Pindah rumah

Tepat 2 hari sebelum Ramadhan, akhirnya target kami kesampaian juga: pindah rumah sebelum Ramadhan. Serba dadakan. Tanpa perencanaan matang. Bisa juga, hehehe. Memang tidak semua hal harus direncanakan matang2. Kadang kita harus bertindak segera. Maka beberapa hari sebelumnya ketika mas Yudha mengajak ‘pindah besok jumat yuk?’ Hayuukk.

Begitulah pasangan. Saling mempengaruhi. Tanpa sadar sedikit banyak saya mulai ketularan karakternya dia yang seringkali melakukan sesuatu dengan spontan. Kebalikan banget sama saya yang segala sesuatu harus terjadwal, dan pakai acara janjian dulu. Yang kalau sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, ngomel2. Duluu ya itu, duluuu. Eh sekarang juga masih sih, cuma sudah berkurang kadarnya.

Yak, rumah baru. Alhamdulillah, kelar juga. Rumah tua yang kami beli itu, kami renovasi besar2an. Saya (dan mas Yudha) alhamdulillah senang dan puas, karena sebagai civil engineers kami akhirnya bisa mempraktekkan ilmu kami dengan nyata di lapangan. Merancang dan mengawasi pelaksanaan pembangunan rumah kami sendiri. Yang dibangun dengan biaya hasil keringat kami sendiri (well yah, sama sebagian subsidi dari orang tua). Banyak sekali ilmu yang kami dapat dari sini. Jadi mengerti deh, kenapa pelaksanaan tidak selalu bisa sesuai rencana.

Kalau di kantor kan, bisanya cuma ngomel2 sama kontraktor, kok progressnya minggu ini kecil sih; item pekerjaan X kok belum mulai2 juga sih; item pekerjaan Y kok belum kelar2 juga sih; spec materialnya kok diturunkan sih; kualitasnya kok jelek begini sih, gak rapih; kemarin saya bilang ini mesti diginiin, kok malah digituin sih; kemarin saya bilang yang dikerjakan yang ini dulu kok malah yang itu dulu sih; dsb…

Terus, kalau ke kontraktor partnernya kantor, mah, kalau ada salah, enteng banget ngomong ‘bongkaarr..’ .. kalau membangun rumah sendiri, dan sebagian besar pakai biaya sendiri, mikir 10x deh kalau mau suruh bongkar. Karena suruh bongkar berarti: biaya lebih banyak untuk bayar tenaga pekerja, dan material yang terbuang. Jadi kalau tidak parah2 banget, lebih baik diterima dengan ikhlas, sambil diakalin.

Olalaaa, ternyata ada banyak faktor yaaa ketika di lapangan, masalahnya tidak melulu soal teknik. Belum lagi ribut2 sama pasangan gara2 beda keinginan.

Syukurlah, masa2 itu sudah berlalu. Rumahnya sudah berdiri tegak, dan bisa dibilang 95% sesuai dengan rencana semula. Bagaimanapun, tinggal di rumah sendiri, lebih merdeka. Alhamdulillaah… semoga menjadi rumah yang berkah, membawa kebaikan bagi penghuni dan lingkungannya. Semoga juga makin mendekatkan keluarga kami kepadaMu.

‘Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Cerita kita. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pindah rumah

  1. agungwah says:

    Alhmdlh, senang jg ya. Di semarang apa di bandung bu rumahnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s