Father and daughter

Katanya, seringkali anak perempuan itu, wajahnya mirip bapaknya. Katanya, anak perempuan biasanya lengket sama bapaknya. Katanya pula, anak perempuan itu biasanya jadi anak kesayangan bapaknya? dan sebaliknya. Benarkah?

Gak tau ya, soalnya saya baru punya 1 anak perempuan. Jadi belum tahu kalau punya anak laki2 jadinya bagaimana.

Memang Saskia lengket banget sama papanya. Walau tidak ketemu setiap hari, tapi kalau papanya lagi di rumah, wah, ke mana2 maunya ikut. Papanya sholat di masjid, ikut, dan ikut sholat di barisan bapak2. Kalau papanya pergi ke masjid gak bilang2 dia, pasti deh ribut, dan kadang rada lebay: nangis.

Terus, papanya nyuci mobil, ikut2an. Papanya nyiram tanaman, ikut2an. Papanya ngecat pagar, ikut2an. Papanya ke Superindo naik sepeda panas2 siang2, ikut. Papanya ke bengkel, juga ikut. Dan herannya ko ya betah tuh Saskia ikutan papanya nongkrong di bengkel. Pokoknya ke manapun papa mau pergi Saskia maunya ikut.

(pertanyaan mama, nak, kenapa kalau mama bersih2 atau beres2 rumah ko kamu gak ikut2an ya?)

father and daughter

saskia bantuin papa ngasih pelapis batu alam pada pagar

Di sisi lain, Saskia kadang suka sok cuek dan jual mahal sama papanya, misalnya, kalau disuruh cium pipi papanya pasti deh gak mau. Disuruh pijetin juga gak mau. Dibilang wajahnya mirip papanya juga marah. Katanya soalnya, papa gak cantik.

Tapi di lubuk hati terdalam sebenarnya dia sayang deng. Kalau gak ada, dicariin. Tapi kalau ada suka cuek. Aneh.

Kalau saya bacain cerita putri2an dan di akhir ceritanya kan biasanya putri menikah dengan pangeran. Mesti deh dia bilang, putri itu adalah dirinya, dan sang pangeran itu papanya. Iih, saya bilang saja, ya papa itu pasangannya mama. Biasanya dia marah2, dan bilang kalau pasangannya papa ya Saskia. Up to you lah, nak.

Papanya juga, anak masih balita, tapi suka mikir kejauhan. nanti kalau Saskia sudah gedean terus banyak yang naksir gimana ya? Suka berandai2 pula, ntar kalau Saskia sudah besar terus ada yang ngapelin gimana ya? Mesti pasang tampang galak nih. Kalau berani2 ajak kencan Saskia, pokoknya tidak boleh pergi berdua2an tanpa papanya ikutan. Terus gimana ya nanti kalau Saskia dapat beasiswa kuliah di luar negeri. Papa bilang, ntar kita ikut pindah saja lah. Please deh. Saya saja sebagai emaknya santai aja.

Terus, Saskia kan sudah 4 tahun, sudah saya warning dari jauh2 hari sebelum pindah ke rumah baru, kalau nanti setelah pindah, tidurnya sendiri, di kamar sendiri. Tadinya kan kita selalu tidur bertiga. Tanpa disangka, prosesnya begitu mudah. Awalnya memang minta dikeloni dulu. Tidak berapa lama, dia sudah berani masuk kamar tidur dan tidur sendiri tanpa dikeloni, dengan pintu ditutup dan pakai lampu tidur yang remang2. Bangun tidur tengah malam pun, dia paling nengok ke kamar tidur saya, terus balik lagi ke kamarnya. Sendiri.  Cukup mandiri untuk anak seusianya. Diajak tidur bareng mama papanya lagi malah tidak mau.

Lucunya, si papa tampak kurang rela kalau ternyata gadis kecilnya sudah mandiri dan tampak tidak terlalu membutuhkan dirinya dalam hal tidur. Dia bilang, mungkin kita terlalu kejam ya, membiarkan anak 4 tahun tidur sendirian. Jadilah dia bujuknya lagi supaya Saskia mau tidur bareng kita bertiga lagi. Duh, ampun dah.

Bahkan, walau papanya lagi tidak di rumah, yang biasanya saya dan Saskia tidur masing2 di kamar sendiri2, sekarang malah balik lagi tidur berdua di kamar saya. Gara2 papanya yang pesan, tidurnya berdua lagi aja deh. Alasannya, ngirit konsumsi listrik AC.

(Papa nih, ada2 saja alasannya. Lha wong justru biasanya kami berseteru kalau tidur sekamar, gara2 saya gak kuat kalau pakai AC semalaman, sedangkan Saskia kebalikannya. Kalau AC saya matikan tengah malam, dia bisa terbangun dan minta dinyalain lagi. Jadinya aja, malah boros kali ye, soalnya AC nya jadi on-off-on-off.)

Saya jadi teringat, dulu, ketika saya menikah dan sungkem sama orang tua, justru bapak saya yang menangis. Ibu saya? Terharu sih, tapi mungkin kadarnya lebih sedikit. Barangkali kalau emak2 lagi acara begitu, lebih memikirkan yang penting proses acaranya berjalan lancar.

Juga ketika saya akan berangkat kuliah ke luar negeri. Walau bapak saya amat sangat mendukung saya untuk berangkat, di bandara ketika saya pamit akan berpisah, justru bapak saya yang berusaha keras menahan air matanya supaya tidak menetes, yang akhirnya pecah juga. Ibu saya? Santai saja. Malah dadah2 sambil tersenyum ceria.

Mungkin memang benar. Walaupun seorang anak perempuan telah tumbuh besar, for her father, she will always be his little girl.

saskia n papa

saskia n papa ke lapangan

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Saskia, Yudha. Bookmark the permalink.

4 Responses to Father and daughter

  1. Arman says:

    Iya bonding bapak ama anak perempuan itu beda ya. Walaupun ama anak laki juga deket sih tp ada bedanya. Gak tau jelasnya gimana. Kalo anak laki kayaknya bonding nya lbh kuat ke ibu nya.

    Btw sama ama emma bilang nya gw prince nya. Hahaha

  2. christanto says:

    She always be my little girl, itu pasti hahaha,, gayanya yang sok teu, yang kadang gak make sense,, 🙂 I do like that she is becoming mature, self confident and independent, but I still want to be a person to discuss with, to rely on and anything that making my self be her true father not because of only a status.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s