My Hijab Story (1)

Tulisan ini terinspirasi dari buku 99 Hijab Stories – nya Muhammad Assad. Saya jadi ingin menulis cerita saya juga.

So, here we go…

—–

Saya datang dari latar keluarga muslim yang biasa saja dalam beragama, dalam arti taat sekali ya tidak, ingkar sekali juga tidak. Saya sholat dan puasa sejak kecil, tapi kalau saya tidak sholat atau puasa pun orang tua tidak memarahi saya. Saya cukup beruntung, ketika SD sempat sekolah di sekolah Islam. Memang beda ya, banyak ilmu dan pembiasaan2 dalam hal keislaman dan beribadah yang tidak saya dapatkan ketika bersekolah di sekolah negeri. Juga semangat beribadahnya. Lulus SD, saya kembali sekolah di sekolah negeri. Nuansa keIslaman kembali luntur pada diri saya. Sholat masih bolong2. Begitu pula dengan puasa Ramadhan. Apalagi yang sunah2.

Ketika kuliah saya bersekolah di universitas Katholik. Memang tidak dilarang untuk berhijab. Datang kuliah telat dengan alasan sholat saja tidak dimarahi. Tapi karena lingkungan kampus dan pergaulan saya kebanyakan non Islam, maka bisa dibilang kehidupan beragama saya cenderung statis ketika kuliah. Saya tetap berpuasa di bulan Ramadhan karena memang sudah terbiasa sejak kecil, jadi hal itu tidak menjadi masalah walau suasana Ramadhan di kampus hampir tidak terasa. Sholat wajib pun tetap saya lakukan, walau terkadang malas dan sering dilakukan di akhir2 waktu. Untuk sholat saya dan teman sesama muslimah harus ke masjid di luar kampus atau menumpang di kamar kos salah seorang teman.

Awal mula berhijab

Pertama kali keinginan berhijab datang yaitu sekitar tahun 2007. Waktu itu saya masih single dan bekerja di Jakarta. Beruntung saya dipertemukan dengan teman2 yang baik, yang pergaulannya lurus2 saja dan tidak aneh2. Suatu hari salah seorang teman, mengajak saya untuk gabung ikut pengajian di Youth Islamic Study Club (http://www.yiscalazhar.org/) di Al Azhar yang terletak di belakang kantor tempat saya bekerja. Di sana, setiap hari minggu pagi dari jam 8-12, saya belajar mengaji dan pengetahuan agama bersama banyak anak2 muda yang sama2 ingin belajar lebih jauh tentang Islam. Setiap ke sana saya selalu mengenakan hijab untuk menyesuaikan dengan lingkungan, karena hampir semua muslimah yang datang ke sana mengenakan hijab. Saya kagum dengan teman2 muslimah yang rata2 berusia di kisaran 20-30 tahunan tersebut yang sangat bersemangat untuk belajar agama. Padahal tempat tinggal mereka jauh2. Apalagi di tengah godaan trend fashion dan kehidupan modern di Jakarta, saya semakin kagum dengan masih banyaknya anak2 muda muslimah yang sudah sadar diri untuk mengenakan hijab.

Suatu hari sepulang kantor, saya bertemu dengan teman2 muslimah tersebut di mal. Mereka pun akhirnya tahu bahwa sebenarnya sehari2nya saya belum berhijab. Apalagi kemudian teman2 yang lain pun mengetahuinya dari akun social media saya yang memuat foto2 saya dengan pakaian biasa. Ada perasaan sedikit malu dan risih, karena biasanya saya berhijab di depan mereka. Ternyata rasa malu itu bisa muncul juga karena kebiasaan.

Sesekali muncul keinginan untuk berhijab permanen. Apalagi kalau menemani belanja teman2 saya yang sudah berhijab. Bahkan kalau melihat baju, kerudung atau bros yang lucu saya jadi ikutan belanja juga. Cuma saya mikirnya masih ribet. Malu untuk memulai tampil yang beda dari biasanya. Dan merasa ribet karena itu berarti saya harus sekaligus belanja banyak baju dan kerudung, mengingat baju2 lama saya banyak yang susah dimodifikasi untuk mengenakan hijab. Akhirnya keinginan tersebut maju mundur hingga saya berpikir nanti sajalah kalau sudah menikah.

Saya kemudian menikah di tahun 2009. Sebulan setelah menikah saya pindah ke Bandung karena suami saat itu bekerja di Bandung. Tapi ternyata kesibukan mencari kebutuhan berumah tangga dan menyesuaikan diri di lingkungan yang baru membuat saya lupa dengan rencana berhijab. Setelah kondisi agak santai, saya hamil. Keinginan untuk berhijab kembali maju mundur karena ketika hamil rasanya geraaah sekali.

Kembali muncul niat dalam hati kalau berhijabnya setelah melahirkan saja. Kenyataannya, setelah melahirkan (2010) malah tambah repot, hingga tidak sempat memikirkan soal itu lagi. Ditambah pula dengan surprise news setelah sebulan melahirkan, bahwa saya mendapat beasiswa dan dijadwalkan berangkat kurang dari 4 bulan kemudian. Semakin banyak urusan, dari Semarang boyongan ke Bandung, urus2 dokumen ke Jakarta, pindahan total ke Semarang, cari baby sitter dan lain2nya. Sempat terbersit, enaknya kalau berubah penampilan pakai hijab pas masuk ke lingkungan baru, dalam hal ini ke Belgia.

