Erin · Siraman rohani

Pengalaman umroh (2) : Madinah

Tiba di Madinah sekitar waktu menjelang subuh. Airportnya besar dan modern. Antrian cek paspor sangat sepi. Mungkin tidak banyak penerbangan tiba jam segini. Senang tak terkira akhirnya bisa sampai juga saya ke sini.

Dalam perjalanan naik bis untuk menuju hotel, muthowif kami mengingatkan, bahwa ini adalah tanah suci. Tanah di mana setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Begitupun dengan kejahatan, dosanya lebih besar dibanding jika dilakukan di tempat lain. Maka, sangat rugilah kita, jika kesempatan berkunjung ke tanah suci ini tidak dimaksimalkan untuk berbuat kebaikan. Seminimalnya, jika tidak sedang melakukan apapun, jangan hanya diam, biasakan mulut atau hati ini melantunkan dzikir atau doa, sehingga pikiran tidak melayang ke mana-mana.

Hati-hati pula dalam bersikap, bertindak, berbicara dan berpikir. Sering saya mendengar cerita orang-orang, bagaimana sesuatu perbuatan, perkataan dan pikiran kita yang tidak baik langsung mendapat balasan seketika di sana. Maka sesuai amanat Mama juga, karena saya berangkat sama mas Yudha, harap ekstra hati-hati, karena suka ada ujian yang bikin bertengkar bagi pasangan.

Pertama kali ke masjid Nabawi

Kami menginap di hotel Mubarak al Masi. Usai masuk kamar, sholat subuh, beberes sebentar dan mandi, siap-siaplah kami berdua berangkat ke masjid Nabawi. Masih teringat jelas rasanya excited sekali mau berkunjung ke sana. Begitu sampai, Masya Allah, besar sekali masjidnya, dan banyak pintunya. Indah dan cantik dengan pelatarannya dan teduh dinaungi payung-payung khas masjid Nabawi. Tempat laki-laki dan perempuan terpisah. Mas Yudha mengantar saya menuju pintu 25 untuk jamaah perempuan. Sempat ada perasaan takut kalau saya akan tersesat sendirian di antara sekian banyaknya jamaah.

Begitu memasuki masjidnya, ternyata suasananya adem, tenang dan nyaman. Masih tergolong lengang. Banyak ibu2 dan mbak2 yang sedang sholat, mengaji ataupun berdzikir. Banyak juga anak2 yang sedang belajar mengaji yang dibimbing ustadzah. Saya sholat sunnah 2 rakaat di antara mereka. Tak sengaja air mata saya menetes kemudian bercucuran ketika sholat. Terharu saya bisa sampai ke sini. Menjejak kaki di masjid di mana hampir 1500 tahun yang lalu, Rasulullah tercinta berada di sini.

Saya kemudian penasaran untuk menjelajah lebih jauh lagi. Saya melihat arus orang menuju ke dalam. Saya ikuti hingga di suatu titik di mana banyak sekali orang duduk macam mengantri di sana. Ramainya bukan main. Yang saya duga itu adalah jalan menuju Raudhah. Sempat terpikir tidak terbayang saya jika harus menerobos masuk seorang diri ke sana diantara berjubelnya orang2 bertubuh besar. Saya pun kembali keluar. Janjian di depan gerbang nomor 15. Yang mana ternyata mas Yudha sudah menunggu dari tadi.

20170504_121225

Sholat fardhu berjamaah di masjid Nabawi

Di tanah suci, tidak ada lainnya yang kita tunggu-tunggu selain waktu sholat. Ya, karena itulah maksud dan tujuan orang yang berkunjung kemari semestinya. Sholat di masjid Nabawi sangatlah istimewa, karena lebih baik dari 1000 sholat di masjid lainnya (kecuali Masjidil Haram). Kalau sehari kita sholat 5 waktu, berarti ini 1x sholat di sini lebih baik daripada sholat 5 waktu selama 200 hari di Indonesia. Masya Allah.

