Pay it forward*

Pernahkah kamu berbuat kebaikan kepada orang asing yang tidak kamu kenal?

Bisa jadi pernah, once or two times or more. But could be you don’t even remember at all, because for you, it’s just something trivial, or negligible. So you do not keep it in your mind. But for the stranger you had helped, it is very meaningful.

I said, very. 

Makanya biasanya, kebaikan itu justru akan membekas sekali di ingatan si penerima kebaikan.

—–

Saya masih ingat ketika saya baru tiba di stasiun Leuven, setelah liburan tahun akademik baru di Indo, di musim gugur 2011. Saya datang dengan barang bawaan segambreng: 1 koper besar dengan berat sekitar 25 kg, 1 koper kecil dengan berat sekitar 10 kg, ditambah tas ransel berisi laptop yang bertengger di punggung saya, dan… oh ya, jangan lupakan tas selempang di pundak saya yang berisi kartu2 identitas, dompet, handphone dan barang2 penting lainnya.

Saya pun tertatih2 dan kepayahan menuruni tangga yang cukup tinggi dan tidak landai di stasiun, selepas turun dari kereta, untuk menuju terminal bis. Seorang diri. Dengan membawa itu semua. (Kalau di Gambir sih sudah pasti saya bakal diserbu para kuli angkut. Dan pasti pula saya akan langsung menerima tawaran jasanya, yang tidak gratis tentunya).

Tiba2, ada seseorang, yang sekilas saya lihat sedang lewat di lorong bawah, dan barangkali tanpa sengaja menoleh ke arah tangga yang sedang saya turuni, berhenti, kemudian memanggil dari ujung tangga bagian bawah itu, dan berteriak, ‘hey! do you need a help?’

Sejenak saya menoleh ke kanan, kiri dan belakang, untuk memastikan lelaki muda bule Belgia itu sedang berbicara ke arah saya. ‘yes, you!‘ teriaknya lagi. Langsung saja saya sahut, ‘yes! for sure!

Dengan cepat dia langsung menaiki tangga dan mengambil alih koper2 dari tangan saya, kemudian menaruhnya di ujung tangga bagian bawah. Saya pun mengucapkan terima kasih banyak kepadanya, berulang2. Hal yang sederhana, tapi sangat meringankan beban saya ketika itu. Itu pun dia masih menawarkan bantuannya lagi untuk membawakan barang2 saya ke terminal ketika tahu saya hendak ke sana. Padahal dari arah jalannya tadi saya bisa menebak dia baru mau naik kereta. Saya tolak dengan halus, karena tidak mau terlalu merepotkan orang. Lagipula, kalau cuma menyeret koper2 itu di lantai dan aspal halus sih saya masih sanggup. Dia pun segera balik badan sambil melambaikan tangannya.

—–

Kejadian lain yang tidak terlupakan, adalah ketika saya kehilangan dompet saya di kantin kampus Leuven. Saya yang ketika itu habis makan siang sendirian, bingung ketika akan beranjak meninggalkan meja. Seperti biasa saya mengecek untuk memastikan barang2 penting saya komplit: dompet, handphone, kunci kamar dan kunci gembok sepeda. Ketika itu, saya tidak dapat menemukan dompet saya. Panik mendadak, saya merogoh saku2 celana, tas ransel dan juga jaket saya, berulang2. Kemudian berdiri, menengok2 lantai di sekitar saya. Pasti hilang di sini, karena terakhir saya melihat dompet saya yaitu ketika membayar makanan sekitar setengah jam sebelumnya.

Terbayang jika saya harus kehilangan dompet saya, yang artinya saya harus mengurus kehilangan KTP saya, kartu ATM, kartu pelajar dan kartu2 penting lainnya. Duuh, makan waktu dan menguras tenaga pastinya.

