Erin · Kuliah

? Bertanya ? dan proses belajar

Pepatah mengatakan, malu bertanya sesat di jalan. Well, ya ada benarnya, walau sekarang sudah eranya GPS dan Google map.

Sayangnya dalam dunia sekolah di Indonesia (jaman saya dulu, kurang tahu juga sekarang perkembangannya bagaimana, bisa jadi berbeda antara sekolah negeri dan swasta yang berkualitas baik), bertanya di dalam kelas belum menjadi budaya. Banyak siswa yang masih takut atau sungkan atau malu kalau bertanya kepada gurunya di forum kelas.

Hal ini pernah saya tanyakan pada keponakan saya, Areta. Apakah dia suka bertanya kepada guru di dalam kelas? Fyi, Areta adalah murid kelas 1 SD, yang bersekolah di SD negeri. Dia ini orangnya termasuk pemberani tampil di depan umum, bahkan bisa dibilang pede-nya rada berlebihan.

Jawabannya agak mengejutkan, dia bilang dia tidak mau lagi bertanya atau menjawab di dalam kelas. Ketika saya tanya kenapa, dia pun bercerita. Suatu waktu guru bertanya, dengan pedenya dia seorang diri pun menjawab dengan suara lantang. Ternyata gurunya menyalahkan jawabannya, dan dia ditertawakan seluruh kelas. Maka dia kapok untuk menjawab ataupun bertanya, karena malu kalau ditertawakan.

just raise your hand!
just raise your hand!

Foto diambil dari sini.

Bisa dibayangkan, anak kelas 1 SD sudah mendapat pengalaman buruk dalam hal memberikan opini atau pertanyaan di dalam kelas. Bagaimana nanti dia ke depannya. Saya rasa hal tersebut dialami oleh banyak anak Indonesia. Saya pun pernah berada di posisi Areta. Betapa mulut ini ingin berucap, betapa tangan ini ingin mengacung, tapi takut. Takut salah, takut malu, takut dianggap bodoh, dan takut ditertawakan.

Ada juga cerita dari seorang teman, yang tadinya anaknya (masih SD) merasa happy sekolah di salah satu negara di Eropa.

Tidak heran. Saya pernah melihat sendiri, ketika anak-anak kecil di Belgia sedang berkegiatan outing class ke museum, ramai sekali anak2 kecil itu bertanya. Dengan sabarnya sang guru menjawab satu per satu pertanyaan-pertanyaan anak-anak tersebut. Yang menyenangkan, guru-guru tersebut terlihat excited mendengar setiap pertanyaan dan komentar dari murid-muridnya. Tentu saja si anak pun akan lebih percaya diri dan dihargai karena merasa pertanyaan dan komentarnya penting.

Nah, kembali ke cerita seorang teman tadi, begitu kembali ke Indonesia, anaknya jadi mogok sekolah. Usut punya usut, dia pun cerita, pada suatu hari gurunya memberikan tugas hafalan surat/doa. Beberapa hari kemudian, gurunya pun bertanya, siapa yang belum hafal? Dengan polosnya si anak pun mengangkat tangannya, dan ternyata hanya dia seorang diri yang mengangkat tangan. Gurunya pun memarahinya dan teman-teman sekelas menertawakannya. Padahal dia tahu, banyak juga teman-temannya yang belum hafal, tapi bukannya mengacung, malah menertawakannya. Dia pun pulang dengan berurai air mata, dan bilang tidak mau sekolah lagi.

Menyedihkan. Betapa tertawaan ini bisa dengan dahsyatnya meruntuhkan mental seorang anak kecil. Juga menenggelamkan rasa ingin tahunya. Selain itu juga, yang parah, kejujuran bukannya dihargai, malah dimarahi.

Tidak heran bila banyak juga mahasiswa/i Indonesia yang sekolah di kampus di luar negeri jadi terlihat pasif. Karena di sekolahan terbiasa menerima komunikasi satu arah, bukan yang interaktif. Juga karena budaya malu bertanya. Malu kalau pertanyaannya dianggap bodoh. Padahal, pepatah China bilang, kira2 terjemahannya begini: bertanya akan membuat kita terlihat bodoh dalam 5 menit, tapi dengan tidak bertanya akan membuat kita bodoh selamanya.

Pengalaman saya kuliah di luar, ternyata professor-professor itu mau meladeni dan menjawab pertanyaan-pertanyaan remeh temeh (yang kadang saya sendiri dalam hati membatin, masak begitu saja ditanyakan sih) dari mahasiswa/i-nya. Ya kadang kalau pertanyaannya terlalu cemen, professor itu juga berkomentar: ya seharusnya kamu sudah tahu ya, sambil bercanda, bukan mengejek atau merendahkan, sehingga tidak membuat orang yang bertanya merasa bodoh atau malu. Memang benar, bahwa cara dan nada bicara mempengaruhi kesan yang ditimbulkan.

