Menjelang hari ibu (2) – tentang saya sebagai ibu

Telat banget yah sambungan postingannya. Ini mah sudah bukan menjelang hari ibu lagi tapi sudah lewat hampir sebulan.

Tulisan ini subjektif banget jadinya. Karena saya menulis tentang diri saya sendiri sebagai ibu bagaimana. Harusnya kan anak saya yang nulis. Tapi gimana dong anak2 saya belum pada bisa nge-blog.

Baiklah, jadi belajar dari pengalaman yang saya dapat selama jadi anaknya ibu saya, saya meramu formula, mengambil value yang baik2 dari ajaran yang ibu saya berikan, belajar ilmu parenting dari mana saja, ditambah hasil pemikiran dan perenungan bagaimana sebaiknya menjadi ibu.. jadilah saya ibu seperti sekarang ini.

Saya curious berat sebenarnya 20 tahun lagi apa yang akan anak2 bilang tentang saya yah.. Kalau saya tanya Saskia sih, standar lah bilangnya saya galak dan ga sabaran. Seperti singa atau naga. Dia gambarkan saya galaknya itu seperti kak Ros, kakaknya Upin Ipin. Ah tapi kan di mana2 ibu2 begitu yah.. Oh ya dan cerewet. Iya, saya yang aslinya pendiam dan irit bicara ini tiba2 jadi banyak omong dan sering ngomel begitu jadi emak2.

Kalau saya harus gambarkan sosok saya sebagai ibu kira2 begini…

Mungkin kalau orang tua jaman dulu cenderung kaku hubungannya ke anak, jarang mengungkapkan rasa sayangnya, saya lebih ekspresif ke anak2 saya. Anak2 sering saya peluk2, rangkul2, cium2, dan uyel2. Saya juga cukup sering bilang kalau saya sayang sama mereka. Sebaliknya, begitu juga kalau sedang senang, marah, sedih, tidak suka, kesal, dan perasaan lainnya, saya katakan. Saya ingin mereka juga ga sungkan mengungkapkan apapun yang mereka rasakan. Saya ingin secara emosi mereka merasa dekat juga ke saya. Jadi ada apa2 mau cerita. Saya juga suka becanda sama anak2. Tapi kadang suka serius, suka ajak ngajak ngobrol Saskia seolah2 Saskia sudah belasan tahun.

Di lain sisi, untuk mengajarkan agar mereka tau aturan, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian, juga menegakkan disiplin.. tentunya semua demi kebaikan.. mungkin anak2 saya bakal ngeliat saya sosok yang tegas dan tegaan juga.

Saya tega lho cuek membiarkan anak2 teriak2 atau nangis2 berkepanjangan menyayat hati saat menginginkan sesuatu, tapi kalau menurut saya itu tidak baik untuk dia, saya tetap tidak kasih.. Misalnya begini, di usia tertentu saya putuskan anak2 harus mulai disapih dari menyusu memakai dot, karena bikin giginya jadi ga bagus. Kalau papanya atau pengasuhnya, apalagi eyang2nya kan ga tega buntut2nya dikasihlah, kasian lah biarin aja ngedot sepuasnya sampai bosen.. Tapi saya ga setuju. Karena saya mikirnya jangka panjang. Kasian kan kalau gigi jadi gigis geripis sebelum waktunya tanggal.

Saya termasuk ibu yang praktis juga alias malas repot. Misal, saya ajarin Thoriq untuk minum susu kotak sejak usia 1 tahun. Karena saya kalau travelling sebisa mungkin bawa barang sedikit. Kalau masih nge-dot pakai botol kan repot banget persiapannya mesti bawa termos, botol banyak, sikat botol, sabun cuci botol, susu bubuk, dll.

Saya ga suka masak, apalagi yang ribet. Tapi bukan berarti ga bisa. Kalau lagi punya ART ya saya percayakan dia masak. Saya ga terlalu rewel soal rasa sih. Asal ga aneh banget aja rasanya saya bisa2 aja makan. Bahkan saya ga bakal protes seandainya bayam atau buncis atau kacang panjang dimasaknya cuma direbus doang. Anak2 saya harus bisa makan juga. Kalau lagi ga punya ART, saya sering beli, kalaupun masak yang praktis2 aja. Yang penting bahannya bergizi, kebutuhan serat, vitamin, dan protein terpenuhi. Paling sesekali bikinin kue cemilan kesukaan anak2, misal: lekker, wafel, kue kering, macaroni schotel, spaghetti, dll.

