Tips

Menyelamatkan diri dari bahaya asap rokok

Tulisan, ulasan bahasan dan diskusi tentang bahaya merokok sudah banyak. Peringatan dan larangan merokok juga tidak kalah banyaknya. Slogan peringatan merokok pun baru2 ini sudah berganti menjadi ‘rokok membunuhmu’. Tapi apakah itu menghentikan para perokok untuk merokok? Atau produsen untuk menghentikan usahanya?

Rasanya tidak. Jika melihat jumlah perokok di Indonesia (menurut sumber) yang diperkirakan mencapai 52 juta orang, dan pertumbuhan jumlah perokok yang meningkat sebanyak 57% selama 30 tahun terakhir. Oh ya, jangan lupa, angka tersebut merupakan tertinggi kedua berdasar hasil penelitian The Institute for Health Metrics and Evaluation (IMHE) dan diterbitkan dalam Jurnal Kesehatan Amerika, Rabu, 8 Januari 2014. Tidak heran ya kalau beberapa orang terkaya di Indonesia adalah pengusaha rokok.

Menyebalkannya, rokok itu merugikan bukan hanya si perokok aktif, tapi juga para perokok pasif yang pastinya sangat tersiksa jika harus terpaksa menghirup asap rokok. Parahnya, para perokok biasanya tidak peduli dengan lingkungan sekitar, tidak peduli kalau kegiatan merokoknya itu membuat banyak orang di sekitarnya tidak suka. Yaiyalah, bagaimana mungkin dia peduli sama kesehatan orang lain kalau sama kesehatan dirinya dan keluarganya saja dia tidak peduli.

Saya punya banyak pengalaman soal berinteraksi dengan para perokok, berikut ini adalah salah satunya yang paling parah dan membuat saya sangat murka. Jadi ceritanya saya jadi ‘orang baru’ di kantor dan saya ditempatkan di suatu bagian. Kaget lah saya begitu datang di bagian itu yang mana ruangannya penuh dengan bapak2 dan mas2 yang merokok. Ya, karena saya sangat sensitif dan alergi dengan bau asap rokok. Langsung sesak rasanya.

Saya keluarkan dulu sinyal2 halus soalnya saya kan anak baru. Masak iya baru masuk hari pertama langsung menegur belasan perokok. Sinyal2 halus tanda tak nyaman dengan asap rokok sudah tidak mempan, seperti mengibas2kan tangan di depan muka atau menutup hidung dengan tissue. Saya pun memakai masker sekali pakai setiap hari. Orang2 pun mulai bertanya kenapa saya pakai masker. Saya jawab saya terganggu dengan asap rokok. Kurang mempan juga rupanya. Ya ada yang kemudian sedikit menjauh kalau sedang merokok, tapii cuma sedikiit. Ya sama saja bohong dong, wong ruangannya memungkinkan asap menyebar ke segala arah. Yang menyebalkan malah ada yang bilang ‘lha ini memang gudangnya perokok’ sambil tertawa2. #sangat tidak sopan#

Berikutnya setiap hari saya selalu turun ke lantai bawahnya (karena udaranya lebih bersih dari asap rokok) sambil tenteng2 laptop dan menumpang di meja mana saja yang sedang kosong dan bekerja di sana. Makin banyak yang bertanya kenapa saya begitu, termasuk atasan2, dan tetap tidak ada yang mereka lakukan. Parah nih. Kemudian saya lapor ke atasan soal masalah ini, karena saya benar2 terganggu dengan asap rokok, tanggapannya ‘yaah bagaimana lagi, memang begitu, saya juga susah melarangnya’.

Ya sudah, berikutnya, tanpa sungkan, saya tegur itu bapak2 dan mas2 kalau merokok. Pernah juga saya umpetin (atau saya buang ya) rokok2 dalam bungkusnya berikut asbaknya.

Kesimpulannya..,

most of time, percuma menyadarkan perokok untuk berhenti dan mengerti bahwa kegiatannya itu merugikan orang di sekitarnya. Perokok itu egois dan mereka tidak mempan diberi sinyal2 kasar apalagi halus. Jadi ya langsung tegur saja! Suruh dia matikan rokok atau menjauh 1000 meter dari kita. Tidak usah memikirkan perasaannya, bagaimana ya kalau kita menegurnya di depan banyak orang. Cuek saja, lha dia saja cuek sama ketidaknyamanan orang di sekitarnya.

Eh tapi, kalau mau menegur, lihat2 orangnya juga ya, Kalau tampangnya kayak preman ya mending kita saja yang menghindar dari dia, daripada ditonjok :D. Dan jangan lupa, tetap pakai bahasa yang sopan.

Yang sudah2 sih, kalau saya atau suami yang menegur di tempat umum, tanggapannya sejauh ini baik2 saja, dalam arti tidak ada yang lalu marah atau tersinggung. Umumnya mereka langsung mematikan rokoknya atau pergi.

Oh ya supaya makin mantap menegurnya, kita harus tahu dasar hukumnya. Sekalian saja print, copy dan bawa Perda Kawasan Tanpa Rokok Tahun 2013 (contoh: di Semarang)  ke mana2. Hitung2 jadi relawan sosialisasi peraturan tersebut. Setidaknya membuat para perokok semakin terdesak ruang geraknya. Diperkirakan kan jumlah perokok ‘hanya’ 52 juta orang. Jadi, penduduk Indonesia yang tidak merokok kan mestinya jaaauhh lebih banyak daripada yang merokok. Ya kan, ya kaaan?

Ayoo, bersama kita berani dan bisa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s