Welcome to the world, my baby boy!

Jum’at, 06 Maret 2015

Setelah seminggu lebih mules2 tapi belum teratur, akhirnya mama dan papa memutuskan untuk kontrol ke dokter siang ini, habis papa jum’atan. Mumpung papa sudah cuti, siap siaga kalau kamu mau lahir. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, mama boleh melahirkan normal asalkan beratmu tidak lebih dari 3.2 kg, yang mana di minggu2 terakhir, pak dokter bilang: bolehlah maksimum 3.5 kg. Tapi, baru 38 minggu 4 hari, di USG beratmu sudah 3.5 kg. Dan itu bisa +/- 200 grams. Sementara untuk lahiran normal kan mesti nunggu sampai tiba saatnya, yang entah kapan, dan pastinya beratmu akan terus bertambah.

Pak dokter yang setelah meriksa mama langsung ngobrol sama papa, menyarankan operasi caesar/SC saja, dan menawarkan bagaimana kalau besok pagi. Papa bilang iya2 saja. Ini yang mau SC siapa ya, kenapa papa yang jawab. Mama masih kaget dan berasa belum siap kalau mesti SC besok pagi. Masih menyimpan keinginan melahirkan normal.

Akhirnya mama bilang ke dokter kalau nanti kita kabari lagi. Pak dokter bilang lewat TPPRI saja. Nanti biar dari sana yang mengabari. Fine.

Setelah ke sana, sekarang isunya soal kamar. Karena ternyata manusia berkembang biak dengan pesatnya di Indonesia, sehingga orang sakit dan melahirkan tambah banyak. Dan kita tidak bisa booking kamar, buat hari senin misalnya. Kalau pas ada ya dikasih, kalau tidak ada ya tidak bisa memaksa. Kebetulan saat itu ada 1 kamar available, tapi kalau mau SC besok mesti masuk sore ini juga, paling telat jam 5. Mama masih ragu2. Papa berusaha mempengaruhi mama supaya segera saja, kalau bisa ngelahirin besok kenapa mesti ditunda2. Akhirnya pulang tanpa ada keputusan.

Di jalan, papa terus mempengaruhi mama supaya SC besok. Duuh, ya sudah deh. Oke!. Terburu2 kita siap2in barang untuk ke RS. Sebenarnya hospital bag sudah siap, tapi tetap saja ada barang2 yang cuma bisa disiapin sebelum berangkat. Jadilah malam ini mama, papa dan kak Saskia boyongan menginap di RS.

Tidak seperti SC yang pertama (waktu melahirkan kak Saskia), mau operasi jam 8 pagi, datangnya jam 6 pagi. Untuk persiapan ‘hanya’ cek tensi dan cek darah/lab sama pasang infus dan ganti baju. Kali ini lebih banyak yang mesti diperiksa. Entah prosedurnya SC sekarang memang mesti begitu atau request-nya pak dokter yang memang orangnya detil, teliti dan hati2 (in my opinion). Soalnya begitu suster dari TPPRI nelefon dokternya, selain cek tensi dan cek darah/lab, beliau minta cek jantung ibu dan bayi juga.

Padahal mama sebenernya takut berhadapan sama alat2 medis gitu, yang dipasang2 di dada, tangan, banyak kabel2nya. Selama pemeriksaan, cuma bisa banyak berdoa semoga hasilnya baik dan layak di-SC tanpa harus ada treatment khusus. Mama juga ditanya2 banyak tentang riwayat dan background kesehatan dan kehamilan sebelumnya.

That night I was so nervous, sehingga agak susah tidur. Antara senang besok mau bertemu denganmu, but in the other side, I worried, how if I die and I will never see your face and hold you forever. We never know. Walau kesannya SC itu lebih ‘aman’ daripada melahirkan normal, tapi yang namanya melahirkan itu tetap saja perjuangan hidup dan mati seorang ibu. Bisa saja terjadi pendarahan. Bisa saja tensi mendadak drop atau melonjak. Bisa saja mendadak sesak nafas. Bisa saja mengakibatkan koma paska operasi. Atau terjadi kesalahan teknis dari tim medis yang tidak disengaja. Apalagi beberapa minggu sebelumnya ramai berita soal obat anestesi yang salah diinjeksikan ke 2 orang pasien yang menjalani operasi di RS Siloam Tangerang, diduga akibat kesalahan pihak Kalbe Farma selaku produsen obat (kemasan dan isi produk yang tidak sesuai), yang mengakibatkan nyawa 2 pasien tersebut melayang. Dan salah satunya merupakan pasien yang menjalani SC.

