Membangun Sistem di dalam Rumah

Beberapa minggu ini saya sedang menata rumah. Gara2 pusing dan bikin uring2an tiap pulang kerja lihat rumah yang berantakan. Sebenarnya kalau berantakan banget ya enggak.. cuma ternyata ya, bertahun2 hidup di rumah orang tua, yang mana ibu saya itu orangnya super duper bersihan dan rapi jali serta higienis, eh ternyata secara gak sadar itu menular ke saya.

Setelah jadi ibu2 dan punya area kekuasaan sendiri baru benar2 mengerti, ternyata susaahh ya ngatur rumah tangga. Ngatur orang2 penghuni rumah juga. Ya mas Yudha, Saskia, Thoriq, dan 2 ART. Alhasil saya jadi sering emosi melihat sesuatu tidak pada tempatnya, berantakan di mana2, lantai lengket, dsb. Belum lagi kalau cari ini itu yang sudah saya taruh rapih2 di tempat yang ditentukan, giliran saya yang perlu eehh sudah berpindah tempat. Jadi uring2an nyari ke sana kemari, apalagi kalau pakai lama, dan gak ketemu2.

Maka sebenarnya weekend adalah waktu yang tepat untuk beres2. Karena kalau hari kerja pulangnya sudah kehabisan tenaga, dan inginnya ya waktu berinteraksi sama anak2. Tapi weekend, adaaa saja yang mesti dilakukan. Kalau lagi cuek yaaa pergi saja, pura2 baik2 saja dengan kondisi rumah seperti itu. Tapi kalau lagi gak bisa cuek, duh bisa suram deh weekend… Ingat ekspresi Saskia dan mas Yudha yang kalau sabtu pagi suka nanya, ‘Acara weekend kita apa nih?’… yang kalau saya jawab ‘Acaranya beres2 dan bersih2..!’ langsung disambut dengan ‘Yaaahhhh…’ dengan wajah kecewa, 😀

Saya jadi menganalisa, kenapa ya orang2 negara berkembang susah diatur? Sementara di belahan dunia lain ada negara maju yang segitu rapihnya sistem2nya, ya transportasi, ya disiplin berlalu lintas, ya urusan kebersihan macam pengkategorian buang sampah, toilet yang selalu bersih, gak merokok di tempat yang dilarang, disiplin balikin buku ke perpustakaan, dsb.

Jadi menurut saya, yang utama memang mesti ada aturannya. Setelah itu yang tidak kalah penting adalah penegakan aturan. Percuma ada aturan kalau tidak ditegakkan. Aturan pun harus jelas. Saya lihat rasanya percuma ya diperingati secara lisan. Kadang untuk membiasakan harus ada aturan yang terpampang, supaya setiap orang mau melakukan yang bukan aturannya, jadi ingat. Yang cukup penting juga adalah konsekuensi jika melanggar.

Yang saya sudah lakukan misalnya, menulis aturan ‘dilarang merokok di rumah dan halaman rumah ini’. Atas nama Saskia dan Thoriq. Saskia yang saya suruh tulis. Ditempel di kolom teras rumah. Memang mas Yudha tidak merokok, tapi kadang orang2 yang suka datang ke rumah, seperti mbah Kung, pak RT, pak satpam, teman2 kami ada yang suka merokok. Kami sekeluarga tidak suka ada bau asap rokok, apalagi di rumah sendiri.

Terbukti berhasil. Mungkin mereka sungkan juga karena yang tulis anak saya. Dan pernah juga kalau masih membandel saya berani tegur mereka, dengan sopan tentunya sambil tunjukkan tulisan Saskia. Sampai2 sekarang kalau pak RT atau satpam lagi ke rumah, dan kita silakan masuk mereka pilih di luar pagar saja. Sebentar saja katanya, dan supaya bisa merokok. Mbah Kung juga jadi gak pernah merokok kalau ke rumah kami.. hehehe.

Hal lain yang saya lakukan, menulis kategori buku di rak lemari buku. Gara2 saya kesal, sudah bolak balik atur buku menurut kategorinya, eh selalu saja Saskia dan mas Yudha kalau habis baca buku ditaronya sembarangkan. Dibiarkan lama2 jadinya semrawut. Taruhnya asal2an. Jadi sebal juga lihat yang berantakan dan sebal kalau lagi cari buku gak ketemu gara2 nyelip atau bahkan gak dibalikin ke rak tapi ada di kamar siapa lah atau ruangan lain. Jadilah rak buku kami seperti perpustakaan, ada tulisan kategori misal: buku anak2, agama, resep masakan, kesehatan, pengembangan diri, bahasa, motivasi, dll.

Pengakuan mas Yudha, yang biasa taruh sembarangan.., sekarang gara2 ada tulisannya jadi mau naro gak pada tempatnya jadi inget. Inget mesti taruh di tempat yang bener dan inget kalau gak taruh di tempat yang bener bisa dimarahin dan kena sanksi.

Itu baru salah 2 hal saja yang saya tulis di sini, karena tampaknya 2 itu yang cukup sukses untuk diterapkan di rumah kami. Bisa disimpulkan, kalau membangun sistem itu memang tidak mudah, butuh alokasi waktu, tenaga, biaya, emosi. Tapi pelan2 asal kita disiplin dan konsisten dalam pelaksanaannya, pelan2 sistem itu terbangun juga, dan membentuk karakter baru di dalam diri anggota/warganya.

Karena… seperti yang pernah saya baca di bukunya Felix Siauw…

Habits = practice + repetition

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Tips and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Membangun Sistem di dalam Rumah

  1. eenez says:

    repetition + practice is good

  2. winnymarlina says:

    suka ma prinsipnya kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s