Terus, saya tipe ibu yang ga mau melakukan sesuatu untuk anak apa yang harusnya menjadi tanggung jawabnya. Mengerjakan pe-er atau belajar untuk ujian misalnya. Kalau anak saya males, saya bujuk2, tapi kalau ga mau juga, saya biarkan saja, biar ditegur sama gurunya kalau ga kerjakan pe-er, atau dia rasakan sendiri mengerjakan ujian tanpa persiapan. Saya ingin dia punya tanggung jawab yang tumbuh dari kesadarannya sendiri.

Saya juga ajarkan Saskia untuk siapkan seragam dan buku yang harus dibawa ke sekolah sendiri. Saya nyaris ga pernah bantu dan cek buku yang dia bawa. Saya percaya aja dan sepertinya so far so good, means dia ga pernah ada masalah ketinggalan bawa buku tertentu ke sekolah. Tapi katanya anak perempuan lebih bertanggung jawab dan lebih mudah diatur. Ga tau deh nanti Thoriq bagaimana.

Oh ya, Saskia suka bilang kalau saya itu banyak peraturan. Taruh barang ini itu harus di sini di situ. Makan harus di meja makan. Sebelum tidur cuci kaki tangan, BAK, sikat gigi, ganti baju tidur. Tiap hari harus makan buah, sayur dan minum susu. Masuk mobil kunci pintu pasang seat belt. Dan lain2. Rupanya kebiasaan ibu saya yang senang keteraturan, bersih2 beres2 dan ingin rumah selalu rapih, menurun ke saya. Saya jadi suka senewen kalau lihat yang ga disiplin, kotor2, berantakan, barang ga pada tempatnya jadinya cari apa2 susah, lantai lengket, remah2 di mana2.. Saskia sudah agak bisa ngikuti untuk bersih dan rapih sih, tapi Thoriq belum, dan entah nanti ya secara anak cowok biasanya lebih susah diajak teratur, rapih dan bersih.

Lalu, saya termasuk ketat soal penggunaan gadget (hp, ipad, ipod), laptop, dan masalah nonton tv. Mungkin ada ibu2 lain yang khusus belikan gadget untuk anaknya supaya ga ganggu2 gadget orang tuanya. Kalau saya, saya kenalkan mereka gadget, sebatas untuk dengarkan lagu2 anak2, lihat video rekaman pribadi, dan Saskia sudah saya ajarkan menelefon, ketik2 di whatsapp. Tapi pegang gadget hanya kalau ada saya dan papanya. Itupun sebentar saja. Acara tv yang saya bolehkan juga cuma Baby TV, Disney Junior, dan kartun Upin Ipin kalau tayang di MNC. Itu pun lewat magrib TV off. Saya juga jadinya nyaris ga pernah nonton TV. Daripada anak2 lihat acara ga bagus untuk perkembangan mereka.

Saya ga bolehin mereka nonton tv terus2an seharian. Maksimum 2 jam lah. Kalau ketauan (berdasar laporan bibi atau si mbak), saya kasi hukuman besoknya ga boleh nonton tv sama sekali, dengan cara saya umpetin cable connector-nya. Mau anak2 merengek2 memelas2 juga ga mempan deh rayu2 saya dalam hal ini. Tapi Saskia jadi tau aturan, dia tanya saya dulu kalau mau nonton tv boleh ga nya. Biasanya saya kasih batasan, sampai jam sekian.

Untuk pengalihannya, saya sediakan berbagai macam buku bacaan, mainan, games, peralatan gambar, mewarnai, dll. Saya juga suka ajarkan Saskia berkreasi bikin sesuatu sendiri. Misal, bikin bros dari kain perca, bikin pajangan dari hasil karyanya dia e.g. gambarnya atau kreasi kertas lipat, nulis cerita pengalaman, saya juga suka jahit2 yang mana Saskia jadi suka liatin dan ikut coba2 jahit, sesekali bikin kue bareng. Tujuannya, saya ingin anak2 saya kreatif dan produktif mengisi waktunya.

Hampir setiap hari, saya biasakan anak bangun pagi terus jalan pagi sekeluarga. Saya risi rasanya kalau pagi2 bangun anak tidur2an atau santai2. Saya lebih senang anak2 jalan2 atau ke masjid yang ada halaman luas di dekat rumah, di mana di sana ada ayunan, perosotan, meja putar, dll. Jadi anak2 bisa bebas main sepeda, main bola, mengejar kupu2, dll.