Eh tapi sempat mikir juga, dari kemarin2 kan saya kirim dokumen ke universitas, daftar beasiswa, pasfoto untuk passport, visa, dsb, tanpa hijab. Bagaimana kalau nanti ada masalah di sana. Belum lagi khawatir dengan keamanan dan kenyamanan berhijab di negeri di mana muslim merupakan minoritas. Akhirnya niat berhijab kembali saya urungkan. Jjalan menuju kebaikan banyak sekali godaannya. Btw sebenarnya, sayanya saja sih yang kurang niat, jadi mudah tergoda oleh bisikan2 setan.

Dua tahun kemudian (2012), menjelang pulang ke Indonesia, saya kembali berniat untuk berhijab segera setelah pulang. Sempat terbersit, limitnya 1 minggu setelah pulang harus sudah berhijab. Saya pun segera berkoar2 ke suami soal rencana tersebut. Dia senang bukan main, soalnya sebelum menikah pun dia menginginkan saya berhijab.

Dasar bandel, begitu pulang, ternyata saya disibukkan untuk beradaptasi, baik dengan cuaca, udara, makanan, peran sebagai ibu, dan sebagainya, yang membuat saya sedikit lupa dengan rencana semula. Satu minggu pertama tiba di Indo, kelelahan pindahan membuat saya menghabiskan sebagian besar siang saya untuk tidur. Ditambah saya menderita diare berat, mual dan muntah2 serta maag. Terbiasa selama 2 tahun menghirup udara bersih di Belgia, begitu balik Indo, saya yang pada dasarnya punya bawaan alergi debu pun langsung kumat. Bernafas rasanya sumpek. Tenggorokan saya juga radang parah selama 1 bulan yang mengakibatkan batuk2 terus menerus yang buat menelan dan bicara saja sakitnya bukan main. Dada pun nyeri karena terlalu sering batuk2.

Selanjutnya, saya yang selama 2 tahun terakhir di Belgia ‘hanya’ pernah sakit flu 2x, langsung ditimpa berbagai macam penyakit berturut2. Puncaknya, pada suatu hari saya sedang santai menonton acara televisi (on the spot nya trans 7 kalau tidak salah) sendirian, di mana menayangkan tentang orang2 yang mati mendadak. Saat itu yang saya lihat, rekaman yang diambil dari CCTV, orang sedang sholat di masjid setelah sujud tidak bangun2 lagi. Mendadak saya panik dan berasa mau pingsan, karena merasa amat sangat takut kalau Allah memanggil saya dengan tiba2, sedangkan saya masih jauh dari taat dan banyak dosa. Saya takut menyesal di alam kubur sedangkan waktu saya untuk bertobat sudah usai.

Yang langsung terlintas di kepala saat itu adalah saya ada janji mau pakai jilbab sejak lama, namun belum terlaksana hingga saat itu (November 2012; 2 bulan setelah saya balik Indo). Kebetulan hari itu weekend, sehingga saya langsung minta tolong diantar oleh kakak untuk ke rumah sakit karena mendadak jantung saya berdebar kencang, sesak nafas, tangan dingin, dan badan rasanya lemaas sekali. Mungkin seperti serangan panik. Tanpa pikir panjang, saya langsung ganti baju dan berpenampilan baru, yaitu memakai jilbab. Dalam pikiran saya, setidaknya sebelum saya mati, saya sudah memenuhi niat saya untuk berhijab. Tidak lupa sebelum berangkat ke RS, ibu saya membekali dengan setermos teh hangat untuk menambah energi supaya tidak pingsan.

Saya langsung diperiksa di UGD, dan benar saja, tekanan darah saya rendah sekali. Seingat saya 100/60. Saya minta cek lab. Pak dokter sudah bilang, ini sepertinya hanya darah rendah biasa saja. Yang mungkin karena kecapekan atau kurang asupan bergizi. Jadi dia menyarankan makan makanan yang bergizi dan beli vitamin sendiri saja. Karena saya penasaran, minta rujukan cek lab. Dan benar saja semuanya normal dan baik2 saja.

Tapi selama berhari2 setelahnya perasaan saya tidak tenang. Entah kenapa selalu dihantui ketakutan kalau tiba2 Allah akan mencabut nyawa saya dengan mendadak. Sungguh saya belum siap. Masih banyak dosa, belum banyak tobat. Pikiran2 itu semakin membuat saya stres.

Sekitar seminggu kemudian, tiba2 saya kembali mengalami hal yang sama. Lebih parah lagi, ketika saya ke RS dianter bapak, saya hampir tidak kuat jalan karena kepala rasanya berat dan nggliyeng. Setelah dicek ke dokter dan diukur tensinya oleh suster, tensi saya naik drastis, kalau tidak salah hingga  160/90. Dokter (yang berbeda dengan minggu kemarin) sampai tidak percaya, karena melihat catatan saya minggu lalu tensinya rendah sekali. Dia lalu memeriksa ulang sendiri dan memang segitu hasilnya. Dokternya pun langsung tanya macam2 tentang kegiatan saya sehari2, pekerjaan, keluarga dll, dan sepertinya jadi berasumsi saya sedang stres, hehe. Jadinya malah dikasih obat maag.

Selanjutnya, setelah saya memperbanyak sholat, dzikir, baca al Qur’an, dengar ceramah dsb., intinya mendekatkan diri kepadaNya, kesehatan saya membaik perlahan2. Hati pun rasanya lebih tenang dan nyaman setelah berhijab, yang saya anggap sebagai titik balik keinginan saya untuk lebih taat kepada Allah.

to be continued…

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Erin, Siraman rohani and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s