Jadinya mama perbanyak dzikir dan berdoa serta membaca al Qur’an supaya hati menjadi tenang dan ikhlas dengan apa yang akan terjadi. Takdir Allah pasti yang terbaik.

Sabtu, 07 Maret 2015

Hari ini rencananya mau SC jam 8.30. Dari subuh mama sudah bangun dan siap2. Oya sebelum operasi juga harus puas, at least 6 hours before, supaya obat anestesi yang diinjeksikan tidak bikin mual dan muntah. Mama sendiri sudah tidak makan dan minum apa2 sejak jam 11 malam sebelumnya.

Sebagai persiapan, jam 6 pagi mama sudah disuruh ganti baju RS, juga diinfus. Tapi sampai jam 8.30 belum juga ada panggilan ke ruang operasi. Tambah deg2an saja. Semoga dokternya gak lupa yaa, pikir mama waktu itu. Barulah sekitar 15 menit setelahnya suster masuk untuk menjemput dan mengantar ke ruang operasi.

Rasanya lebih tegang daripada waktu mau melahirkan kak Saskia dulu. Saat di ruang tunggu operasi untuk mengantri giliran pun rasanya jantung ini berdegup lebih kencang, sehingga mama bolak balik narik nafas panjang dan terus berdzikir dan berdoa supaya lebih tenang. Mama juga membayangkan bagaimana lucunya wajahmu.

Begitu dipanggil untuk masuk ruang operasi, mulai lah, degup jantung bertambah kencang lagi melihat berbagai peralatan operasi sekaligus tim medis dengan kostum operasinya. Mules rasanya, ingin segera kabur dari situ :)) Tiga asisten mempersiapkan ini itu.

Kemudian datanglah dokter anestesinya, yang belakangan diketahui bernama dr. Albert Frido Hutagalung, SpAn.  Mama diminta duduk untuk disuntik anestesi di punggung. Tapi mungkin karena kegedean perut, mama kesulitan bangun di meja operasi yang ukurannya ngepas di badan. Akhirnya mama diminta hadap kanan dengan punggung melengkung. Dalam hitungan detik, badan mama dari perut ke bawah perlahan mati rasa. Tapi mama belum juga melihat tanda2 dokter obgyn-nya sudah datang.. sementara jam menunjukkan jam 9 seperempat lebih. Mama cuma nanya aja, ini obat bius tahan berapa jam yak..? Yang dijawab dengan sekitar 2-3 jam-an. Oke lah.. jadi mestinya jam 11-12an baru hilang efek biusnya kan? Dan SC tidak mungkin lebih dari setengah jam.. ya kan??

Tidak berapa lama, terlihat juga dokter obgyn-nya, dr. Sahat Siagian, SpOG, masih sambil nyangklong tas di pundak. (Ya ampun.., baru datang, dok??) Dokter batak yang halus dan sopan orangnya ini langsung minta maaf karena telat, begitu memasuki ruang operasi.  Soalnya harus ke RS Bunda dan RS Telogorejo dulu, entah ngapain, mama sudah tidak konsen, jadi tidak jelas mendengar pak dokter ngomong apa. Sudahlah pak, segera laksanakan saja operasinya.. (Btw, baru sadar kelahiranmu dibantu 2 orang dokter batak ya.. kalau kak Saskia dulu dibantu dokter2 keturunan tionghoa).

Oh ya, di tangan kiri mama ada jarum infus, sementara tangan kanan terhubung dengan alat untuk memonitor detak jantung dan tekanan darah. Kedua tangan terbentang. Tidak berapa lama setelah mama dibius tadi dan operasi akan dimulai, mendadak kepala mama sakit sekali, mual, mata berkunang2, sesak nafas dan sekilas mama lihat, tensi mama turun drastis dalam hitungan detik, yang tadinya 120/80 jadi 90/50. Mama langsung bilang kalau pusing sangat dan mual. Dengan sigap, dokter anestesi segera kasih suntikan antimual yang dimasukkan lewat infus. Juga mama dikasih oksigen lewat selang di hidung. Setelah itu lumayan agak segar rasanya.. tidak terlalu sesak, tapi masih sakit kepala yang berkurang nyerinya. Selama operasi, dokter anestesinya bolak balik nanya, ada keluhan tidak.. mama bilang tidak ada, selama mama masih bisa tahan.