Tidak seperti kalau di rumah, yang mana baru ke masjid kalau habis adzan selesai, bahkan masih sempat jika berangkat saat mendengar iqomah dikumandangkan, di sini kita harus jauh2 waktu berangkat. Idealnya 1 jam sebelum adzan, supaya masih bisa milih tempat. Kalau setengah jam sebelumnya masjid sudah padat. Kalau berangkat sendirian masih bisalah nyempil2 di antara jamaah. Tapi saking padatnya, kadang saya kebagian di dalam tapi di tempat yang seharusnya menjadi jalan, beralaskan lantai yang dingin. Dan sempit2an sama sebelah2nya. Pernah juga kebagian di luar. Kalau siang, panasnya menyengat muka. Kalau malam dingin dan banyak angin.

Yang saya lakukan sambil menunggu waktu sholat di masjid yaitu baca Al Qur’an, dzikir, berdoa, sholat sunnah,  kadang menyapa sebelah saya. Yak, seringkali saya selama di sana ke mana2 saya sama mas Yudha saja berdua. Jadi kalau sholat terpisah jamaah ya saya sendirian saja, maksudnya gak ada teman yang kenal.

20170506_092959

Berkunjung ke Raudhah taman surga

Masih di hari pertama tiba di Madinah, terbayang suasana menuju Raudhah tadi pagi, saya sempat berbincang keinginan saya mengunjungi Raudhah sama mas Yudha. Jawabannya, boleh kalau ada temannya, kalau sendirian gak boleh. Wah, ini sama saja gak boleh berarti. Karena, jalan menuju ke Raudhah itu antara jamaah laki-laki dan perempuan terpisah. Maka, pilihannya saya mesti ke sana sama teman perempuan. Dari rombongan grup umroh kami yang 15 itu, perempuannya termasuk saya hanya 5 orang, yang mana 3 di antaranya sudah senior, hanya 1 yang seumuran dengan saya. Mbak Arfi namanya. Dia umroh bersama ibu dan bapaknya, yang mana ketika saya ajak dia gak mau kalau hanya berdua, gak mau kalau gak ada yang memandu karena konon ramai sekali, bisa berjubel, bisa rusuh, bisa terinjak2.. intinya khawatir dan atau takut karena belum pengalaman.

Mas Yudha menghibur saya, katanya, gak apa2 kalau gak sempat ke Raudhah, toh itu bukan tempat wajib yang menjadi rukun umroh.

Hingga tiba saatnya makan malam di hotel usai pulang dari sholat isya, sekitar jam 8an. Saya kembali bertemu dengan rombongan grup umroh kami. Ada kabar gembira bahwa malam ini jam 10 jamaah perempuan grup kami bisa ke Raudhah karena dari biro umroh kami sudah siapkan ustadzah yang bisa memandu kami menuju Raudhah.. Alhamdulillah.. jadi rencana kami akan berlima plus ustadzah menuju Raudhah.

Usai makan malam ko tiba2 satu per satu membatalkan ikut berangkat. Termasuk mbak Arfi. Alasannya, lelah dan mengantuk. Maklum saja, belum genap 24 jam kami tiba di Madinah, setelah perjalanan panjang. Tinggallah saya dan ibunya Faris. Sambil menunggu jam 10, kami pun masuk kamar dan janjian untuk turun ke loby jam 10. Tiba saatnya jam 10, lha ko, ibunya Faris membatalkan rencananya bergabung ke Raudhah malam ini, karena lelah dan mengantuk. Hingga tinggallah saya seorang diri turun ke loby menemui sang ustadzah.

Namanya aslinya Thayyibah. Tapi sekarang secara administrasi sudah berganti nama menjadi Maryam. Asli Madura. Sudah 10 tahun lebih tinggal di Saudi. Berganti nama karena sebelumnya dia pernah kerja secara ilegal di Saudi, hingga dipulangkan. Karena ingin datang kembali lagi itulah kemudian dia berganti nama. Anaknya baru 1, laki-laki berusia 10 tahun.