Tiba2 seorang mahasiswa Belgia di meja belakang saya bertanya, ‘what are you looking for? did you lose something?‘. Rupanya kepanikan saya terbaca olehnya. ‘Yes, i lose my wallet’. jawab saya sedikit lemas.

Kemudian dia bilang, ‘it’s better you go to the management office. Someone may drop you wallet there. That is usually what people do when they find a wallet here.’ Setelah mengucapkan terima kasih atas sarannya, saya pun menuju kantor manajemen kantin, sambil menyusuri jalur2 yang tadi saya lalui, berharap2 cemas saya dapat menemukan dompet saya.

Setibanya di kantor manajemen kantin, saya disambut bapak2 tua yang sedang mengobrol dengan rekannya. Setelah memberi salam dan permisi, langsung saya bilang, ‘i’d like to report that i lost my wallet.‘ Sejenak bapak2 tua itu mengamati wajah saya, ‘wait‘, katanya, sambil mengambil sebuah dompet berwarna coklat gelap, membuka isinya, kemudian membanding2kan wajah saya dengan wajah di foto yang ada di dalam dompet. Aaahh, saya hampir saja berteriak kegirangan, karena saya sangat mengenali dompet yang sedang dipegang bapak tua itu.

Yes, it’s you!‘ katanya mantap. ‘You are lucky. Somebody dropped your wallet here. I’ve just sent an email for you, to let you know, that you can take it here. Please ignore it. And, be careful next time.’ Email? Tentu saja. Bapak2 tua itu pasti menemukan alamat email saya dari kartu pelajar yang ada di dompet saya.

Isi dompet saya masih utuh. Kartu2 dan juga uangnya. Saya langsung menduga kalau mas2 yang duduk di belakang meja saya tadilah yang menemukan dan menyerahkan dompet saya ke kantor manajemen kantin. Dalam hati saya mengucap alhamdulillah berulang kali, sambil mendoakan kebaikan untuk yang menemukan dompet saya.

—–

Lain waktu, terjadi ketika saya dan mas Yudha berlibur ke Praha. Kami tersesat saat mencari letak hotel yang telah kami booking sebelumnya via internet. Walau telah berbekal peta lokasi hotel yang telah kami print, rupanya tidak cukup membantu. Jalan2 kecil di Praha yang blok2nya tidak teratur, dan informasi peta lokasi yang kurang detail membuat kami kesulitan menemukan hotelnya.

Tiba2 di jalanan yang sepi itu, dari arah yang berlawanan dengan arah kami menuju, berjalanlah seorang mbak2 dengan dandanan gaul, mengenakan rok mini dan jaket kulit, sepatu boot hak tinggi, dengan rambut bob kusut berwarna merah menyala, dan tindikan di telinga dan hidung. Tangannya sibuk menenteng tas dan bungkusan plastik yang sepertinya merupakan makan siangnya, dan juga jarinya menjepit sebatang rokok menyala yang sesekali diisapnya. Saya jadi teringat Julia Roberts di film Pretty Woman sebelum dia bertemu Richard Gere.

Setengah ragu saya memberi kode ke mas Yudha untuk bertanya kepada si mbak itu. Mas Yudha pun sebenarnya ragu untuk bertanya kepadanya. Tapi karena jalanan itu sepi dari manusia, akhirnya bertanya jugalah si mas. Sempat terlintas di kepala saya, palingan kalau dia tidak tahu, dia bakal menjawab pendek, ‘Sorry, I don’t know‘, sambil mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya, kemudian berlalu.

Eh, di luar dugaan lho, si mbak itu serius banget nanggepinnya. Dia perhatiin betul peta yang kami bawa, berusaha baca dan memahami arah2, sambil berpikir, menebak2 kira2 hotel yang dimaksud itu letaknya di mana. Walau akhirnya jawaban yang keluar adalah jawaban setengah ragu, ‘maybe you should go to… (bla bla bla).. and then… (bla bla bla). But I’m not sure. Sorry‘. Begitu pada akhirnya.

