Tips

Pilih-pilih dokter

Berawal dari seringnya saya cari info soal dokter dan RS di internet, saya pikir, jaman gini, orang butuh lebih banyak referensi. Gak kayak jaman dulu yang orang sudah merasa cukup dengan 1 rekomendasi dari seorang teman. Kalau saya sekarang sih, tambah mantap lagi kalau dapat lebih dari 1 rekomendasi dari cerita2 orang di blog. Jadilah sekarang saya mau cerita juga soal beberapa dokter dan RS yang pernah saya kunjungi. Barangkali ada yang lagi survei cari2 dokter.

dokter umum

Awal mulanya bisa langganan ke dr. Herni Setyowati adalah karena nenek saya dan keluarga besar dari ibu saya sudah lebih dulu langganan ke sana karena tempat prakteknya dekat rumah nenek. Jadilah saya ikut2an saja, karena kalau saya sakit ringan macam flu, ibu saya selalu membawa saya ke sana, padahal lumayan jauh lho dari tempat tinggal kami.

Begitu pula ketika keluarga tante saya pindah ke tempat tinggal yang lebih jauh. Kalau sakit tetap saja ke ibu dokter keturunan tionghoa ini. Jadi tumbuh semacam sugesti kalau belum ke dr.Herni, rasanya belum mantap, dan penyakitnya belum sembuh2 juga. Aneh juga.

Saya sih tidak mau tersugesti seperti itu. Ketika saya sudah bekerja, sudah bisa bayar sendiri, dan sudah bisa menentukan kalau sakit mau ke mana, saya lebih memilih ke dokter yang praktek di dekat tempat tinggal saya yang juga sama2 perempuan keturunan tionghoa, dr. Inge (lengkapnya siapa ya kok saya lupa). Alasannya sederhana, ya karena dekat saja. Lagipula saya pikir yang namanya dokter umum ya kurang lebih sama saja lah. So far, pengobatan dari dia manjur2 saja sih. Obat2nya juga murah. Dan si ibu dokter ini ramah orangnya. Pasiennya banyak banget. Tapi pernah suatu waktu, saya sakit batuk parah sampai 3 bulan. Saking parahnya sampai kalau batuk dada saya jadi sakit dan agak sesak nafas. Padahal batuknya lumayan sering frekuensinya.

Sudah ke dokter umum dekat rumah dan dokter Askes bolak balik, makan berbagai macam obat, tidak sembuh2, bahkan tidak membaik sedikitpun. Hingga akhirnya ibu saya menyarankan agak memaksa ke dr. Herni. Entah obatnya yang super keras atau tersugesti, atau bagaimana, kondisi saya jauh membaik. Datang kedua kalinya, saya diberi obat dengan dosis lebih ringan, akhirnya batuk saya benar2 sembuh lho, total.

dokter gigi

Sejak saya tinggal di Semarang jaman SMU tahun 1997, dokter gigi saya (juga keluarga saya) tidak pernah berganti: drg. Widya Adriana. Awalnya, kalau tidak salah sih ibu saya dapat rekomendasi dari temannya. Dan ternyata kami sekeluarga cocok. Bahkan ketika saya merantau kerja di Jakarta, ikut suami ke Bandung dan kuliah di Leuven, hingga saya kembali ke Semarang lagi, saya baru akan berkunjung ke dokter gigi hanya kalau pas lagi pulang ke Semarang.

Dulu, saya selalu berkunjung ke tempat prakteknya di RS Telogorejo. Seringnya saya datang ketika beliau praktek hari Sabtu jam 9 pagi. Tapi pasiennya banyak, yang berakibat pada antrinya lama.

Pilihannya tinggal mau nunggu lamaa atau pulang/pergi terus balik lagi. Sama gak enaknya. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, karena kami cukup sering berkunjung ke beliau, bu dokter keturunan Tionghoa yang ramah dan modis ini pun memberikan alamat praktek lainnya, di rumah orang tuanya. Ke sana lebih enak, karena saya tinggal telefon untuk daftar, dan bilang mau datang jam berapa. Kalaupun menunggu, paling 1-2 pasien.

Kenapa saya bisa cocok hingga langganan sampai belasan tahun? … ya karena menurut saya beliau terampil, bersihan, teliti dan rapih. Buktinya, tambalan gigi saya sejak jaman SMU hingga kini masih awet dan tidak bermasalah. Operasi semua gigi geraham bungsu saya juga (gara2 pertumbuhannya mengganggu gigi lainnya), tidak pernah bermasalah. Kalau bersih2kan karang gigi juga sangat berhati2 sehingga tidak sakit.

