Yudha

For attention of Mas Yudha: Get ready for reverse culture shock! :P

Insya Allah besok rabu mas Yudha pulang kembali ke Indonesia, for good. Senangkah? Tentunya ya, kan mau ketemu Saskia :). Tapi di balik kegembiraan itu pasti ada perasaan sedih meninggalkan negara yang memberi banyak kesan setahun belakangan ini, juga bersiap2lah kaget dan kecewa dengan suasana dan orang2nya di kampung tanah air kita. Makanya mesti siap2 dan ikhlas supaya reverse culture shock-nya tidak parah2 amat dan tidak berlama2. Berikut ini hal2 yang bisa bikin emosi terutama di awal2 pulang kembali ke sini (berdasarkan pengalaman):

  1. Suasana jalan raya. Bagi aku, hal-hal yang berkaitan dengan jalan raya dan kendaraan lah yang paling bikin shock. Di kota yang tenang macam Leuven, mobil tidak terlalu banyak. Kalau sampai macet pun di jam2 pulang kerja, pada sabar2, tidak ada yang bunyikan klakson, atau menyalip seenaknya. Motor pun amat sangat jarang. Mungkin Pittsburgh jaauh lebih metropolitan dari Leuven, tapi tentunya tetap jauh lebih teratur dibanding kota2 besar di Indonesia. So, selamat datang kembali di rimba kuda besi. Mobil dan motor yang tambah banyak di jalanan. Pengemudi yang tidak sabaran. Menyalip sembarangan. Angkot2 yang berhenti mendadak dan seenaknya. Sedikit2 terdengar suara klakson. Atasi saja dengan, tidak usah sering2 pergi (hidup online shopping!), pergi pada jam2 dan hari2 tidak sibuk, untuk tujuannya kalau ada yang dekat kenapa pilih yang jauh, juga rencanakan betul kalau pergi, jadi sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui.
  2. Masih berkaitan dengan jalan raya. Sebagai pejalan kaki, lupakan masa lalu di mana kita diperlakukan seperti raja dan ratu. Tidak akan ada lagi mobil dan motor yang berhenti tanpa diminta ketika kita akan menyeberang jalan di zebra cross. Yang ada malahan, kita sudah melambai-lambaikan tangan sebagai kode meminta kendaraan berhenti, dibalasnya dengan kedipan lampu dim atau klakson berulang2 sebagai tanda agar kita yang mengalah. Wes, sing waras ngalah. Mari pilih zebra cross dekat traffic light atau bawa saja payung bertongkat panjang berwarna super norak kalau terpaksa mau menyeberang jalan. Lebih amannya sih daripada bertaruh nyawa tiap mau menyeberang jalan besar, sekalian saja menyeberang dengan mobil :).
  3. Kualitas udara. Kalau di sana kita bisa menghirup udara yang sangat segar pagi siang sore malam, menyesal sekali kalau di sini bahkan di lingkungan perumahan, jam 6 pagi pun sudah terasa bau asap kendaraan. Bagaimana tidak, lha wong ibu2 belanja ke tukang sayur yang mangkal tidak lebih dari 200 meter dari rumahnya saja naik motor. Kesal sekali kenapa sih tidak naik sepeda saja untuk jarak sedekat itu??? (untuk bersihkan paru2 bagaimana kalau sebulan sekali kita spending weekend di daerah dingin? 😉 Ya sudahlah, mari kita kasih contoh saja, memasyarakatkan naik sepeda. Ada ide supaya orang2 tertarik untuk memilih naik sepeda daripada naik motor?
  4. Tidak jauh2 dari kebiasaan orang naik motor. Sebalnya orang2 itu kenapa ya tidak mau parkir motor di tempat benar. Misalnya nih, ada tukang sayur mangkal di suatu tempat. Kalau aku ya parkir sepeda di tepi jalan setepi2nya supaya tidak mengganggu arus kendaraan yang melintas di jalan itu. Entah saking malasnya orang2 di sini, parkirnya itu yang sedekat mungkin sama tukang sayurnya, sampai kadang2 kalau lagi banyak yang parkir itu bisa memakan hampir setengah lebar jalan aspalnya. Padahal ada tempat parkir kosong yang nyaman yang hanya berjarak sekitar LIMA METER saja dari si tukang sayur!!
  5. Soal antri mengantri. Ingat waktu di Leuven, kalau ada 2 orang mendatangi kasir hamper bersamaan, mereka saling mempersilahkan yang lainnya untuk duluan. Di sini? Jangankan datang bersamaan, lha yang jelas2 kita datang duluan saja bisa2nya orang menyerobot maju seenaknya tanpa permisi.
  6. Soal janjian. Barangkali kita sudah terbiasa janjian yang serba pasti jam dan menitnya. Siap2 kesal kalau kita bertanya soal waktu dan dijawab dengan hal yang tidak pasti. Waktu itu, beberapa hari ketika kembali ke Indo, aku pernah kesal ketika ke bank rakyat untuk membuat deposito. Selesai mengisi form, mbak petugas bank-nya bilang, silakan ditunggu ya untuk bilyetnya, mungkin agak lama. Yang berlanjut kutanya, berapa lama ya. Si mbak2 menjawab, ya jadi hari ini. Kutanya lagi, berapa lama. Kembali si mbak menjawab, pokonya hari ini jadi mbak. *mulai emosi* Aku bilang, mbak sekarang itu pagi (sekitar jam 9 ketika itu), hari ini itu bisa pagi, siang, sore, dan malam pun masih hari ini. Saya tanya berapa lama? 1jam? 2 jam? Dia jawab juga, ya setengah jam kira2. Tuh kan apa susahnya coba dari tadi bilang, ditunggu ya mbak, kira2 setengah jam. Itu contohnya. Masih banyak lagi lainnya.
  7. Soal koneksi internet. Tidak usah dijelaskan lagi lah ya. Jangankan download atau memutar video di youtube, download file kecil dari email saja kadang lamaa. Apalagi kalau mau upload foto2 ;). Tipsnya: sabar saja.
  8. … and so on, you will find out soon!
reverse culture shock
reverse culture shock

gambar diambil dari sini.

Selamat datang di Indonesia! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “For attention of Mas Yudha: Get ready for reverse culture shock! :P

  1. wah wah, berarti bakal mengalami rasa gundah gulana dong ya. semoga gak perlu lama untuk recover ke fase adaptasi. Banyak berdoa, berusaha, dan menerima keadaan mungkin jadi kuncinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s