But sometimes, be careful with your question. Terlalu banyak bertanya, atau menanyakan hal yang sangat mendasar, atau menanyakan hal yang kurang tepat, juga kurang baik. Bahkan bisa mengesankan malas berpikir. Misalnya saja pengalaman saya.

Waktu itu saya sedang mengerjakan tugas thesis. Tipe professor memang berbeda-beda ya. Kebetulan tipe professor pembimbing thesis saya orangnya tidak terlalu mendikte, paling hanya mengarahkan secara global (malah kalau menurut saya, beliau terlalu melepas anak didiknya untuk mandiri). Bagi dia yang penting, saya harus punya tujuan yang jelas tentang apa yang akan saya kerjakan, mengerti betul apa yang saya kerjakan, sehingga ketika defense nanti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Di awal mengerjakan thesis, saya, yang belum paham betul dia orangnya bagaimana, dengan santai bertanya untuk meminta saran tentang metode apa yang mesti saya gunakan untuk mengerjakan suatu tahap dalam thesis saya.

Dan dia menjawab: yes, there are many ways to do that. You can choose to use the method of  A, B or C. It’s all up to you. The important thing is, you have to have good reasons why you choose that method. 

You are engineer. You have to think.

Ngomongnya sih halus dan intonasinya rendah. Suaranya juga pelan, sehingga tidak terdengar oleh para mahasiswa/i PhD -nya yang berada di sekitar ruangannya. Tapi, 2 kalimat terakhir itu cukup untuk menghilangkan mood saya dalam mengerjakan thesis selama 3 hari.

But the good thing, I have learned new things: curiosity and learning process. 

Seharusnya pertanyaan itu memang saya ajukan ke diri saya sendiri, untuk kemudian saya cari jawabannya.

Ada hal-hal yang memang perlu kita tanyakan. Tapi ada juga hal-hal yang mesti kita usahakan dulu untuk mencari jawabannya sebelum bertanya. Mendapat jawaban dengan mudahnya, akan mematikan proses berpikir seseorang. Seperti juga barang yang jarang dipakai lama-lama bisa rusak sendiri, otak yang jarang berpikir juga lama-lama akan menjadi tumpul. Proses belajar satu arah membuat anak hanya akan menerima, sesuatu memang demikian adanya, tanpa membangkitkan rasa ingin tahunya, mengapa sesuatu itu demikian.

Mendapat jawaban dengan mudahnya dapat juga diibaratkan seperti diberi ikan. Yang ada ketika ikannya habis kita harus meminta lagi, tidak bisa mencari ikan sendiri. Sementara berpikir ibarat diberi pancing. Kita bisa mendapatkan ikannya melalui usaha sendiri.

At the end, I thank him a lot.

Malu bertanya, sesat di jalan, but please use your brain when doing your thesis. 

Advertisements

3 thoughts on “? Bertanya ? dan proses belajar

  1. Mbak Erin, bener banget…. saya mengalaminya. Ga hanya saya, tapi juga beberapa teman dari Indonesia. Awalnya kami kelihatan pasif banget. Saya sering diskusi hal ini dengan adik ipar saya, rasanya ada yang salah dengan “suasana belajar” di sekolah di Indonesia. Kita diharapkan diam, patuh pada guru. Padahal guru juga belum tentu benar. Saya juga berdiskusi mengenai hal ini dengan group studio saya di Leuven. Kami berasal dari Indonesia, Peru, Bolivia, Italia dan Vietnam. Dan ternyata teman yang dari Vietnam memiliki suasana sekolah yang mirip dengan Indonesia. Guru dianggap tahu segalanya….
    Entah mengapa, saya merasa kadang sekolah di Indonesia kurang mendorong siswa untuk berani berpendapat, berani berinisiatif, bahkan berani kreatif…

    1. Iya, yang paling mirip kulturnya sama Vietnam. Mungkin krn sama2 Asia. Tapi pengalaman saya, teman2 Vietnam saya dulu lumayan aktif2 dan pede abis walau bahasa Inggrisnya belepotan, hehe.
      Btw, siip tuh groupnya sama orang2 dari sesama orang nonlokal

  2. “There is no such stupid question”, itu adalah quote yang saya juga ingat betul waktu menempuh pendidikan di luar negeri. Oleh karenanya perlu juga dibiasakan oleh guru untuk mendorong anak2 muridnya untuk bicara dan mengungkapkan pendapat.
    Semua berawal dari pendidikan, dan kita tahu bahwa sekolah bukan satu2 nya tempat untuk mendorong anak untuk berbicara, bertanya dan mengungkapkan pendapat. Adalah keluarga yang juga perlu mengajari dan menanamkan sifat2 ingin tahu dan percaya diri dalam “curiosity”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s