Lain waktu, saya pernah bertanya tentang bagaimana kalau gigi saya dikawat karena gigi2 seri atas agak miring. Beliau berkomentar, gigi saya sudah bagus dan lumayan rapih. Tidak perlu lah dikawat2, kecuali kondisinya sangat mengganggu, misalnya, makanan jadi sering nyelip2 dan susah bersihinnya, dan berpotensi bikin gigi jadi bolong. Kalau tidak ya sudah, sudah bagus yang asli begini saja, alami.

Pernah juga saya sakit sariawan di lidah, parah hingga 3 bulan. Bukan sariawan biasa. Sakitnya bukan main. Sudah berbagai macam obat dan dokter umum saya kunjungi, tidak sembuh2 juga. Gara2 baca kasus kanker lidah, sempat khawatir juga kalau sariawan kelamaan ini bisa berkembang jadi kanker. Akhirnya saya ke drg. Kunjungan pertama, gigi saya yang dicurigai bersudut tajam dan mengganggu pergerakan lidah saya, diperhalus. Juga diberi obat oles dan obat kumur. Belum sembuh juga. Tapi membaik sedikit.

Kunjungan kedua, Kembali sudut2 gigi diperhalus. Dikasih obat2an lain lagi. Disuruh ganti pasta gigi Sensodyne. Membaik, tapi kalau obatnya habis, kumat lagi.

Kunjungan ketiga, ibu dokter sampai bingung ketika saya nongol lagi, masih dengan masalah yang sama. Kalau dari gigi sepertinya sudah tidak mengganggu. Akhirnya dia kasih saya ganti pasta gigi yang lain lagi (mereknya lupa, tapi kayaknya tidak beredar di supermarket), gratis, karena beliau juga kan suka dapet samples dari sponsor. Kali ini dia tidak kasih resep obat. Biaya periksa juga digratiskan. Saya cuma disuruh banyak makan buah dan sayur, tidak makan manis2, asin2, pedas2 dan goreng2an. Hasilnya, sembuh total :).

Ketika saya kembali lagi beberapa minggu kemudian, untuk memeriksakan gigi Saskia dan pappanya, senangnya beliau ketika tahu saya akhirnya sembuh dari sariawan parah itu.

Ohya saking sudah jadi langganannya kami sekeluarga, beliau kasih saya kado ketika saya menikah dan juga atas kelahiran Saskia. Padahal pas mbahTi dan mbahKung ke drg dengan membawa Saskia itu, saya sedang di Belgia. Langsung ditanya deh namanya siapa. Ketika mbahTi dan mbahKung kembali periksa, tahu2 dikasih kado handuk bayi dengan tulisan nama Saskia Ayuri. Sepertinya baru dengan beliau, bisa akrab dengan dokter langganan secara personal.

dokter SpOG

Ketika hamil Saskia, saya yang waktu itu tinggal di Bandung, langsung memutuskan untuk mencari dokter SPOG perempuan. Bukannya kenapa2, risih saja rasanya kalau diperiksa sama dokter laki2. Setelah bertanya2 ke teman2 yang sudah berpengalaman, karena tempat tinggal saya dekat RS Al Islam Bandung, saya pilih dr. Lina Karlina, SpOG. Dari namanya sudah bisa ketebaklah, Sunda pisan. Ternyata saya langsung cocok periksa sama beliau. Orangnya ramah dan enak diajak konsultasi. Juga menenangkan. Kan ada juga dokter yang caranya menyampaikan sesuatu bikin panik dan pesimis.

Ketika diketahui kehamilan saya plasenta previa total, dan tidak mungkin bergeser untuk bisa lahiran normal, saya sempat coba cari second opinion sama 2 dokter perempuan lain. Hasilnya, sama saja diagnosanya, dan saya tetap lebih sreg periksa sama beliau.

Karena dari awal saya sudah berencana melahirkan di Semarang, ibu saya langsung kasih saran sama dr. Purnomo Hartanto, SpOG. Alasannya, si anu si inu, si onu juga sama dr. Pur. Biasalah ibu2 suka dapat berbagai cerita dari ibu2 lain. Lagian RS nya aksesnya enak kalau dari tempat tinggal kam, yaitu di RS Panti Wilasa Citarum. Berhubung rencananya juga operasi cesar kan, tidak perlu mengkangkang seperti orang melahirkan normal, jadi saya pikir, ya sudahlah, yang penting cepat lahir aja dah, bayinya normal dan sehat, juga emaknya.

Sebagai dokter senior, lumayan laris juga nih pak dokter, pasiennya ampun dah, bejibuun. Daftar antriannya bisa sampai 50 lebih. Jadi kalau periksa mesti sabaar. Belum kalau disambi2 membantu melahirkan, normal maupun operasi.

