Dinas ke luar kota bersama Saskia

Tahun lalu saya masih takjub mendengar seorang teman yang membawa anak balitanya (berikut mbak pengasuhnya) ketika dia dinas. Yang terlintas di kepala saya: wow, luar biasa, terbayang repotnya, dan yang pastiii… tekor doong.., uang saku dinas  buat bayar transport dan penginapan si anak dan pengasuhnya.

Ternyata…Ya! Akhirnya minggu lalu tiba juga giliran saya. Karena pappanya Saskia saat ini belum bisa kumpul dalam satu kota bersama Saskia dan mammanya (insya Allah semoga dimudahkan proses pindahnya atau dapat kerjaan baru di kota yang sama bersama kami, aamiin)… kalau saya harus dinas ke luar kota begini bingung deh ‘Saskia sama siapa?’. Mbah Ti-nya juga lagi sakit. Mbah Kung-nya lagi dinas keluar kota. Dan kami sedang tidak punya ART/ pengasuh. Hyaaa…

Tadinya mau (lagi2) menolak dinas. Biasalah ibu2 muda. Konflik peran antara ingin menjadi ibu yang baik dan tanggung jawab pekerjaan di kantor. Kalau jaman single dulu mah, disuruh dinas ke mana saja, mendadak pun, selalu siap untuk berangkat. Kalau sekarang mah, duuh, kalau bisa yang lain saja dehh… Saya jaga kantor saja, pak…

Tapi setelah lapor pappanya Saskia, malah didukung untuk tetap berangkat. Karena kebetulan mas Yudha lagi tidak terlalu sibuk di kantornya, dan ada peluang untuk bisa cabut ke Jakarta, jadi bisa menemani Saskia selama saya ada acara, jadi deh, saya pun memutuskan untuk mengajak Saskia dinas kali ini.

Repot dan heboh pastinya. Dalam waktu singkat harus packing keperluan berdua. Dan, kebetulan, ini sekaligus jadi pengalaman pertama saya pergi keluar kota hanya berdua dengan Saskia. Sebelum berangkat saya sudah kasih warning untuk jangan minta gendong. Karena bawaanya banyak dan kita tidak pergi bersama Pappa. Sebenarnya untuk dinas begini kalau tidak ajak anak, saya bakal naik pesawat paling pagi. Tapi untuk mencegah ketergesa2an, saya pun naik kereta sore sebelumnya.

Alhamdulillah acara naik kereta berjalan lancar. Walaupun, mendekati jamnya berangkat, mendadak si kereta pindah jalur yang tadinya di jalur 1 jadi jalur 3. Sedangkan, fasilitas di stasiun Tawang yang payah, tidak ada tunnel untuk menyeberang pindah jalur. Kalau saya seorang diri mestilah sudah jalan langsung menyeberang rel dan melompati gerbong kereta yang ada di jalur 2, seperti juga orang2 lain, karena paling saya cuma bawa 1 tas ransel.

Tapi, berhubung bawa Saskia, selain harus menggandeng Saskia saya juga harus membawa koper seret, tas ransel dan tas selempang. Akhirnya saya pun berjalan cepat memutari gerbong2 di jalur 2 yang lumayan jauh juga, karena gerbong kami terletak di bagian belakang. Semenit 2 menit kemudian setelah kami duduk, kereta pun berangkat.

Alhamdulillah, dinas 2 hari berjalan lancar. Sebenarnya 1 hari kelar sih. Memang selesainya sampai sore. Kalau saya sendiri, pasti saya akan memilih untuk langsung menuju airport seusai acara dan pulang malam itu juga pakai pesawat terakhir. Hanya, (lagi2) karena bersama Saskia saya harus balik ke hotel, packing dan mempersiapkan bocah kecil itu untuk pulang, bakal tergesa2 dan khawatir tidak terburu, jadilah saya memutuskan pulang keesokan harinya.

Beda dengan pulangnya, karena kami kehabisan tiket kereta, kami pun naik pesawat. Itu juga pesawat afternoon, karena pesawat pagi sudah ludes. Mungkin gara2 seminggu menjelang puasa, banyak yang pulang kampung. It’s really unplanned. Ini sekaligus jadi pengalaman pertama Saskia naik pesawat.

Alhamdulillah walau ribet tapi semua berjalan relatif lancar. Saskia so excited untuk naik pesawat. Dan rada norak, nanya ini itu banyak banget 😀 Ini apa. Buat apa. Kenapa begini. Kenapa begitu. Semua2 ditanyaan. Hanya saja, berhubung prosedur naik pesawat di airport-nya agak panjang (mesti antri check-in, masukin bagasi, antri bayar boarding pass, screening sebelum chek in dan sebelum menuju ruang tunggu di gate-nya… juga jalannya yang lumayan jauuh, sementara dia tidak boleh minta gendong), ketika di pesawat, setelah take-off, matanya Saskia pun perlahan redup mengantuk dan kelelahan…, ketika pesawat sudah berada di atas awan, Saskia pun terlelap hingga saya bangunkan tepat ketika landing.

Alhamdulillah, memang kita tidak akan tahu hikmah sebelum terjadi sesuatu. Sesuatu yang tadinya saya pandang menyebalkan dan merepotkan, ternyata banyak hikmah di balik itu semua. Bisa bertemu dan merayakan ultah pappanya Saskia bersama pas harinya, pada hari kerja… Bisa bertemu sahabat2 lama dan bertukar kabar dan cerita, plus curhat dilema emak2 bekerja… Bisa bertemu orang2 baru sehingga wawasan tidak cupet karena jarang keluar kantor… Bisa mengajak Saskia jalan2 naik kereta dan pesawat sambil mengajarkan hal2 baru ke dia…

Dan memang benar, di balik kesulitan ada kemudahan. Di balik kerepotan itu semua, Allah memudahkan saya dalam mendapatkan tiket untuk berdua, dapat tempat duduk sebelahan. Dimudahkan mendapat penginapan. Semua melalui pertolongan teman2. Juga jadi ada barengannya menginap di hotel yang sama, jadi saya tidak benar2 sendirian.

Alhamdulillah.

Oh ya, mau tahu apa kesan Saskia setelah pertama kalinya naik pesawat?

‘Gak enak. Enakan naik kereta. Soalnya kalau naik pesawat itu jalannya (di airport) lamaaa, jauuuh. Pakai antri2 bolak balik. Di pesawat, perutnya diikat. Tidak bisa berdiri2, tidak bisa jalan2, tempat duduknya sempit. Terus habis turun nunggu bagasinya lamaaa.’

Apa jadinya ya, dan komentarnya kalau diajak naik pesawat ke Belgia atau bahkan US, yang bisa makan waktu 2 hari karena bolak balik transit??

:))

 

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Saskia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s