Beruntung saya bisa private berdua dengan beliau yang kelihatannya sudah biasa memandu jamaah ziarah seputar Madinah. Dia banyak bercerita macam2 tentang sejarah masjid Nabawi. Dia menunjukkan asal mula masjid dan ruang-ruang yang semula kecil, kemudian diperbesar dan perbesar. Di mana letak kamar Rasul dan Aisyah, rumah Fatimah.. sampai kebiasaan2 orang di sini.

Semakin malam Raudhah semakin ramai ternyata. Jauh lebih ramai dari pagi. Untuk laki2 Raudhah terbuka setiap saat. Tapi untuk perempuan ternyata hanya waktu2 tertentu. Yaitu pagi sekitar waktu dhuha, siang setelah dhuhur hingga ashar, dan malam selepas isya hingga sekitar jam 1 malam.

Oh ya ustadzah Maryam sempat menyayangkan kenapa saya memakai mukena, coraknya bunga2 pink pula. Dia sendiri mengenakan pakaian serba hitam, kemudian menutup wajahnya dengan cadar. Tujuannya, dia mau mengajak saya menyelinap di antara jubelan pengunjung. Iya, kalau mau mengikuti antrian, panjang dan ramainya bukan main. Bisa berjam2. Ada jalur khusus untuk yang pakai kursi roda juga. Lalu ada antrian orang2 berbadan besar dan tinggi, macam orang Timur Tengah dan Afrika. Saya melihat ibu2 askar yang sibuk berteriak mengatur orang2.

Ustadzah Maryam meminta saya untuk mengikutinya, sambil menggandeng lengan saya. Tapi kalau semisal ditegur askar kalau saya menyelinap (karena mukena saya yang eye catching), kami terpaksa ikut antrian. Jadi dia mengamati askar2 tersebut, jika mereka tidak memperhatikan ke arah kami, kami menerobos masuk di antara jubelan antrian orang2. Ya, karena cuma berdua, kami bisa cepat menyelinap dan tiba2 saja saya sudah menginjak karpet hijau tanda saya sudah memasuki taman surga.

Sebagaimana sabda Rasulullah: ‘Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman surga.’(HR Al Bukhari & Muslim).

Masya Allah. Maka tidak heran ramainya orang2 berdesak2an masuk ke taman berukuran 22m x 15m tersebut, yang merupakan tempat yang mustajab untuk berdoa. Hingga ada yang sholat dan dilangkah2i. Orang dorong2an berebutan ingin masuk untuk sholat dan berdoa. Ustadzah Maryam langsung menarik tangan saya menuju bagian depan, dan menyuruh saya segera sholat. Ide bagus, karena bagian kepala jika sujud dekat dengan pembatas, jika sholat di sana kepala tidak akan terinjak atau dilangkahi orang. Saya pun sholat 2 rakaat, berdoa, dan menyatakan selesai.. tapi ustadzah menyuruh saya sholat lagi.. sampai akhirnya saya sholat 4 atau 6 rakaat ya saya ko lupa.. maaf karena ceritanya sudah beberapa bulan yang lalu. Enam sih seingat saya. Dua rakaat tahiyyatul masjid, 2 rakaat sholat hajat, 2 rakaat sholat istikharah. Terharu juga saya sampai meneteskan air mata pas sholat.

Apa yang saya minta..? Ada deh, banyak.. hehehe.

Alhamdulillah relatif lancar. Jadi sementara saya sholat, ustadzah Maryam jagain di belakang saya. Ketika orang2 mendorong2 mau berebut tempat dan teriak2, dia langsung balik teriakin orang itu (orang Arab kalau ngomong memang kencang2.. mungkin bukan marah juga sih, ngomong biasa). Saya gak tau apa perkataannya karena pakai bahasa Arab. Mungkin orang2 minta gantian, terus ustadzah Maryam bilang tunggu bentar dong sabar, ada yang lagi sholat nih.. gitu kali ya, kira2.. gak tau deng, wallahualam. Saya juga gak konfirmasi tadi dia ngomong apa.

