Thoriq berkunjung ke dokter gigi

Hampir 2 tahun usianya. Pertumbuhan giginya hampir komplit. Tapi gigi susunya sudah mengalami gejala gigis geripis. Yaitu pada 4 gigi serinya yang di atas. Pada bagian depan dan belakangnya sudah mulai bolong dan berwarna kecoklatan pada bagian dekat pangkalnya. Padahal kan gigi susu bakal tanggal di usia sekitar 6 tahun. Khawatir gigi-gigi itu akan patah karena keropos sebelum waktunya tanggal, maka saya berinisiatif membawa Thoriq ke dokter gigi.

Saya ingin Thoriq mendapat pengalaman yang menyenangkan pada kunjungan pertamanya ke dokter gigi. Maka saya cari dokter gigi khusus anak, dengan harapan si dokter lebih  sabar dan pandai melakukan pendekatan ke pasien anak2. Ga ada rekomendasi dari siapa pun, saya langsung pilih saja RS Hermina Pandanaran. Kemudian karena kami bisanya pergi hari sabtu siang setelah jemput Saskia sekolah dan antar serta tunggui les piano, kebetulan yang praktek di sabtu siang drg. Rivi Isabella, SpKGA, ya sudahlah pilih periksa ke beliau.

Pasiennya tentunya anak2 semua. Pas nunggu antrian, hampir selalu terdengar teriakan2 campur tangisan yang berkepanjangan. Eh tapi dasar bocah ya Thoriq bukannya takut, dia malah penasaran sama apa yang terjadi di balik pintu ruang praktek sang dokter. Jadilah dia malah maju terus ketok2 itu pintu mau masuk.. dan karena ga ada yang buka2in.. dia tarik handle pintunya.. yang langsung saya angkat dan bawa ke arena bermain yang disediakan di sana.

Mungkin karena terlalu lama menunggu (dapat nomor antrian terakhir), setelah lelah bermain2 dan makan siang, Thoriq pun tertidur. Paaas kami datang kembali ke tempat praktek, pas sudah sepi, untung dokternya gak ninggal pulang.

Gejala gigi gigis geripis yang bisa menuju keropos hingga akhirnya tanggal, sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi pada anak2. Tentu saja karena terlalu banyak makan manis2, dikombinasikan dengan kurang disiplin dalam membersihkan gigi dan mulut. Ditambah kebiasaan minum susu botol menjelang tidur. Komplit deh.

Mungkin saya saja yang terlalu khawatir. Habis dulu Saskia ga begitu. Mungkin karena anak cewek. Rajin sikat gigi. Dan waktu cara menyikat giginya belum bener saja, disikatin nurut2 saja. Habis makan atau minum susu disuruh kumur juga nurut. Terus kalau minum susu botol cepet langsung habis selesai dalam beberapa menit. Lha Thoriq ini yaaa rajin juga sih sikat giginya. Tapi kalau disikatin bener2 ga mau. Maunya nyikat sendiri. Ya asal deh. Senangnya makan yang manis2 macam coklat. Terus kalau minum susu lamaaa. Kelihatannya dia menyukai acara ngedotnya bukan susunya. Apalagi kalau tidur. Kalau belum benar2 nyenyak ga bakal mau diambil botolnya dari mulut. Kalau sudah tidur saya bersihkan gigi dan mulutnya pakai kasa dibasahi air hangat juga dia ga mau. Mulutnya bakal tertutup atau kalau saya berhasil mengusap giginya pun dia bakal menggerak2kan kepala ke kanan dan kiri tanda ga mau. Susahlah pokoknya.

Alhasil, giginya mulai bolong2 dan berwarna kecoklatan.

Kata dokter,kalau anak2 di kampung mungkin dibiarin saja gigi jelek begitu. Ga mempengaruhi kesehatan secara serius sih. Kalau anak2 di kota yang punya akses ke dokter gigi, dan mungkin orang tuanya lebih memiliki kesadaran tentang kesehatan dan penampilan, biasanya lebih memilih untuk ditambal. Tapi misalnya ga ditambal juga ga apa2 kata dokternya. Dia sama sekali tidak memaksa, dan menyerahkan pilihannya ke saya. Mas Yudha juga menyerahkan ke saya.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk ditambal saja. Risih saya. Pertama, Thoriq baru mau 2 tahun di tahun ini. Giginya sudah begitu penampakannya. Saya khawatir saja jika kebiasaan ngedotnya masih terus berlangsung dan masih susah disikatin giginya, jangan2 usia 3 tahun sudah patah itu gigi. Sedangkan nunggu gigi dewasa tumbuh di sekitar usia 7 tahun. Empat gigi seri lho di depan atas. Ga lucu kan masa ganteng2 kalau tersenyum hiiiiii…

Tadinya saya sempat khawatir juga, gimana ini anak usia sekian ditambal giginya. Kan mesti dibor dulu ya dan bersihin bagian yang bolong itu. Bukannya saya ga tega dengar teriakannya.. saya khawatir saja acara penambalan terkendala Thoriq yang berontak ga mau… kan disikatin giginya saja susah. Bagaimana kalau ga mau buka mulut?

Ketika konsultasi sama ibu dokter itu Thoriq mulai bangun tapi masih kelihatan mengantuk. Mas Yudha langsung nyerahin saja ke saya yang pangku Thoriq di pelaksanaan penambalan gigi. Baiklaaah..

Jadi ternyata saya yang duduk di kursi pasien. Tapi bukan dengan posisi Thoriq menghadap arah yang sama. Saya duduknya ke arah samping kursi. Thoriq dipangku menghadap ke arah saya. Terus direbahin kepalanya sedemikian rupa sehingga ibu dokter duduk dengan posisi dari arah kepala Thoriq.

Thoriq tertidur saat ditambal gigi

Thoriq tertidur saat ditambal gigi

Saskia ikut nampang

Saskia ikutan nampang

Bu dokter sudah suruh siaga saja ke asisten2nya.. kalau2 si pasien bangun pas lagi dibor giginya.. siap2 menghadapi pemberontakan. Eh tapi ternyata.. kita semua surprise lho selama acara penambalan ini berjalan dengan amat sangat lancaaarrr.. Bagaimana ga lancar kalau pasiennya tetap tertidur pulas selama proses berlangsung.  Ya ada saatnya matanya agak buka2 sedikit.. tapi terus tidur lagi tidur lagi.. Dokternya sampai bingung ko bisa begini yaa.. kaya dibius.. syukurlah prakteknya dia hari ini berakhir dengan indah.. katanya dari tadi, dia menghadapi pasien yang memberontak, teriak2, nangis kejer, bahkan ada yang muntah segala di sela2 proses..

Begitu selesai, baru deh Thoriq bangun.. sudah dengan penampilan gigi yang baru..

Alhamdulillah.. moga2 awet tambalannya yaa sampai giginya tanggal alami.. soalnya lumayan juga waktu ke kasir habisnya itu nambal 4 gigi depan belakang.. Saya bilang ke mas Yudha, ga apa2 lah.. yang penting anaknya sehat kan.. dan senyumnya menawan.. hehehe.

Advertisements
Gallery | This entry was posted in Saskia and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Thoriq berkunjung ke dokter gigi

  1. Yudha says:

    Dengan segala kelincahan thoriq sebenernya anaknya pasti nurut diperbaiki giginya. Tapi. Kita harus bersyukur.. perbaikan gigi berjalan lancar Alhamdulillah. Anaknya juga cengengesan lihatin giginya habis ke dokternya. Kinclong deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s