Kami pun melanjutkan pencarian kami berputar2 di beberapa blok, hingga akhirnya di ujung sebuah blok kami kembali bertemu si mbak tadi. Setengah berlari dia memanggil2 kami. Rupanya dia tanpa sengaja melewati hotel yang sedang kami cari2 itu. Maka dia pun mengitari blok2 berusaha mencari kami, karena sebelumnya dia telah menunjukkan arah yang salah, dan khawatir kami makin kesasar. Kemudian, dia pun mengantar kami ke hotel yang dimaksud.

Memang ya, jangan menilai orang dari penampilannya..

—–

Cerita lain ketika saya dan mas Yudha makan kebab di sebuah restoran Turki di pinggir jalan besar di Rotterdam. Selesai makan, saya ingin ke toilet. Saya pun langsung masuk ke toilet yang bersih itu. Pas ke luar, tiba2 seorang bapak2 Turki pemilik restoran bermuka angker meminta bayaran 1.5 euro sambil menunjukkan tulisan mengenai tarif ke toilet. Kagetlah saya, masa’ ke toilet restoran bayar sih. Komersil amat. Saya kan habis makan di situ. Mahal, lagi. Saya memang melihat sih, beberapa pejalan kaki mampir ke toilet dan membayar ke bapak itu. Baru ingat juga, termasuk orang yang makan di dalam restoran. Si bapak itu tetap teguh pendirian, ‘do you want to pay or not?’. Saya pun bilang, ‘wait a moment, I’ll take my money‘, sambil menunjuk ke meja saya, di mana mas Yudha masih duduk di sana.

Saya pun mendatangi meja sambil menggerutu ke mas Yudha. Dia sih bilang, ‘udahlah bayar saja, daripada ribut’. Ketika saya menghampiri si bapak untuk menyerahkan 1.5 euro, tiba2 dia bertanya, ‘where are you from?‘. Saya jawab singkat, ‘Indonesia’. ‘Are you a moslem?’ tanyanya lagi. ‘Yes, how do you know?‘ jawab saya, karena saya kan gak pakai hijab. ‘Yes I know, because most of Indonesian people are moslem, right?‘ nada si bapak mulai melunak. Ah rupanya dia cuma tebak2 saja, dan kebetulan benar. Dia cerita sedikit, rupanya dia punya teman baik orang Indonesia yang muslim.

Berikutnya, dia tidak mau menerima uang saya. ‘It’s free for you. You don’t have to pay‘. Hah. ‘Are you sure?‘ tanya saya belum yakin. Dia mengangguk. ‘Assalamu’alaykum‘, katanya. Wajahnya terlihat lebih ramah. Yang saya sambut dengan senyum sumringah, sambil menjawab, ‘wa’alaykum salam‘, tidak lupa bilang terima kasih. Mas Yudha jadi ikut2an ke toilet juga, mumpung gratis. Iih. Lumayan, irit 3 euro 😀

—–

Bisa jadi mereka yang pernah berbuat baik sama saya tidak ingat sama sekali soal kejadian itu. But I still remember. Then, if you can not pay it back to the person who gave a favor to you, what will you do?

Kalau saya, biasanya saya mendoakan semoga Allah memberikan banyak kebaikan untuknya. Semoga dimudahkan urusannya, kalau punya masalah semoga segera ditemukan solusinya, dibanyakkan rejekinya, kalau sakit semoga lekas sembuh, kalau kafir, semoga diberi petunjuk jalan yang benar. Pokoknya mendoakan yang baik2.

*Terinspirasi dari sebuah cerita di sebuah film yang pernah saya tonton lebih dari 10 tahun yang lalu, I will pay it forward. To anyone. Saya yakin, kebaikan itu akan menyebar dan menular. Seperti juga sedekah yang akan kembali kepada pemiliknya dengan kebaikan berlipat2.

 

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Erin and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s