Kurang dari 1 jam sejak keluar kamar, saya sudah sampai kembali lagi ke kamar hotel. Cukup cepat. Lagi2 mungkin karena kami berdua, jadi relatif bisa jalan cepat dan gampang menyelinap. Saya sangat bersyukur dikaruniai kemudahan mencapai Raudhah, karena tadi paginya saya sempat pesimis bisa masuk ke sana.

Ziarah kota Madinah

Hari berikutnya jadwal kami keliling Madinah. Ziarah ke masjid Quba. Sempat sholat 2 rakaat di sana. Terus ke masjid Qiblatain dan pemakaman Baqi, tapi hanya lewat saja, kemudian ke kebun kurma.

Berkunjung juga kami ke bukit Uhud. Tempat peristiwa perang Uhud terjadi, yaitu perang antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy. Pasukan Islam yang semula berjumlah 1000 orang, berkurang 300 orang (yang merupakan kaum munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay) sehingga menjadi 700 orang, yang dipimpin oleh Rasulullah SAW, sedangkan pasukan kafir Quraisy berjumlah 3000 orang dipimpin oleh Abu Sufyan.

20170505_133605

Kisah ini tertulis dalam al Qur’an di surat Al Imran di antaranya pada ayat 140.

‘Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.’

Iya jadi sekitar setahun sebelumnya, pada perang Badar, tentara Islam menang melawan tentara Quraisy yang jumlahnya jauh lebih besar.

Hikmah yang bisa dipetik, tertulis jelas di Al Qur’an bahwa kejayaan dan kehancuran merupakan ujian, yang memang Allah pergilirkan di antara manusia, supaya kita bisa mengambil pelajaran, dan untuk menguji keimanan kita.

Perjalanan ke Mekah untuk umroh

Keesokan paginya, kami masih sempat berkunjung ke areal masjid Nabawi bersama rombongan grub. Kemudian mengantri menuju pameran Asmaul Husna dan Sejarah Rasulullah. Banyak pelajaran yang bisa diambil. Inginnnya baca2 yang terdisplay di pameran untuk berusaha memahami, dan meresapi. Apa daya waktunya terbatas, sehingga saya hanya sempat foto2 pada bagian pameran yang menarik. Niatnya sih ingin baca di kemudian waktu. Betapa Maha Agung-nya Allah SWT. Dan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW.

Siangnya setelah sholat dhuhur dan makan siang, kami siap2 check out dari hotel untuk mengambil miqot di Bir Ali. Di sana dipersilakan turun yang mau ke toilet. Saya menunggu di bis, untuk kemudian bersama2 kami melafalkan niat dengan dibimbing muthowif.

Perjalanan menuju Mekkah cukup panjang. Di dalam bis kami lantunkan bacaan talbiyah berulang-ulang, sambil mata memandang ke luar jendela, melihat ke kanan dan kiri. Ya Allah, masya Allah.. Kau ciptakan negeri ini begitu tandusnya.. Sejauh mata memandang sebagian besar berupakan tanah berbatu dan pasir. Gunungnya pun berbatu dan tandus. Panasnya jangan ditanya. Kalau lihat begini, alangkah bersyukurnya saya hidup di negeri yang indah dan subur, lihat ke mana pun ada hijau pohon, daun, rumput, sawah, kebun..

Dan saya bayangkan jaman dahulu Rasulullah dan kaum muslimin menempuh perjalanan dari Mekah ke Madinah dengan berjalan kaki atau menunggang unta dalam suasana seperti ini.. Masih mending sekarang sudah ada jalan raya, dan beberapa bangunan untuk singgah.. dahulu seperti apa sulitnya..

20170510_151356

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s