Nah, di kehamilan yang kedua ini, saya kembali pilih dokter perempuan dong. Setelah survei, jatuhlah pilihan kepada dr. Prima Gestylania, SpOG. Seperti dr. Lina, beliau ramah dan enak juga diajak konsultasi. Prakteknya di RS Roemani dan Hermina. Pasiennya juga banyak. Dan di Roemani tempat saya periksa, setahu saya, biasanya beliau membatasi pasien, bisa 15, 20, atau 25, tergantung kesibukan beliau hari itu kali ya. Menyebalkannya kalau periksa di Roemani, antrinya mesti datang pagi bener. Bahkan sebelum loket buka, calon pasien beliau sudah banyak yang antri daftar. Kalau di Hermina, buka pendaftaran dr. Prima, sehari sebelumnya dimulai jam 8 pagi, dan cukup via telefon. Tapi ya mesti cepet2an juga, soalnya senin-jumat beliau cuma terima 10 orang pasien, dan di hari sabtu, max 20 pasien.

Suatu waktu, pas gak dapat nomor antrian, saya pun mencoba ke dokter lain, yang juga direkomendasikan beberapa teman saya: dr. Sahat Siagian, SpOG. Prakteknya di RS Panti Wilasa dr. Cipto dan Telogorejo. Waktu itu saya datang ke RS Panti Wilasa dr. Cipto. Sebelum ketemu dalam bayangan saya, ini dokter mesti kenceng ngomongnya, kan orang batak. Setelah ketemu, kesan pertama, serius amat orangnya, kalem, tenang, dan suaranya pelan. Kebalikan banget sama perkiraan saya sebelumnya.

Cara memeriksa dan menjelaskannya detail betul, ini apa itu apa, kenapa begini dan begitu, janinnya panjangnya dan beratnya sekian, dan menyarankan pola makan yang baik supaya ibu dan bayi sehat tapi beratnya gak over, tanpa saya perlu bertanya. Sebelumnya juga menanyakan riwayat kehamilan dan melahirkankan serta penyakit saya juga rinci banget. Bagus juga. Ini masih menjadi pedebatan antara saya dan mas Yudha. Saya cocok2 saja sih periksa ke dr. Sahat,  tapi kalau kalau diketahui bakal melahirkan normal, inginnya ke dr. Prima. Alasannya sederhana, soalnya dr. Prima perempuan. Sementara mas Yudha lebih sreg ke dr. Sahat saja.

dokter anak

Yang ini, lagi2 dapat infonya dari ibu saya, dengan alasan si ini, anu, inu, dokternya ke dr. Sedyo Wahyudi, SpA. Ya sudahlah percaya saja sama rekomendasinya. Ibu2 kan banyak pengalaman dan banyak teman, banyak dapat cerita dari teman2nya pula.

So far, baik2 saja sih periksa sama beliau. Orangnya lumayan sabar menghadapi bocah sakit yang suka rewel. Enak juga diajak konsultasi. Maksudnya kalau ditanya2 jawabnya enaklah. Kan ada tuh dokter yang kalau ditanya2 suka singkat jawabnya atau terkesan terburu2.

Ada pengalaman lucu. Saskia kan kutinggal kuliah ketika usia 5 bulan. Jadi ketika itu terakhir kubawa ke dr. Sedyo ya waktu masih bayi. Dalam kurun waktu 2 tahun selama saya tidak di tanah air,  yang sering bawa Saskia ke dokter kan mbahTi-nya. Setelah saya pulang, ketika pertama kalinya periksa ke beliau, dengan santainya beliau tanya, ‘ini siapanya Saskia nih? tantenya?‘. Duh please dok, saya emaknyaaa… Sampai hingga beberapa waktu kemudian, kalau saya ke sana sama Saskia, seringkali nanyainnya, ‘mbahTi-nya mana? gak ikut?‘ … Rupanya si dokter hapal bener bahwa Saskia itu cucunya mbahTi-nya.

🙂

Yak. Pilih2 dokter itu mirip pilih2 sahabat. Kalau kita cocok bersahabat dengan si A, misalnya, belum tentu teman2 kita yang lain cocok bersahabat dengan dia. Begitu pula sebaliknya. Rekomendasi memang penting, sebagai informasi awal. Bagaimanapun, lebih baik bertanya kepada yang sudah berpengalaman kan. Tapi pada akhirnya mau lanjut berkunjung atau tidak, nah itu kembali soal ke-sreg-an dan trust.

Selamat pilih2 dokter!

Advertisements

15 thoughts on “Pilih-pilih dokter

  1. hy mbak erin,
    mau tanya dong untuk dokter kandungan (dr prima di rs. roemani) itu praktek di rumahnya gak yah?? soalnya susah bgd kalo d rmah sakit harus dtg pagi2 buta buat dftar.
    thanks yah

    1. Setahu sy beliau cuma praktek di Roemani dan Hermina Pandanaran. Beliau bagus dan laris tp membatasi jumlah pasiennya.. makanya akhirnya sy pindah dokter hehe.. soalnya males jg kl hrs dftr pagi2 buta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s