Soalnya tidak boleh ngelantur ke mana2 nih ngomongnya.

Hasilnya alhamdulillah, nilainya sangatlah bagus. 🙂

Ujian berbagai macam kuliah Modelling.

Kalau ini, dari awal kuliah kami diminta cari partner atau kelompok, untuk membuat tugas bersama, berikut laporannya. Ada juga kuliah yang tugasnya  individual deng. Kemudian, dipresentasikan ketika ujian. Ada yang hanya di depan Professornya, ada pula yang di depan forum kelas. Lalu tanya jawab.

Kalau ini sih, pandai saja mencari partner kelompok yang cocok, yang punya visi yang sama. Soalnya makan hati kalau partner kita malas dan kurang bertanggung jawab.

Nilainya tergantung. Ada professor yang menyamaratakan nilai dalam 1 kelompok. Ada pula tergantung tampilan kita pas presentasi. Memang pada akhirnya kelihatan juga sih yang pintar dan atau banyak kerjanya, sama yang nebeng nama doang. Tapi hati2 ya kelompokan sama bule, kalau kita tidak banyak berkontribusi sama pekerjaan kelompok, bisa2 didepak. Apalagi kalau cuma nebeng nama. Bisa langsung dipecat tanpa bilang2, dengan tidak menuliskan nama kita di laporan pekerjaan.

Iya, jadi kelompokan sama orang Eropa pada umumnya itu, kalau kelompokan 5 orang  ya 5-5-nya harus punya proporsi kontribusi yang kurang lebih setara. Tidak boleh ada yang kontribusinya dominan atau sebaliknya, jadi anak bawang, alias cuma berkontribusi kecil. (Tidak kayak di Indo ya, yang kalau kelompokan 5 orang, tapi yang kerja 1-2 orang saja).

…………

Maka, untuk bisa lulus ujian di Univ di LN, bisa ditarik kesimpulan kalau:

  • Materi kuliah itu harus benar2 dipahami, bukan dihapal.
  • Yang penting proses belajar dan berpikir, bukan hasil akhir jawaban pertanyaan yang harus tepat betul angkanya.
  • Professor senang kalau kita bisa menunjukan sebanyak2nya yang kita ketahui, dengan memberi penjelasan panjang lebar tapi efektif dan efisien (bukan panjang lebar tapi ngelantur ke mana2 gak nyambung)
  • Jadi mahasiswa/i harus benar2 kuliah dan belajar, bukan cuma status untuk dapat gelar. Harus berkontribusi pada setiap kerja kelompok.
  • Banyak cari info soal karakter Professor dari para senior, juga contoh2 soal tahun2 yang lalu. Dari situ kita bisa tahu tipe soal dan cara Professor memberikan nilai yang berbeda2 standarnya.
  • Rajin2 datang kuliah dan mendengarkan cuap2 Professor, karena kadang di tengah2 kuliah dia memberikan petunjuk2 tersembunyi seperti apa nanti soal ujiannya.
  • Banyak2 belajar kelompok supaya materi lebih cepat nempel di kepala. Kalau ada, dari pengalaman saya, pilih teman belajar orang Afrika, Vietnam, Bangladesh dan Amerika Latin. Biasanya mereka murah hati dalam berbagi ilmu, dan relatif sabar menghadapi orang2 yang agak lemot.
  • Jaga kesehatan. Bawa bekal makanan dan minuman bergizi. Perlu stamina dan fisik yang kuat untuk ujian. Kalau di Indo, ujian paling hanya berlangsung 2-3 jam saja. Di Belgia, ujian 1 mata kuliah bisa berlangsung dari pagi sampai malam. Makan dan minum di kelas pas ujian berlangsung juga tidak dilarang.
  • Suasana ujian juga tidak seperti di Indo yang tempat duduknya saja ditempel sesuai nomor absen. Dan ketika ujian wajib membawa kartu mahasiswa/i yang akan diperiksa oleh penjaga ruang ujian, untuk memastikan ujian tidak dijokikan. Di LN, ujian tidak pakai nomor2an, duduknya bebas. Dengan ujian oral, siapa yang berani pakai joki?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s