Fyi, yang namanya suasana operasi caesar ini sebenarnya sama sekali tidak tegang, tim dokter dan asistennya maksudnya. Mereka ngobrol santai saja biasa, membicarakan sesuatu atau seseorang, becanda, layaknya antar sesama rekan kerja (persislah kayak mama kalau lagi di kantor, mata boleh menatap layar computer, tangan mengetik di keyboard, tapi mulut dan telinga aktif  becanda sama rekan kerja seruangan). Tapi mama tetap saja nervous.. karena memang dasarnya penakut sama yang beginian. Sampai mama tidak focus juga mereka ngomong apa.. soalnya mama sibuk berdzikir dan berdoa. Bolak balik mama lihat layar tensi, kalau jantung terasa berdegup kencang dan tekanan darah mulai naik, mama tarik nafas panjang, supaya lebih relax.

Operasi yang hanya berlangsung beberapa menit itu terasa lama bagi mama. Hingga tiba2 terdengar suara tangisanmu yang kencang.. rasanya legaaaaa luar biasa.. Mama mengucap hamdalah dan takbir berulang2 dalam hati. Can’t wait to see you… Senangnya ketika dirimu yang sudah dibersihkan dan dibalut kain diantarkan ke depan muka mama sementara perut mama masih dijahit. Terjawab sudah rasa penasaran itu..

Ooo ini to wujudmu, nak… yang suka nendang2 perut mama dengan kencangnya.. yang sering cegukan… yang bikin perut mama kelihatan gede banget, sampai2 sering dikira orang2 janinnya kembar.. yang sering diprediksi orang bakal lahir lebih awal gara2 masih jauh2 hari saja perut mama sudah kelihatan turun banget…yang bikin mama sering diomelin mbahti, gara2 dengan perut gede yang sudah turun banget itu tapi belum cukup bulan, sering jalan2 ke sana kemari, blusukan cari mesin jahit, ngubek2 toko2 kain, ke toko buku, ke Ace Hardware, ke toko2 sempit yang jual barang bagus dengan harga miring untuk cari ini itu.. juga masih nyetir mobil sendiri sampai usia kehamilan 37 minggu (untung kantornya dekat).

And… honestly… sedikit kaget ketika pertama kali melihat wajahmu.. putih banget, bersih, mulus, montok, dengan rambut tipis kriwis dan sedikit ikal, mata sipit, dan mulut yang mangap2 (kelaparan barangkali) mencium pipi mama… Mirip siapa yaa.. tidak mirip papa sama sekali, juga tidak mirip mama rasanya.. 🙂 Semoga gak salah yaa 🙂

Oya, panjangmu 50 cm, dengan berat 3.6 kg, lahir di usia kehamilan 38 minggu 5 hari. Beratnya tidak beda jauh dari prediksinya dr. Sahat kemarin.

Alhamdulillah sehat, secara fisik normal dan lengkap.

Dear my son, Thoriq Abiyyu Saputra, semoga kamu menjadi anak sholeh, cerdas, sehat selalu, berbakti kepada orang tua, bermanfaat untuk banyak orang, panjang umur, banyak rezeki. Dan juga sesuai doa mama dan papa dalam namamu, semoga kamu menjadi bintang yang bersinar tajam lagi mulia jiwanya. Aamiin.

🙂 🙂 🙂

Ini dia formasi bersama anggota keluarga baru:

with new baby Thoriq

with new baby Thoriq

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Cerita kita and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Welcome to the world, my baby boy!

  1. adhyasahib says:

    Selamat atas kelahiran Baby Thoriq ya mbak,semoga jadi anak yang soleh dan membanggakan orang tua 🙂

  2. Arman says:

    Congrats ya. Kok gak ada foto baby nya… 🙂

  3. Sahat Siagian says:

    He he bagus juga narasinya. Kiss kiss for that baby boy 🙏🏽

  4. Albert f h says:

    Mksh share nya, walau telat komen nya, sehat dan bahagia selalu .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s