Uncategorized

Puasa di negeri orang #latepost

Senangnya kembali merasakan buka dan sahur bersama mas Yudha (walau tidak setiap hari), yang mana  terakhir kali dilakukan pada… 2010! (Pas Saskia baru lahir. Sekarang, anaknya sudah jadi anak TK. Lama juga yaa..)

Teringat masa berpuasa di Belgia yang sangat berkesan dan penuh tantangan. Amat sangat berbeda dengan suasana puasa di negeri sendiri. Tahun pertama (2011), saya berpuasa di sana ketika harus menjalani 2 re-exams pada musim liburan academic year plus musim panas. Di saat teman2 yang lain pada berkumpul dengan keluarganya untuk berlibur, saya harus kembali lebih awal ke Belgia untuk ikut re-exams. Tahun ke dua (2012), saya memang tidak bisa pulang karena harus menyelesaikan thesis dan defense di akhir masa summer holidays tersebut, pada awal September, sebelum akhirnya bisa kembali for good ke Indo.

Bagaimana rasanya?

Bayangkan sendiri yaa..

Pertama, berpuasa di negara 4 musim benar2 penuh tantangan. Kalau biasanya di Indo (khususnya di Semarang), subuhnya sekitar jam 4.30 WIB, dan maghrib sekitar jam 17.45 WIB, yang mana berarti durasi berpuasanya tidak lebih dari 13.5 jam. Di Belgia ketika itu, kebetulan Ramadhan berlangsung pada bulan Juli-Agustus, yang mana musim panas lagi di puncaknya. Yang artinya siangnya jauh lebih lama daripada malamnya. Waktu itu subuhnya sekitar jam 3, dan maghribnya sekitar jam 21.30. Jadi durasi puasa sekitar 18.5 jam. Baru buka, langsung sholat magrib, makan malam, terus nunggu isya yang sekitar jam 11an, langsung taraweh. Tau2 sudah lewat tengah malam. Tidur sekitar 2 jam, terus bangun jam 2 dini hari, sudah sahur lagi.

Akhirnya, kadang, karena takut kebablasan tidur, saya suka begadang malam, tidurnya sekalian habis subuh sampai siang 🙂

Kedua, berpuasa di negeri di mana muslim merupakan minoritas, jangankan suara orang membangunkan sahur dan mengingatkan imsak, suara adzan pun tidak terdengar. Jadi benar2 hanya mengandalkan gadget yang sudah diinstal program adzan, atau informasi waktu sholat dari internet (baca: sholat di negeri orang).

Lalu, kalau jalan2 ke kota, orang2 sedang makan terlihat di mana2, seperti biasanya. Suasana restoran/kantin/tempat makan juga tetap seperti biasa. Maksudnya, kalau di Indo kan tempat makan makin sedikit pengunjungnya, dan biasanya ditutupi kain jadi tidak terlihat langsung.

Malah untuk para lelaki, barangkali ujian puasa di sini lebih berat, apalagi di musim panas begitu, di mana banyak perempuan2 berpakaian super minim berseliweran di jalan2 dan bergeletakan di taman2 untuk berjemur.

Bedanya lagi, kalau di Indo kan, salah satu yang bikin suasana Ramadhan terasa yaitu siaran TV yang mendadak banyak menampilkan tausiyah dan talkshow yang bertemakan Ramadhan, acara masak memasak dan tayangan2 lain yang Islami. Di Belgia, untuk menghadirkan suasana Ramadhan sambil sahur atau berbuka, saya banyak nonton tayangan2 tausiyah atau talkshow di youtube. Alhamdulillah ya, internetnya mendukung.

Ketiga, berhubung saya tinggal di asrama dan kebetulan itu di musim libur, yang mana asrama jadi sepi karena para penghuninya pada pulang kampung (eh ada 1-2 orang deng yang menyewa kamar, tapi tentu saja non muslim), jadi yaa, saya sahur2 sendiri, masak2 sendiri, buka2 sendiri, taraweh2 sendiri. Maka saya pasang alarm sampai 3, karena tidak akan ada yang gedor2 pintu untuk bangunin sahur.

Acara buka puasa dan taraweh bersama biasanya hanya sesekali dengan teman2 sebangsa setanah air dan seagama, di tempat salah seorang teman. Atau sekali dua kali kalau pas ada acara di KBRI.

Ke-empat, bersyukurnya, musim panas di sini tidak separah kemarau di Indo (khususnya di kota2 pinggir pantai di Jawa). Jadinya ya gerah, tapi tidak sampai bikin banjir keringat lengket dan lemas karena kehausan parah sampai hampir dehidrasi. Menurut saya, sepanas2nya summer di Belgia, tetap lebih sejuk daripada panasnya Semarang. Apalagi di sana banyak pohon rindang dan taman serta lapangan rumput yang hijau royo2 :))

Tapinya, tetap saja di masa2 awal Ramadhan saya beberapa hari batal berpuasa. Karena badan belum terbiasa mesti puasa dengan durasi yang lumayan panjang. Lemas kalau sudah lewat jam 7 pm. Tapi lama2 terbiasa juga. Tidak sedikit juga teman2 Indo yang banyak bolong puasanya dengan niat membayar puasa pada saat winter, di mana durasi siang (=durasi puasa)-nya yang terpendek sepanjang tahun (bisa jadi subuh jam 7am, magrib jam 4pm, atau sekitar 9 jam saja).

Kalau menurut saya sih, walau durasinya pendek, tetap saja puasa di musim dingin itu berat. Kenapa? Karena kalau saya sih, kalau musim dingin malah bawaannya gampang lapar, perut gampang keroncongan… jadi mesti banyak makan dan minum susu untuk mempertebal lemak di kulit supaya lebih kuat melawan dingin.

Selain itu, karena dingin dan durasi malamnya panjang, bawaannya gampang ngantuk. Jam tidur kita juga jadi lebih lama, jadinya kurang produktif. Saya baru sadar kalau terang gelapnya langit mempengaruhi tubuh saya untuk terjaga atau mengantuk. Barangkali itulah kenapa para bule biasanya lebih senang menghabiskan winter-nya dengan berlibur ke negara2 tropis.

Pilihan ada di kita, hanya saja yang harus tetap diingat adalah, kalau kuat dan mampu, kenapa mesti menunda…? Lha, iyaa kalau umurnya sampai ke winter… 😛

Happy fasting, wherever you are!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s