Kalau sehari2nya di hari sekolah, setelah Saskia SD ini agak terbantu sih pengendalian terhadap nonton tv nya. Karena dia berangkat jam 6.30. Sampai rumah jam 2 siang. Kadang nonton tv sepulang sekolah, sekitar 0.5-1 jam. Kadang juga ga nonton tv karena sekarang ada adiknya kan, jadi mainan bareng deh mereka. Jam 3 dia sudah siap2 mandi untuk kemudian menjelang jam 4 berangkat mengaji di TPQ dari senin sampai dengan jumat. Pulang2 jam 5 sore, paling nonton tv sebentar, jam 6 tv off.

Di akhir pekan, sepulang sekolah di hari sabtu, Saskia punya jadwal les piano. Biasanya lanjut juga kita pergi seharian. Minggu juga biasanya olah raga, kadang berenang, kadang main badminton, kadang jalan2 ke simpang 5, kadang cari tempat rimbun sepi nyaman dan adem untuk main sepeda sambil piknik atau main bola sama Thoriq juga. Kalau lagi ada keperluan beli sesuatu ya ke mal. Kadang berkunjung ke tempat siapa gitu. Kalaupun weekend di rumah saja pun, saya atau papanya, or salah satu dari kami berinteraksi juga sama bocah2.

Saya ingin anak2 saya aktif bergerak dan mengisi hidup dengan hal2 bermanfaat. Seimbang spiritual, kesehatan jasmani, intelektual, sosial, kreativitas, dan punya skill bidang seni. Dan yang penting mereka bahagia. Berlebihan ga sih cita2 saya. Apa saya terlalu ambisius yah.

Untuk hal2 tertentu saya ga panikan orangnya. Setidaknya tidak sepanikan bapaknya. Kalau anak jatuh, saya suka biarin sejenak tunggu reaksinya. Kalau kayanya gapapa atau kaya mau nangis dikit, saya bilang ga apa2 dan suruh dia bangun sendiri. Kalau parah baru saya bantuin. Anak2 saya lihat jadi tahan sakit juga dan ga gampang nangis. Bahkan Saskia kadang misal jatuh terluka lecet berdarah yang saya pikir mesti sakit perih gitu, ekspresinya tetap tenang. Kadang ditanya sakit atau ga, dia bilang ga atau sakit sedikit. Kalau lagi disuntik juga ga nangis, malah senang. Rupanya Thoriq kecenderungannya begitu, baru2 ini disuntik vaksin ga nangis juga, ekspresinya biasa aja. Ini gimana ya, bagus atau engga ya. Sense rasa sakitnya kayanya ga terlalu sensitif..

Kalau anak2 demam, yang mana biasanya ibu2 suka ga bisa tidur malam karena jagain anak sambil ngompres2.. kalau saya kalau anak2 demam saya minumin obat penurun panas, malamnya saya bisa2 aja tidur nyenyak seperti biasa. Kalau anak2 sakit batuk pilek saya cenderung kasih obat tradisional macam madu, sari parutan kencur, buah, sup, dll. Kalau anak2 alergi/biduran saya kasih air kelapa hijau. Sebisa mungkin ga perlu ke dokter, kecuali demam lebih dari 3 hari.

Di sisi lain, saya kadang masih suka egois. Saya yang pada dasarnya memiliki kebutuhan privacy yang tinggi, ingin punya ‘me time’ yang banyak. Ada saat2 tertentu saya ingin sendiri melakukan kegiatan yang saya suka.. entah itu main piano, baca buku kesukaan, menata taman di halaman rumah, memanjakan diri dengan creambath atau luluran, atau sekedar makan dengan tenang.. semuanya tanpa diganggu bocah2,.. Bahkan ga jarang juga saya dan papanya bocah2 curi kesempatan pergi berdua. Kadang pijat refleksi, kadang nonton film di bioskop, kadang nongkrong ngobrol2 berdua aja di cafe, atau sekedar muter2 tanpa tujuan pasti keliling2 kota aja sambil ngobrol panjang lebar di mobil… Ko bisa? Masih sempat??

Masih lah.. J Kadang kalau anak2 bisa tidur lebih awal. Atau kadang sepulang kantor, janjian deh dijemput langsung jalan.. Saya tetap telefon ke rumah kabari kalau pulang telat tanpa bilang mau ngapain.. Kalau pulang dulu bisa batal rencana hehehe.

Maaf ya kak Saskia dan dik Thoriq.. #uppss ketauan deh.

Sekian dulu cerita saya sebagai ibu. Walaupun suka ngomel dan banyak aturan yah saya pikir itu untuk tujuan yang baik.. Semoga dengan gaya saya ini bisa anak2 bisa tumbuh dan terbentuk dengan karakter, sikap, kebiasaan dan punya nilai2 kehidupan yang baik. Aamiin.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s